alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Problem Stunting dan Dilema Ibu Hamil di Tengah Pandemi Covid-19

DENPASAR – Kehamilan merupakan anugerah yang harus disyukuri oleh para pasangan. Terlebih para pasangan muda yang baru saja melakukan pernikahan.

Namun, hamil saat masa pandemi Covid 19 seperti ini juga menjadi persoalan untuk perkembangan janin agar tumbuh optimal.

Untuk itu, pemerintah khususnya BKKBN mengimbau agar masyarakat atau para pasangan subur ini menunda kemahilan dahulu.

Sebagaimana yang disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Agus Proklamasi beberapa waktu lalu melalui rilis resminya yang diterima Radarbali.id.

“Kami tidak melarang, tapi kami mengimbau agar pasangan muda hendaknya menunda kehamilan di masa pandemi ini dengan mempertimbangkan berbagai resiko yang ada,” ujar Agus Proklamasi.

Di Bali sendiri, jumlah pasangan subur yang ada di Bali terbilang sangat tinggi, terlebih beberapa bulan sebelumnya banyak pasangan yang melakukan  pernikahan.

Data menyebut, sekitar 400 ribu pasangan baru yang ada di Bali, dan sebanyak 18.400 yang mengalami kehamilan.

Angka tersebut menurutnya sangat tinggi terlebih saat diberlakukannya work from home (WFH). Saat itu, terjadi peningkatan kehamilan sangat tinggi.

Menurutnya, terdapat beberapa resiko yang akan dialami ibu hamil di masa pandemi ini. Seperti, melakukan kontrol ke Puskesmas, bidan ataupun rumah sakit akan lebih sulit, karena penerapan protokol kesehatan.

Selain itu, pada saat kontrol akan ada pelayanan kesehatan yang meminta surat keterangan rapid test, di mana untuk mencari surat keterangan itu akan diperlukan biaya tambahan.

Di samping itu, yang lebih penting, menurutnya, adalah ibu hamil lebih rentan terpapar virus Covid-19 karena imunitas tubuh ibu hamil cenderung lebih lemah.

Apabila ibu hamil terpapar Covid-19, maka dampaknya akan juga dirasakan oleh calon bayi. Untuk itu, ia meminta agar bagi pasangan usia subur yang belum hamil untuk menunda kehamilan agar tidak berisiko.

Hal tersebut memang juga dirasakan Dewa Ayu Anom Desiningrum. Perempuan berumur 28 tahun asal Desa Manggir, Kabupaten Karangasem, Bali ini baru saja menikah dan saat ini sedang hamil dengan usia kandungan 36 minggu.

Ia mengaku hamil saat masa pandemi seperti ini tak mudah dilaluinya. “Lebih sulit, selain masalah ekonomi menurun karena efek pandemi,

kalau keluar rumah juga mesti extra jaga safety. Karena imun bumil (ibu hamil) lebih riskan,” ujar Dewa Ayu Anom Desiningrum pada Radarbali.id, Sabtu lalu (13/3).

Ia pun tak mengelak bahwa saat proses melahirkan nanti akan lebih rumit dibanding para ibu-ibu lainnya yang melahirkan sebelum pandemi.

Sebab, Dewa Ayu harus mengikuti protokol kesehatan saat proses melahirkan nanti. “Ya walaupun sudah diantisipasi dengan tes rapid tiap 2 minggu sebelum mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir),

tapi tetep khawatir juga kalau nanti hasil rapid reaktif misalnya karena bumilnya demam tapi bukan covid 19,” sebutnya.

Selain persoalan proses kelahiran nanti, setiap harinya Dewa Ayu juga harus menjaga janin yang ada diperutnya agar tetap sehat dan saat lahiran dengan selamat baik anak maupun Dewa Ayu sendiri.

Dewa Ayu mengaku selama hamil merasa porsi makannya menambah. Ia juga mengonsumsi susu khusus ibu hamil (bumil), beberapa vitamin dan suplemen yang diresepkan dokter  kandungan.

“Astungkara, walapun kesulitan ekonomi, tapi masih bersyukur kebutuhan ibu dan bayi terpenuhi. Cuma budget untuk belanja hal-hal yang cuma untuk kesenangan jadinya dikalahin dulu. Seperti makeup, nyalon, skincare,” ujarnya lantas tertawa.

Hal itu dia lakukan demi tumbuh kembang si janin. Sebab, ia sendiri juga merasa takut bila kelahiran bayinya lahir tak sempurna, misalnya karena kekurangan gisi. Seperti kasus stunting.

Iya, Dewa Ayu sendiri memang sempat mencari tahu tentang stunting. Stunting, merupakan tumbuh kembang fisik bayi yang terhambat karena kekurangan gizi.

Baca Juga:  Sosialisasi Gema Cermat, Dinkes Minta Apoteker Jadi Agent of Change

Dimana biasanya, tinggi badan anak tidak bertambah sesuai umurnya. “Sebenarnya saya belum terlalu banyak baca, karena kadang malah takut kalau baca artikel-artikel yang negatif gitu.

Jadi, lebih milih positif thinking. Dan, rutin kontrol, USG. Biar lebih jelas tahu tentang perkembangan janin dalam kandungan,” akunya.

Untuk itulah, dia mengaku sebulan sekali melakukan kontrol ke dokter kandungan dan karena sekarang masuk minggu mendekati HPL, kontrolnya sudah menjadi 2 minggu sekali.

Bahkan, nanti bakal jadi seminggu sekali semakin dekat HPL. Terpenting, saran Dewa Ayu terhadap para ibu yang sedang hamil saat masa pandemi Covid 19 seperti ini agar selalu berusaha menjaga diri agar tetap bersih baik di dalam rumah ataupun di luar rumah.

“Kalau orang Bali bilang “jangan campah (meremehkan)”. Rajin cuci tangan. Selalu mandi kalau habis kunjungan ke klinik kandungan atau baru datang dari luar,” sebutnya.

“Edukasi juga suami, karena percuma kita rajin jaga kesehatan, suaminya nggak support. Suami kan juga bisa jadi perantara virus kalau nggak sama jaga safety kaya istrinya,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya justru memberikan data yang cukup mengejutkan mengenai kondisi kasus kekurangan gizi yang menyebabkan Bali masih terbelengu dengan kasus stunting.

Menurut dr. Suarjaya, berdasar data tahun 2020 ada sebanyak 149,436 balita di Bali. Dari angka itu, 4,586 balita mengalami berat badan (BB) kurang, atau 3,1 persen.

Sedangkan, balita pendek ada sebanyak 9,083 balita atau 6,1 persen. Sementara balita yang mengalami kekurangan gizi ada sebanyak 3,162 balita atau 2,1 persen.

Dalam penjelasannya, gizi buruk merupakan masalah kekurangan gizi yang dapat terjadi pada situasi pandemi saat ini karena banyak kepala keluarga (KK) yang di rumahkan atau penghasilannnya berkurang.

Terutama untuk yang bekerja di sektor swasta, dimana sebagian besar masyarakat Bali bergelut di pariwisata.

“Saat ini banyak hotel, travel dan lain-lain tidak bisa beroperasi sehingga pendapatan berkurang yang mengakibatkan penyediaan pangan di tingkat rumah tangga juga berkurang,” aku dr. Suarjaya.

Disisi lain, posyandu juga tidak diperkenankan untuk melakukan penimbangan, terutama di daerah zone merah.

Akibatnya, asupan yang berkurang dalam kurun waktu hampir setahun, dan pemantaun pertumbuhan balita yang tidak optimal, kemungkinan besar balita yang menderita gizi kurang akan semakin rentan untuk menjadi gizi buruk.

Disamping juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti jamban sehat dan air bersih.  Atas sejumlah faktor tersebut, Pemerintah Provinsi Bali mengambil sejumlah langkah.

Salah satunya yakni dengan melakukan penetapan kabupaten locus stunting tahun 2018 berdasar hasil Riskesdas 2013.

Saat ini, telah ditetapkan Kabupaten Gianyar sebagai locus untuk Provinsi Bali dengan prevalensi stunting 2013.

Selanjutnya untuk tahun 2019 ditetapkan Kabupaten Buleleng. Penetapan tersebut berdasar data TNP2K dengan kriteria prevalensi stunting, jumlah balita stunting serta data kemiskinan.

Sedangkan berdasar Riskesadas tahun 2018, kondisi balita stunting di Kabupaten Gianyar sudah menurun.

Diketahui Kabupaten Gianyar sempat menyandang sebagai kabupaten locus stunting yang mencapai hingga 40,99 persen.

Saat ini sudah ditangani secara serius dengan melakukan sinergitas penanganan yang berkaitan dan bergandengan dari TP PKK kabupaten,

kecamatan hingga desa yang turun langsung mengawasi dan memberikan penanganan serta pembinaan terhadap warganya.

Dengan dilakukannya penanganan serius, pada tahun 2018 Kabupaten Gianyar mampu menurunkan prevalensi stunting menjadi 12,01 persen.

Hal ini berpacu dari tolak ukur target 14 persen pada tahun 2024 mendatang, jika dibandingkan secara nasional, Kabupaten Gianyar mampu menurunkan angka stunting hingga 6,4 persen.

Baca Juga:  Tenaga Kerja Asing Bejibun, Seharusnya Bisa Berbagi Pengetahuan

Pun bila melihat jumlah balita yang ada di Gianyar berdasar data 2020, tercatat ada sebanyak 25,766 balita dengan kasus kekurangan berat badan ada sebanyak 643 orang, balita pendek ada 1,223 dan kekurangan gizi ada sebanyak 503 balita.

Bila dibandingkan dengan Kabupaten Buleleng, jumlahnya ternyata jauh lebih banyak. Disebutkan, di Buleleng  ada sebanyak 28,688 balita,

mereka yang kekurangan berat badan ada sebanyak 1,064 balita, balita pendek ada 2,057 dan kekurangan gisi sebanyak 679 balita.

Pemerintah Provinsi Bali juga mengambil sejumlah langkah untuk pencengahan, terutama terkait stunting.

Yakni, dengan membangun komitmen dari lintas program dan lintas sektor melalui pelaksanaan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting di kabupaten/kota lokus.

Melakukan peningkatan akses pangan bergizi di masyarakat, melakukan pencegahan stunting dari hulu ke hilir dengan menyasar 1.000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) yaitu mulai dari remaja putri sampai balita.

Pihaknya juga melakukan peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak yang bermutu sesuai standar,

melakukan pemenuhan akses sanitasi  dan air minum layak,  dan peningkatan pemberdayaan masyarakat menuju perubahan perilaku sampai ke tingkat desa

Sedangkan untuk upaya agar stunting semakin menurun, pihaknya melakukan pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil, pemberian tablet tambah darah

kepada remaja putri usia 12 sampai dengan  18 tahun seminggu sekali satu tablet, termasuk memberikan pendidikan mengenai anak usia dini dan kepada calon pengantin.

Juga tak kalah penting pihaknya melakukan implementasi PAMSIMAS (Pengelolaan Air Minum dan sanitasi Berbasis Masyarakat) berupa pembangunan sarana air minum oleh kelompok kerja masyarakat dan pemenuhan sarana sanitasi.

Juga melakukan peningkatan akses sanitasi melalui memberdayaan masyarakat dengan tujuan merubah perilaku stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun (CTPS),

pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga  dan melakukan pengadaan alat cetak jamban (bekerja sama dengan TNI).

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengajak ibu-ibu hamil untuk turut serta meminimalkan angka stunting dengan cara menjaga bayi

sejak dalam kandungan hingga 5 tahun masa emas mereka dengan pola makan makanan yang sehat dan bergizi, beristirahat cukup serta menjaga kesehatan dan imun mereka, terlebih di masa pandemi.

“Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa seorang ibu hamil secara otomatis mengalami penurunan imun yang menyebabkan rentannya virus masuk ke dalam tubuh,

sehingga wanita yang sedang mengandung harus memiliki kewaspadaan yang lebih ekstra lagi dibanding wanita yang tidak hamil,” ujar Ny. Putri Suastini Koster di Kantor Bupati Gianyar, Selasa (9/3).

“Makanan yang sehat itu bukan makanan yang mewah dan siap saji, namun makanan sehat adalah makanan yang bergizi dilengkapi dengan vitamin,

karbohidrat, protein dan nabati yang lengkap. Untuk itu, mari kita gunakan masa pandemi ini untuk mulai mengolah makanan sendiri dengan tangan kita sendiri tanpa harus menggunakan

MSG (penyedap makanan) yang berlebihan, agar asupan yang masuk ke tubuh janin/ jabang bayi tidak terkontaminasi mononatrium glutamat yang berlebihan,” lanjutnya.

Menurut Ny Putri Koster, selain ibu hamil, anak-anak balita harus mendapat perhatian terkait tumbuh kembangnya agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas sebagai penerus bangsa.

“Juga para lansia  wajib mendapat perhatian yang lebih agar mendapatkan kesejahteraan hidup yang layak di masa tuanya.

Karena bagaimanapun para lansia adalah orangtua yang sejak awal sudah berjuang membesarkan dan memberikan penghidupan bagi kita semua anak-anak dan cucu-cucunya,” pungkasnya. 


DENPASAR – Kehamilan merupakan anugerah yang harus disyukuri oleh para pasangan. Terlebih para pasangan muda yang baru saja melakukan pernikahan.

Namun, hamil saat masa pandemi Covid 19 seperti ini juga menjadi persoalan untuk perkembangan janin agar tumbuh optimal.

Untuk itu, pemerintah khususnya BKKBN mengimbau agar masyarakat atau para pasangan subur ini menunda kemahilan dahulu.

Sebagaimana yang disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Agus Proklamasi beberapa waktu lalu melalui rilis resminya yang diterima Radarbali.id.

“Kami tidak melarang, tapi kami mengimbau agar pasangan muda hendaknya menunda kehamilan di masa pandemi ini dengan mempertimbangkan berbagai resiko yang ada,” ujar Agus Proklamasi.

Di Bali sendiri, jumlah pasangan subur yang ada di Bali terbilang sangat tinggi, terlebih beberapa bulan sebelumnya banyak pasangan yang melakukan  pernikahan.

Data menyebut, sekitar 400 ribu pasangan baru yang ada di Bali, dan sebanyak 18.400 yang mengalami kehamilan.

Angka tersebut menurutnya sangat tinggi terlebih saat diberlakukannya work from home (WFH). Saat itu, terjadi peningkatan kehamilan sangat tinggi.

Menurutnya, terdapat beberapa resiko yang akan dialami ibu hamil di masa pandemi ini. Seperti, melakukan kontrol ke Puskesmas, bidan ataupun rumah sakit akan lebih sulit, karena penerapan protokol kesehatan.

Selain itu, pada saat kontrol akan ada pelayanan kesehatan yang meminta surat keterangan rapid test, di mana untuk mencari surat keterangan itu akan diperlukan biaya tambahan.

Di samping itu, yang lebih penting, menurutnya, adalah ibu hamil lebih rentan terpapar virus Covid-19 karena imunitas tubuh ibu hamil cenderung lebih lemah.

Apabila ibu hamil terpapar Covid-19, maka dampaknya akan juga dirasakan oleh calon bayi. Untuk itu, ia meminta agar bagi pasangan usia subur yang belum hamil untuk menunda kehamilan agar tidak berisiko.

Hal tersebut memang juga dirasakan Dewa Ayu Anom Desiningrum. Perempuan berumur 28 tahun asal Desa Manggir, Kabupaten Karangasem, Bali ini baru saja menikah dan saat ini sedang hamil dengan usia kandungan 36 minggu.

Ia mengaku hamil saat masa pandemi seperti ini tak mudah dilaluinya. “Lebih sulit, selain masalah ekonomi menurun karena efek pandemi,

kalau keluar rumah juga mesti extra jaga safety. Karena imun bumil (ibu hamil) lebih riskan,” ujar Dewa Ayu Anom Desiningrum pada Radarbali.id, Sabtu lalu (13/3).

Ia pun tak mengelak bahwa saat proses melahirkan nanti akan lebih rumit dibanding para ibu-ibu lainnya yang melahirkan sebelum pandemi.

Sebab, Dewa Ayu harus mengikuti protokol kesehatan saat proses melahirkan nanti. “Ya walaupun sudah diantisipasi dengan tes rapid tiap 2 minggu sebelum mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir),

tapi tetep khawatir juga kalau nanti hasil rapid reaktif misalnya karena bumilnya demam tapi bukan covid 19,” sebutnya.

Selain persoalan proses kelahiran nanti, setiap harinya Dewa Ayu juga harus menjaga janin yang ada diperutnya agar tetap sehat dan saat lahiran dengan selamat baik anak maupun Dewa Ayu sendiri.

Dewa Ayu mengaku selama hamil merasa porsi makannya menambah. Ia juga mengonsumsi susu khusus ibu hamil (bumil), beberapa vitamin dan suplemen yang diresepkan dokter  kandungan.

“Astungkara, walapun kesulitan ekonomi, tapi masih bersyukur kebutuhan ibu dan bayi terpenuhi. Cuma budget untuk belanja hal-hal yang cuma untuk kesenangan jadinya dikalahin dulu. Seperti makeup, nyalon, skincare,” ujarnya lantas tertawa.

Hal itu dia lakukan demi tumbuh kembang si janin. Sebab, ia sendiri juga merasa takut bila kelahiran bayinya lahir tak sempurna, misalnya karena kekurangan gisi. Seperti kasus stunting.

Iya, Dewa Ayu sendiri memang sempat mencari tahu tentang stunting. Stunting, merupakan tumbuh kembang fisik bayi yang terhambat karena kekurangan gizi.

Baca Juga:  Stiker Kandidat Bertebaran di Taksi Online, Tim Mantra – Kerta Protes

Dimana biasanya, tinggi badan anak tidak bertambah sesuai umurnya. “Sebenarnya saya belum terlalu banyak baca, karena kadang malah takut kalau baca artikel-artikel yang negatif gitu.

Jadi, lebih milih positif thinking. Dan, rutin kontrol, USG. Biar lebih jelas tahu tentang perkembangan janin dalam kandungan,” akunya.

Untuk itulah, dia mengaku sebulan sekali melakukan kontrol ke dokter kandungan dan karena sekarang masuk minggu mendekati HPL, kontrolnya sudah menjadi 2 minggu sekali.

Bahkan, nanti bakal jadi seminggu sekali semakin dekat HPL. Terpenting, saran Dewa Ayu terhadap para ibu yang sedang hamil saat masa pandemi Covid 19 seperti ini agar selalu berusaha menjaga diri agar tetap bersih baik di dalam rumah ataupun di luar rumah.

“Kalau orang Bali bilang “jangan campah (meremehkan)”. Rajin cuci tangan. Selalu mandi kalau habis kunjungan ke klinik kandungan atau baru datang dari luar,” sebutnya.

“Edukasi juga suami, karena percuma kita rajin jaga kesehatan, suaminya nggak support. Suami kan juga bisa jadi perantara virus kalau nggak sama jaga safety kaya istrinya,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya justru memberikan data yang cukup mengejutkan mengenai kondisi kasus kekurangan gizi yang menyebabkan Bali masih terbelengu dengan kasus stunting.

Menurut dr. Suarjaya, berdasar data tahun 2020 ada sebanyak 149,436 balita di Bali. Dari angka itu, 4,586 balita mengalami berat badan (BB) kurang, atau 3,1 persen.

Sedangkan, balita pendek ada sebanyak 9,083 balita atau 6,1 persen. Sementara balita yang mengalami kekurangan gizi ada sebanyak 3,162 balita atau 2,1 persen.

Dalam penjelasannya, gizi buruk merupakan masalah kekurangan gizi yang dapat terjadi pada situasi pandemi saat ini karena banyak kepala keluarga (KK) yang di rumahkan atau penghasilannnya berkurang.

Terutama untuk yang bekerja di sektor swasta, dimana sebagian besar masyarakat Bali bergelut di pariwisata.

“Saat ini banyak hotel, travel dan lain-lain tidak bisa beroperasi sehingga pendapatan berkurang yang mengakibatkan penyediaan pangan di tingkat rumah tangga juga berkurang,” aku dr. Suarjaya.

Disisi lain, posyandu juga tidak diperkenankan untuk melakukan penimbangan, terutama di daerah zone merah.

Akibatnya, asupan yang berkurang dalam kurun waktu hampir setahun, dan pemantaun pertumbuhan balita yang tidak optimal, kemungkinan besar balita yang menderita gizi kurang akan semakin rentan untuk menjadi gizi buruk.

Disamping juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti jamban sehat dan air bersih.  Atas sejumlah faktor tersebut, Pemerintah Provinsi Bali mengambil sejumlah langkah.

Salah satunya yakni dengan melakukan penetapan kabupaten locus stunting tahun 2018 berdasar hasil Riskesdas 2013.

Saat ini, telah ditetapkan Kabupaten Gianyar sebagai locus untuk Provinsi Bali dengan prevalensi stunting 2013.

Selanjutnya untuk tahun 2019 ditetapkan Kabupaten Buleleng. Penetapan tersebut berdasar data TNP2K dengan kriteria prevalensi stunting, jumlah balita stunting serta data kemiskinan.

Sedangkan berdasar Riskesadas tahun 2018, kondisi balita stunting di Kabupaten Gianyar sudah menurun.

Diketahui Kabupaten Gianyar sempat menyandang sebagai kabupaten locus stunting yang mencapai hingga 40,99 persen.

Saat ini sudah ditangani secara serius dengan melakukan sinergitas penanganan yang berkaitan dan bergandengan dari TP PKK kabupaten,

kecamatan hingga desa yang turun langsung mengawasi dan memberikan penanganan serta pembinaan terhadap warganya.

Dengan dilakukannya penanganan serius, pada tahun 2018 Kabupaten Gianyar mampu menurunkan prevalensi stunting menjadi 12,01 persen.

Hal ini berpacu dari tolak ukur target 14 persen pada tahun 2024 mendatang, jika dibandingkan secara nasional, Kabupaten Gianyar mampu menurunkan angka stunting hingga 6,4 persen.

Baca Juga:  Gelar KMD Saka Bakti Husada, Ini Target Dinkes Provinsi Bali…

Pun bila melihat jumlah balita yang ada di Gianyar berdasar data 2020, tercatat ada sebanyak 25,766 balita dengan kasus kekurangan berat badan ada sebanyak 643 orang, balita pendek ada 1,223 dan kekurangan gizi ada sebanyak 503 balita.

Bila dibandingkan dengan Kabupaten Buleleng, jumlahnya ternyata jauh lebih banyak. Disebutkan, di Buleleng  ada sebanyak 28,688 balita,

mereka yang kekurangan berat badan ada sebanyak 1,064 balita, balita pendek ada 2,057 dan kekurangan gisi sebanyak 679 balita.

Pemerintah Provinsi Bali juga mengambil sejumlah langkah untuk pencengahan, terutama terkait stunting.

Yakni, dengan membangun komitmen dari lintas program dan lintas sektor melalui pelaksanaan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting di kabupaten/kota lokus.

Melakukan peningkatan akses pangan bergizi di masyarakat, melakukan pencegahan stunting dari hulu ke hilir dengan menyasar 1.000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) yaitu mulai dari remaja putri sampai balita.

Pihaknya juga melakukan peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak yang bermutu sesuai standar,

melakukan pemenuhan akses sanitasi  dan air minum layak,  dan peningkatan pemberdayaan masyarakat menuju perubahan perilaku sampai ke tingkat desa

Sedangkan untuk upaya agar stunting semakin menurun, pihaknya melakukan pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil, pemberian tablet tambah darah

kepada remaja putri usia 12 sampai dengan  18 tahun seminggu sekali satu tablet, termasuk memberikan pendidikan mengenai anak usia dini dan kepada calon pengantin.

Juga tak kalah penting pihaknya melakukan implementasi PAMSIMAS (Pengelolaan Air Minum dan sanitasi Berbasis Masyarakat) berupa pembangunan sarana air minum oleh kelompok kerja masyarakat dan pemenuhan sarana sanitasi.

Juga melakukan peningkatan akses sanitasi melalui memberdayaan masyarakat dengan tujuan merubah perilaku stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun (CTPS),

pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga  dan melakukan pengadaan alat cetak jamban (bekerja sama dengan TNI).

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengajak ibu-ibu hamil untuk turut serta meminimalkan angka stunting dengan cara menjaga bayi

sejak dalam kandungan hingga 5 tahun masa emas mereka dengan pola makan makanan yang sehat dan bergizi, beristirahat cukup serta menjaga kesehatan dan imun mereka, terlebih di masa pandemi.

“Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa seorang ibu hamil secara otomatis mengalami penurunan imun yang menyebabkan rentannya virus masuk ke dalam tubuh,

sehingga wanita yang sedang mengandung harus memiliki kewaspadaan yang lebih ekstra lagi dibanding wanita yang tidak hamil,” ujar Ny. Putri Suastini Koster di Kantor Bupati Gianyar, Selasa (9/3).

“Makanan yang sehat itu bukan makanan yang mewah dan siap saji, namun makanan sehat adalah makanan yang bergizi dilengkapi dengan vitamin,

karbohidrat, protein dan nabati yang lengkap. Untuk itu, mari kita gunakan masa pandemi ini untuk mulai mengolah makanan sendiri dengan tangan kita sendiri tanpa harus menggunakan

MSG (penyedap makanan) yang berlebihan, agar asupan yang masuk ke tubuh janin/ jabang bayi tidak terkontaminasi mononatrium glutamat yang berlebihan,” lanjutnya.

Menurut Ny Putri Koster, selain ibu hamil, anak-anak balita harus mendapat perhatian terkait tumbuh kembangnya agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas sebagai penerus bangsa.

“Juga para lansia  wajib mendapat perhatian yang lebih agar mendapatkan kesejahteraan hidup yang layak di masa tuanya.

Karena bagaimanapun para lansia adalah orangtua yang sejak awal sudah berjuang membesarkan dan memberikan penghidupan bagi kita semua anak-anak dan cucu-cucunya,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/