alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Pulihkan Terumbu Karang, Jadi Objek Wisata Alternatif Selain Dolphin

Tak ada kata telat bagi para pelaku pariwisata, pemandu wisata dan nelayan di Desa Kaliasem, Banjar untuk melestarikan terumbu karang yang berada wilayah pantai Lovina.

Kondisi terumbu karang yang rusak dan cukup memprihatinkan kini dilakukan pemulihan dengan menanam terumbu karang.

 

 

JULIADI, Banjar

PAGI buta sejumlah pelaku wisata, para penyelam (diver) di pantai Lovina, nelayan Desa Kaliasem anggota polisi Polsek Banjar dan penggiat lingkungan berkumpul di Spice Beach Club pinggir pantai Lovina, Singaraja.

Mereka datang membawa peralatan selam dan media transplantasi (mencangkok) terumbu karang yang nantinya akan dilakukan penanaman bibit terumbu karang pada kedalaman laut 5-7 meter.

Hal ini dilakukan untuk menyambut new normal yang mulai diberlakukan sejak Kamis (9/7) lalu.

Selain itu mereka pun akan melakukan pembersihan terumbu karang dari sampah-sampah plastik yang menempel pada media terumbu karang yang sebelumnya sudah ditanam dibawah laut.

Sebelum turun menyelam ke lokasi rumah terumbu karang yang di konservasi, pembersihan sampah plastik terlebih dahulu dilakukan di sepanjang pinggir pantai Lovina.

Baru sekitar pukul 10.00 pagi mereka turun ke laut. Berbagai peralatan untuk penanaman terumbu karang disiapkan mulai dari besi, karang dan palu dan peralatan lainnya.

Turut serta saat proses penanaman bibit terumbu adalah Kapolsek Banjar AKP Agus Dwi Wirawan.

Kadek Pendi Wirawan, pemerhati lingkungan Pantai Laut Lovina mengatakan, kerusakan terumbu karang di laut Lovina sangat memprihatinkan mencapai 30 sampai 40 persen saat ini.

Baca Juga:  Kabar Baik, Badung Cairkan Hibah Pariwisata Tahap II Rp 474 Miliar

Kerusakan terumbu karang lebih banyak oleh tangan manusia yang mencapai 80 persen. Berupa pembuangan sampah plastik, penggunaan potas saat memancing dan aktivitas manusia di laut lainnya.

Sisanya 20 persen karena faktor alam seperti gelombang atau arus laut. “Kondisi terumbu karang mengalami kerusakan sejak tahun 2016 lalu.

Setelah beberapa kali melakukan penyelaman dengan sejumlah peneliti dan pemerhati lingkungan,” ungkapnya.

Melihat kondisi seperti itu, dia dan sejumlah pemerhati lingkungan lainnya mulai melakukan rehabilitasi terumbu karang di Lovina sejak tahun 2019 lalu.

Hingga hari ini upaya penyelamatan terumbu karang Lovina terus berlanjut dengan dukungan dari berbagai pihak ditengah pandemi Covid-19.

“Sebelumnya tiga bulan yang lalu kami juga melakukan transplantasi terumbu karang dengan memasang sekitar 30 buah kaki spider berbentuk seperti kerangka laba-laba dengan ukuran 10×5 meter sebagai media,” ungkapnya.

Dia menyebut tidak hanya dengan metode transplantasi pihaknya lakukan untuk penanaman terumbu karang di Pantai Lovina.

Pihaknya juga mencoba dengan metode stick dengan bibit karang langsung ditempel dan ditancapkan ke dalam pasir.

Total ada sekitar 200 bibit karang yang sudah ditanam di laut lovina dengan luas areal konservasi 5 are.  

Baca Juga:  Semua Anak Panah Gibran

Kondisi terumbu karang di laut Lovina setelah dilakukan pemulihan meningkat sekitar 10-15 persen, namun masih kategori rendah.

Peningkatan ini akibat kondisi laut lovina yang mulai bersih dari sampah juga karena aktivitas di laut Lovina yang terhenti karena dampak pandemi Covid-19.

Selain itu mulai adanya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan di kawasan konservasi.  

“Kami juga saat ini lakukan fokus pemulihan terumbu karang pada kawasan sensitif area. Yakni kawasan yang biasanya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk diving dan snorkeling,” pungkasnya.

Sementara itu, pelaku pariwisata sekaligus owne Spice Beach Club Lovina Nyoman Arya Astawa mengatakan, aksi melakukan rehabilitasi terumbu adalah salah cara dari pelaku pariwisata, nelayan di Lovina dan aparat Polisi menyambut new normal.

Dia mengaku adanya perbaikan terumbu karang dengan melakukan konservasi di kawasan Lovina sehingga menjadi wisata alternatif nantinya.

Jadi nanti wisatawan yang datang ke Lovina tidak hanya melihat dolphin. Melainkan dapat menikmati keindahan terumbu karang Lovina.

“Upaya konservasi yang dilakukan oleh pelaku wisata, para penyelam di Lovina, nelayan desa dan Polsek Banjar ini sudah sangat luar biasanya.

Mudah-mudahan ini juga akan meningkat potensi wisata di Lovina. Sehingga memberikan dampak positif ditengah pandemi Covid-19,” tandasnya.(*)   

 

 



Tak ada kata telat bagi para pelaku pariwisata, pemandu wisata dan nelayan di Desa Kaliasem, Banjar untuk melestarikan terumbu karang yang berada wilayah pantai Lovina.

Kondisi terumbu karang yang rusak dan cukup memprihatinkan kini dilakukan pemulihan dengan menanam terumbu karang.

 

 

JULIADI, Banjar

PAGI buta sejumlah pelaku wisata, para penyelam (diver) di pantai Lovina, nelayan Desa Kaliasem anggota polisi Polsek Banjar dan penggiat lingkungan berkumpul di Spice Beach Club pinggir pantai Lovina, Singaraja.

Mereka datang membawa peralatan selam dan media transplantasi (mencangkok) terumbu karang yang nantinya akan dilakukan penanaman bibit terumbu karang pada kedalaman laut 5-7 meter.

Hal ini dilakukan untuk menyambut new normal yang mulai diberlakukan sejak Kamis (9/7) lalu.

Selain itu mereka pun akan melakukan pembersihan terumbu karang dari sampah-sampah plastik yang menempel pada media terumbu karang yang sebelumnya sudah ditanam dibawah laut.

Sebelum turun menyelam ke lokasi rumah terumbu karang yang di konservasi, pembersihan sampah plastik terlebih dahulu dilakukan di sepanjang pinggir pantai Lovina.

Baru sekitar pukul 10.00 pagi mereka turun ke laut. Berbagai peralatan untuk penanaman terumbu karang disiapkan mulai dari besi, karang dan palu dan peralatan lainnya.

Turut serta saat proses penanaman bibit terumbu adalah Kapolsek Banjar AKP Agus Dwi Wirawan.

Kadek Pendi Wirawan, pemerhati lingkungan Pantai Laut Lovina mengatakan, kerusakan terumbu karang di laut Lovina sangat memprihatinkan mencapai 30 sampai 40 persen saat ini.

Baca Juga:  Perketat Prokes, Satgas Enforce Pelototi Objek Wisata di Kintamani

Kerusakan terumbu karang lebih banyak oleh tangan manusia yang mencapai 80 persen. Berupa pembuangan sampah plastik, penggunaan potas saat memancing dan aktivitas manusia di laut lainnya.

Sisanya 20 persen karena faktor alam seperti gelombang atau arus laut. “Kondisi terumbu karang mengalami kerusakan sejak tahun 2016 lalu.

Setelah beberapa kali melakukan penyelaman dengan sejumlah peneliti dan pemerhati lingkungan,” ungkapnya.

Melihat kondisi seperti itu, dia dan sejumlah pemerhati lingkungan lainnya mulai melakukan rehabilitasi terumbu karang di Lovina sejak tahun 2019 lalu.

Hingga hari ini upaya penyelamatan terumbu karang Lovina terus berlanjut dengan dukungan dari berbagai pihak ditengah pandemi Covid-19.

“Sebelumnya tiga bulan yang lalu kami juga melakukan transplantasi terumbu karang dengan memasang sekitar 30 buah kaki spider berbentuk seperti kerangka laba-laba dengan ukuran 10×5 meter sebagai media,” ungkapnya.

Dia menyebut tidak hanya dengan metode transplantasi pihaknya lakukan untuk penanaman terumbu karang di Pantai Lovina.

Pihaknya juga mencoba dengan metode stick dengan bibit karang langsung ditempel dan ditancapkan ke dalam pasir.

Total ada sekitar 200 bibit karang yang sudah ditanam di laut lovina dengan luas areal konservasi 5 are.  

Baca Juga:  Imbas Pandemi dan Urgensi Indeks Pembangunan Manusia

Kondisi terumbu karang di laut Lovina setelah dilakukan pemulihan meningkat sekitar 10-15 persen, namun masih kategori rendah.

Peningkatan ini akibat kondisi laut lovina yang mulai bersih dari sampah juga karena aktivitas di laut Lovina yang terhenti karena dampak pandemi Covid-19.

Selain itu mulai adanya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan di kawasan konservasi.  

“Kami juga saat ini lakukan fokus pemulihan terumbu karang pada kawasan sensitif area. Yakni kawasan yang biasanya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk diving dan snorkeling,” pungkasnya.

Sementara itu, pelaku pariwisata sekaligus owne Spice Beach Club Lovina Nyoman Arya Astawa mengatakan, aksi melakukan rehabilitasi terumbu adalah salah cara dari pelaku pariwisata, nelayan di Lovina dan aparat Polisi menyambut new normal.

Dia mengaku adanya perbaikan terumbu karang dengan melakukan konservasi di kawasan Lovina sehingga menjadi wisata alternatif nantinya.

Jadi nanti wisatawan yang datang ke Lovina tidak hanya melihat dolphin. Melainkan dapat menikmati keindahan terumbu karang Lovina.

“Upaya konservasi yang dilakukan oleh pelaku wisata, para penyelam di Lovina, nelayan desa dan Polsek Banjar ini sudah sangat luar biasanya.

Mudah-mudahan ini juga akan meningkat potensi wisata di Lovina. Sehingga memberikan dampak positif ditengah pandemi Covid-19,” tandasnya.(*)   

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/