alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Rancang Proyek Kereta Api dan Bandara Bali Utara, Koster Sebut…

DENPASAR – Ambisi besar Gubernur I Wayan Koster membangun infrastruktur di Bali, tampaknya, tidak bisa dicegah.

Diluar proyek shortcut yang akan dimulai tahun 2018 ini, Gubernur Koster juga berencana membangun kereta api lingkar Bali.

Bahkan, Gubernur Koster mengaku sudah bertemu dengan pemerintah pusat Selasa (4/9) lalu. Program kereta api listrik itu akan dipresentasikan dalam waktu dekat.

Sama hal dengan program kereta api listrik, rencana pembangunan bandara internasional juga sudah tiga kali digodok.

Koster mengaku sudah bertemu dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 10, 27 Agustus, dan 4 September lalu.

Dirinya menyebut ada kesamaan persepsi terkait kebutuhan bandara baru di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Baca Juga:  WALHI Bali Mendadak Minta Surat Koster ke Pelindo III, Ini Alasannya…

Pengembangan Bandara Ngurah Rai, jelasnya hanya meliputi perpanjangan runway, apron (parkir), dan terminal.

Skenario pembangunan runway Ngurah Rai baru tak bisa diwujudkan karena harus dibangun di laut lewat reklamasi jauh ke dalam dengan investasi Rp 25 triliun.

Karena skema pembiayaan, waktu pengerjaan, dan risiko yang tinggi, akhirnya diputuskan pindah ke Bali Utara.

“Sudah positif ini. Tinggal kita menyamakan persepsi dalam beberapa hal,” paparnya. Sementara itu, pembangunan infrastruktur terkait air akan diawali pembuatan masterplan kebutuhan air di Bali.

 



DENPASAR – Ambisi besar Gubernur I Wayan Koster membangun infrastruktur di Bali, tampaknya, tidak bisa dicegah.

Diluar proyek shortcut yang akan dimulai tahun 2018 ini, Gubernur Koster juga berencana membangun kereta api lingkar Bali.

Bahkan, Gubernur Koster mengaku sudah bertemu dengan pemerintah pusat Selasa (4/9) lalu. Program kereta api listrik itu akan dipresentasikan dalam waktu dekat.

Sama hal dengan program kereta api listrik, rencana pembangunan bandara internasional juga sudah tiga kali digodok.

Koster mengaku sudah bertemu dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 10, 27 Agustus, dan 4 September lalu.

Dirinya menyebut ada kesamaan persepsi terkait kebutuhan bandara baru di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Baca Juga:  Ikut Cari KRI 402 Secara Niskala, Rohaniawan Bali Gelar Mulang Pakelem

Pengembangan Bandara Ngurah Rai, jelasnya hanya meliputi perpanjangan runway, apron (parkir), dan terminal.

Skenario pembangunan runway Ngurah Rai baru tak bisa diwujudkan karena harus dibangun di laut lewat reklamasi jauh ke dalam dengan investasi Rp 25 triliun.

Karena skema pembiayaan, waktu pengerjaan, dan risiko yang tinggi, akhirnya diputuskan pindah ke Bali Utara.

“Sudah positif ini. Tinggal kita menyamakan persepsi dalam beberapa hal,” paparnya. Sementara itu, pembangunan infrastruktur terkait air akan diawali pembuatan masterplan kebutuhan air di Bali.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/