alexametrics
28.7 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Permak WC Jadi Kelas, Ke Sekolah Jalan Kaki Minim Tempuh Jarak 1,5 Km

Bali dikenal cukup maju dengan gemericik dolar imbas pesatnya industri pariwisata. Hal yang sama mestinya terjadi di Karangasem. Sayangnya, tidak seindah kenyataan.

 

WAYAN PUTRA, Amlapura

BALI saban tahun menjadi jujukan wisatawan dunia. Tahun ini Dispar Bali menargetkan angka 8 juta wsatawan mancanegara.

Sebagian wisatawan itu tentu saja berlibur ke Karangasem. Dolar pun mengalir menjadi pendapatan asli daerah (PAD).

Namun sayangnya, lezatnya kue pariwisata belum sepenuhnya dirasakan masyarakat yang berada di pelosok pedesaan.

Masih ada sebagian sekolah di Karangasem jauh dari kemajuan. Beberapa sekolah masih ada yang terpencil dan terisolir.

Salah satunya adalah SDN 7 Duda Timur di Dusun Batu Gede, Duda Timur, Selat, Karangasem. Wartawan Jawa Pos Radar Bali sempat mengunjungi sekolah ini beberapa waktu lalu.

Sekolah yang berdiri pada tahun 1984 tersebut benar-benar terpencil. Bayangkan saja, jalan menuju sekolah terdekat hanya jalan setepak sejauk 1,5 KM dari Dusun Juuk Legi.

Sekolah ini terletak di lereng bukit. Akses jalan menuju sekolah tidak memadai. Hanya jalan setepak.

Baca Juga:  Daring Tak Efektif, Ratusan Sekolah di Karangasem Siap Tatap Muka

Itupun sekarang sudah mulai rusak karena jalan beton dengan lebar sekitar 50 cm tersebut banyak yang sudah rusak. Ada juga yang tertimun longsor kecil kecil sehingga licin.

Kiri kanan jalan jurang yang cukup dalam. Salah sedikit saja bisa terperosok. Nyawa pun bisa hilang sewaktu-waktu. Menyeramkan.

Kalau musim hujan lebih bahaya lagi karena jalan licin. Tenaga pendidik yang mengajar di SDN 1 Duda Timur yang membawa sepeda motor tidak semuanya berani membawa kendaraan sampai ke sekolah.

Beberapa guru perempuan terpaksa menaruh kendaraanya di kebun warga dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju sekolah.

Sebenarnya ada jalan satunya lagi dari jalur selatan. Hanya saja jalan setapak dari jalur selatan ini jauh lebih ekstrim.

Selain sempit, jalan dari selatan sangat menanjak. Sepeda motor tidak berani naik karena kalau tidak kuat bisa mundur dan masuk jurang.

Pernah ada guru olahraga yang memaksa menggunakan motor KLX lewat jalur selatan. Tiba – tiba di tengah jalan motornya tidak kuat sehingga dia jatuhkan motor tersebut agar tidak terperosok.

Baca Juga:  Ayah Ibu Cerai, Dirawat Sang Nenek, Jualan Es Kelapa untuk Sekolah

Sang guru kemudian memanggil murid muridnya untuk mendorong motor tersebut ramai – ramai.

Kepala Sekolah SDN 7 Duda Timur Nengah Artini membenarkan kondisi sekekolahnya yang berada di daerah pelosok dan sulit diakses.

Menurutnya, sekolahnya sebenarnya sangat nyaman. Udaranya segar karena ada di puncak bukit. Hanya saja jalan menuju sekolah masih jalan setepak dan sempit di tepi jurang.

“Sekolah kami hanya punya tiga ruangan utama. Namun belakangan ini disekat sekat jadi enam kelas untuk memenuhi kebutuhan kelas,” kata Artini.

Bahkan, WC pun di permak dijadikan kelas. Sehingga kelas jadi memanjang mirip lorong yakni 3 kali 7 meter.

Beruntung, sekarang sudah ada WC baru. Saat ini ada 81 siswa di sekolah ini. Lahan sekolah sendiri luasnya 800 meter persegi masih milik warga dengan status hak guna pakai.

“Hanya saja pihak pemilik tanah tidak mempersoalkan dan mempersilakan mempergunakan dulu lahan ini,” bebernya.



Bali dikenal cukup maju dengan gemericik dolar imbas pesatnya industri pariwisata. Hal yang sama mestinya terjadi di Karangasem. Sayangnya, tidak seindah kenyataan.

 

WAYAN PUTRA, Amlapura

BALI saban tahun menjadi jujukan wisatawan dunia. Tahun ini Dispar Bali menargetkan angka 8 juta wsatawan mancanegara.

Sebagian wisatawan itu tentu saja berlibur ke Karangasem. Dolar pun mengalir menjadi pendapatan asli daerah (PAD).

Namun sayangnya, lezatnya kue pariwisata belum sepenuhnya dirasakan masyarakat yang berada di pelosok pedesaan.

Masih ada sebagian sekolah di Karangasem jauh dari kemajuan. Beberapa sekolah masih ada yang terpencil dan terisolir.

Salah satunya adalah SDN 7 Duda Timur di Dusun Batu Gede, Duda Timur, Selat, Karangasem. Wartawan Jawa Pos Radar Bali sempat mengunjungi sekolah ini beberapa waktu lalu.

Sekolah yang berdiri pada tahun 1984 tersebut benar-benar terpencil. Bayangkan saja, jalan menuju sekolah terdekat hanya jalan setepak sejauk 1,5 KM dari Dusun Juuk Legi.

Sekolah ini terletak di lereng bukit. Akses jalan menuju sekolah tidak memadai. Hanya jalan setepak.

Baca Juga:  Bagi Sayur Gratis, Singgung JRX SID, Bobby: Semangatnya Terus Mengalir

Itupun sekarang sudah mulai rusak karena jalan beton dengan lebar sekitar 50 cm tersebut banyak yang sudah rusak. Ada juga yang tertimun longsor kecil kecil sehingga licin.

Kiri kanan jalan jurang yang cukup dalam. Salah sedikit saja bisa terperosok. Nyawa pun bisa hilang sewaktu-waktu. Menyeramkan.

Kalau musim hujan lebih bahaya lagi karena jalan licin. Tenaga pendidik yang mengajar di SDN 1 Duda Timur yang membawa sepeda motor tidak semuanya berani membawa kendaraan sampai ke sekolah.

Beberapa guru perempuan terpaksa menaruh kendaraanya di kebun warga dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju sekolah.

Sebenarnya ada jalan satunya lagi dari jalur selatan. Hanya saja jalan setapak dari jalur selatan ini jauh lebih ekstrim.

Selain sempit, jalan dari selatan sangat menanjak. Sepeda motor tidak berani naik karena kalau tidak kuat bisa mundur dan masuk jurang.

Pernah ada guru olahraga yang memaksa menggunakan motor KLX lewat jalur selatan. Tiba – tiba di tengah jalan motornya tidak kuat sehingga dia jatuhkan motor tersebut agar tidak terperosok.

Baca Juga:  Sekali Lagi…Kader Harap "Tommy" Sudikerta Tunduk Keputusan Partai

Sang guru kemudian memanggil murid muridnya untuk mendorong motor tersebut ramai – ramai.

Kepala Sekolah SDN 7 Duda Timur Nengah Artini membenarkan kondisi sekekolahnya yang berada di daerah pelosok dan sulit diakses.

Menurutnya, sekolahnya sebenarnya sangat nyaman. Udaranya segar karena ada di puncak bukit. Hanya saja jalan menuju sekolah masih jalan setepak dan sempit di tepi jurang.

“Sekolah kami hanya punya tiga ruangan utama. Namun belakangan ini disekat sekat jadi enam kelas untuk memenuhi kebutuhan kelas,” kata Artini.

Bahkan, WC pun di permak dijadikan kelas. Sehingga kelas jadi memanjang mirip lorong yakni 3 kali 7 meter.

Beruntung, sekarang sudah ada WC baru. Saat ini ada 81 siswa di sekolah ini. Lahan sekolah sendiri luasnya 800 meter persegi masih milik warga dengan status hak guna pakai.

“Hanya saja pihak pemilik tanah tidak mempersoalkan dan mempersilakan mempergunakan dulu lahan ini,” bebernya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/