alexametrics
27.6 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Disambut Dangdut Koplo, Bahasa Bali-nya Dialek Buleleng

Ada dua Kampung Bali di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Satu di Hainan dan di Provinsi Fujian. Inilah sekelumit kehidupan warga Kampung Bali di Fujian.

 

M.RIDWAN-CANDRA GUPTA, Fujian

SETELAH menempuh perjalanan selama satu jam lebih dengan bus dari kota Xiamen, Tiongkok, rombongan delegasi media Bali disuguhi pemandangan unik begitu tiba Kampung Bali Nansan Quanshou, Provinsi Fujian, Tiongkok.

Sebuah halte tempat pemberhentian angkutan umum tertulis; Kampung Bali Nansan. Saat itu Jumat (4/5) suhu udara di Kampung Bali Nansan terasa sangat dingin.

Beberapa tokoh masyarakat Bali di Nansan sudah menunggu di depan Gapura Kampung Bali ini.

Sejenak terasa berada di Bali karena bahasa warga di Nansan hampir semuanya mahir bahasa Bali.

Lamat-lamat terdengar lirik lagu yang begitu familiar di telinga. “Manuke manuke cucak rowo. Cucak rowo dowo buntute. Buntute sing akeh wulune. Yen digoyang ser-ser aduh enake”.

Begitu penggalan lirik “Cucak Rowo” karya Didi Kempot yang dirilis ulang pedangdut Inul Daratista.

“Dangdut mule terkenal dini. Dingeh enak. (Musik dangdut memang terkenal di sini. Di dengar enak),” jawab Se Poh, 47, tokoh Kampung Bali Nansan.

Pak Se Poh mengaku buyutnya berasal dari Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng. “Nak tua we leng Temukus, Buleleng. Bek nu nyame-nyame we di Buleleng.

(Orang tua dari Temukus, Buleleng. Saudara-saudara masih banyak di Buleleng),” ungkap dia lagi dalam Bahasa Bali dialek Buleleng. 

Kampung Bali di Quanzhou berdiri sejak 1961. Kedatangan mereka kembali ke Tiongkok tak lepas dari Peraturan Pemerintah

No 10 Tahun 1959 di era Presiden Soekarno yang isinya melarang mereka berdagang di daerah-daerah di bawah tingkat kabupaten.

Baca Juga:  Gulangyu, Pulau Konsesi Imperialis yang Jadi Destinasi Wisata

Dan, wajib mengalihkan usaha kepada Warga Negara Indonesia dan menutup usahannya. Akibatnya, banyak warga Tiongkok yang sudah lama menetap di Indonesia kehilangan mata pencariannya.

Pemerintah Tiongkok pun mengirim kapal laut untuk membawa mereka kembali ke tanah asalnya.

Kenang Se Poh, orang tuanya pun memilih untuk kembali ke Tiongkok dengan menumpang kapal Uni Soviet (Rusia) yang berlabuh di Padangbai.

Sedangkan, saudara mereka yang lain ada juga memilih menetap di Indonesia dengan konsekuensi mengalihkan mata pencaharian. Halnya bertani, berladang, atau berkebun.

Dia mengaku, pertama kali menginjakkan kaki di tanah leluhur mereka, cobaan demi cobaan pun mereka harus hadapi.

Kesulitan pasokan makanan hingga berkelahi dengan warga lokal di Tiongkok. Terang dia, zaman dulu memang serba sulit.

Tapi, sekarang warga keturunan Tionghoa Bali yang ada di Tiongkok terbilang makmur. Selain itu, pemerintah RRT juga sangat peduli dengan kesejahteraan warganya.

Termasuk keturunan Tionghoa Bali. “Pemerintah dini luung ajan. Men soal pis, seng kuangan. (Pemerintah di sini baik sekali. Kalau soal uang, tidak kekurangan),” puji dia. 

Bahkan, sejak beberapa tahun belakangan ini. Kampung Bali di Fujian terus berbenah. Gapura stil Bali dibangun.

Warga yang tidak mampu mendapat apartemen murah. Bila benar-benar miskin, untuk hunian digratiskan.

Demikian, 600 kepala keluarga (KK) Tionghoa Bali yang ada di sana bisa dikatakan berkecukupan. Bahkan, generasi pertama banyak yang membuka toko.

Selain jadi pedagang, ada juga yang berprofesi sebagai dokter. Ambil contoh Tan Kwok Cin, 70, pensiunan dokter asal Pupuan.

Terang dia, saudaranya masih banyak ada di Bali. Sebab, saat berlayar kembali ke Tiongkok selama seminggu perjalanan.

Baca Juga:  Survei Kelar, PDIP “Sembunyikan” Paket Pilkada Klungkung

Masih banyak yang memilih menetap di Pulau Dewata. Di antara mereka ada yang tinggal di Buleleng, Badung, dan Denpasar. 

Tambah Cin, hanya generasi pertama dan kedua yang masih fasih berbahasa Bali. Dan, menggunakan bahasa Bali dengan dialek wilayah masing-masing saat berada di rumah.

Sedangkan, anak hingga cicit mereka sudah “lupa” dan total menggunakan Bahasa Tiongkok. “Panak we ngerti Bahasa Bali, tapi ngomong seng bise. (

Anak ngerti Bahasa Bali, tapi mengucapkan tidak bisa),” jelas pria yang masa pensiunnya diisi ngemong cucu dan mengelola toko kelontong. 

Di tempat yang sama Ketua Perhimpunan Perantau Tionghoa Bali, Chen Jin Hua menambahkan, pihaknya berencana membangun Taman Kebudayaan Adat Bali seluas 5 hektare.

Taman Kebudayaan yang dibuat menyerupai Bale Banjar dengan nuansa Kuta itu disokong penuh pemerintah setempat.

Dua juta Yuan sudah digelontor untuk tahap awal. Nantinya, Taman Kebudayan tersebut menjadi tempat krama Tionghoa Bali untuk berkesenian dan mempertahankan budaya leluhur mereka di Bali.

Bahkan, mereka akan memesan gamelan khas Bali berapa pun mau dibeli asal asli dari Bali. Terlebih, Kampung Bali di Fujian juga menjadi salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan.

“Ada saudara-saudara dari Bali yang pernah ke sini. Ini foto-fotonya,” rujuk dia dalam bahasa Tiongkok.

Salah satu wajah yang terpampang di foto terbilang familiar bagi penulis, yakni Wirawan Hadi yang tiada lain bos CSBI Bali.

Kendati mendapat suport dana dari pemerintah, untuk mengembangkan Kampung Bali. Pihaknya mengaku kesulitan untuk mendatangkan gamelan berikut pelatih menari dari Pulau Dewata. (*/bersambung)



Ada dua Kampung Bali di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Satu di Hainan dan di Provinsi Fujian. Inilah sekelumit kehidupan warga Kampung Bali di Fujian.

 

M.RIDWAN-CANDRA GUPTA, Fujian

SETELAH menempuh perjalanan selama satu jam lebih dengan bus dari kota Xiamen, Tiongkok, rombongan delegasi media Bali disuguhi pemandangan unik begitu tiba Kampung Bali Nansan Quanshou, Provinsi Fujian, Tiongkok.

Sebuah halte tempat pemberhentian angkutan umum tertulis; Kampung Bali Nansan. Saat itu Jumat (4/5) suhu udara di Kampung Bali Nansan terasa sangat dingin.

Beberapa tokoh masyarakat Bali di Nansan sudah menunggu di depan Gapura Kampung Bali ini.

Sejenak terasa berada di Bali karena bahasa warga di Nansan hampir semuanya mahir bahasa Bali.

Lamat-lamat terdengar lirik lagu yang begitu familiar di telinga. “Manuke manuke cucak rowo. Cucak rowo dowo buntute. Buntute sing akeh wulune. Yen digoyang ser-ser aduh enake”.

Begitu penggalan lirik “Cucak Rowo” karya Didi Kempot yang dirilis ulang pedangdut Inul Daratista.

“Dangdut mule terkenal dini. Dingeh enak. (Musik dangdut memang terkenal di sini. Di dengar enak),” jawab Se Poh, 47, tokoh Kampung Bali Nansan.

Pak Se Poh mengaku buyutnya berasal dari Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng. “Nak tua we leng Temukus, Buleleng. Bek nu nyame-nyame we di Buleleng.

(Orang tua dari Temukus, Buleleng. Saudara-saudara masih banyak di Buleleng),” ungkap dia lagi dalam Bahasa Bali dialek Buleleng. 

Kampung Bali di Quanzhou berdiri sejak 1961. Kedatangan mereka kembali ke Tiongkok tak lepas dari Peraturan Pemerintah

No 10 Tahun 1959 di era Presiden Soekarno yang isinya melarang mereka berdagang di daerah-daerah di bawah tingkat kabupaten.

Baca Juga:  Survei Kelar, PDIP “Sembunyikan” Paket Pilkada Klungkung

Dan, wajib mengalihkan usaha kepada Warga Negara Indonesia dan menutup usahannya. Akibatnya, banyak warga Tiongkok yang sudah lama menetap di Indonesia kehilangan mata pencariannya.

Pemerintah Tiongkok pun mengirim kapal laut untuk membawa mereka kembali ke tanah asalnya.

Kenang Se Poh, orang tuanya pun memilih untuk kembali ke Tiongkok dengan menumpang kapal Uni Soviet (Rusia) yang berlabuh di Padangbai.

Sedangkan, saudara mereka yang lain ada juga memilih menetap di Indonesia dengan konsekuensi mengalihkan mata pencaharian. Halnya bertani, berladang, atau berkebun.

Dia mengaku, pertama kali menginjakkan kaki di tanah leluhur mereka, cobaan demi cobaan pun mereka harus hadapi.

Kesulitan pasokan makanan hingga berkelahi dengan warga lokal di Tiongkok. Terang dia, zaman dulu memang serba sulit.

Tapi, sekarang warga keturunan Tionghoa Bali yang ada di Tiongkok terbilang makmur. Selain itu, pemerintah RRT juga sangat peduli dengan kesejahteraan warganya.

Termasuk keturunan Tionghoa Bali. “Pemerintah dini luung ajan. Men soal pis, seng kuangan. (Pemerintah di sini baik sekali. Kalau soal uang, tidak kekurangan),” puji dia. 

Bahkan, sejak beberapa tahun belakangan ini. Kampung Bali di Fujian terus berbenah. Gapura stil Bali dibangun.

Warga yang tidak mampu mendapat apartemen murah. Bila benar-benar miskin, untuk hunian digratiskan.

Demikian, 600 kepala keluarga (KK) Tionghoa Bali yang ada di sana bisa dikatakan berkecukupan. Bahkan, generasi pertama banyak yang membuka toko.

Selain jadi pedagang, ada juga yang berprofesi sebagai dokter. Ambil contoh Tan Kwok Cin, 70, pensiunan dokter asal Pupuan.

Terang dia, saudaranya masih banyak ada di Bali. Sebab, saat berlayar kembali ke Tiongkok selama seminggu perjalanan.

Baca Juga:  Gulangyu, Pulau Konsesi Imperialis yang Jadi Destinasi Wisata

Masih banyak yang memilih menetap di Pulau Dewata. Di antara mereka ada yang tinggal di Buleleng, Badung, dan Denpasar. 

Tambah Cin, hanya generasi pertama dan kedua yang masih fasih berbahasa Bali. Dan, menggunakan bahasa Bali dengan dialek wilayah masing-masing saat berada di rumah.

Sedangkan, anak hingga cicit mereka sudah “lupa” dan total menggunakan Bahasa Tiongkok. “Panak we ngerti Bahasa Bali, tapi ngomong seng bise. (

Anak ngerti Bahasa Bali, tapi mengucapkan tidak bisa),” jelas pria yang masa pensiunnya diisi ngemong cucu dan mengelola toko kelontong. 

Di tempat yang sama Ketua Perhimpunan Perantau Tionghoa Bali, Chen Jin Hua menambahkan, pihaknya berencana membangun Taman Kebudayaan Adat Bali seluas 5 hektare.

Taman Kebudayaan yang dibuat menyerupai Bale Banjar dengan nuansa Kuta itu disokong penuh pemerintah setempat.

Dua juta Yuan sudah digelontor untuk tahap awal. Nantinya, Taman Kebudayan tersebut menjadi tempat krama Tionghoa Bali untuk berkesenian dan mempertahankan budaya leluhur mereka di Bali.

Bahkan, mereka akan memesan gamelan khas Bali berapa pun mau dibeli asal asli dari Bali. Terlebih, Kampung Bali di Fujian juga menjadi salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan.

“Ada saudara-saudara dari Bali yang pernah ke sini. Ini foto-fotonya,” rujuk dia dalam bahasa Tiongkok.

Salah satu wajah yang terpampang di foto terbilang familiar bagi penulis, yakni Wirawan Hadi yang tiada lain bos CSBI Bali.

Kendati mendapat suport dana dari pemerintah, untuk mengembangkan Kampung Bali. Pihaknya mengaku kesulitan untuk mendatangkan gamelan berikut pelatih menari dari Pulau Dewata. (*/bersambung)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/