alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Sederhana, Tak Suka Dilayani Berlebihan, Minta Makan Sebelum Meninggal

Prosesi ngaben mantan Bupati Buleleng periode 1993-2002 Ketut Wirata Sindu akhirnya digelar kemarin. Ratusan krama adat Desa Banyuatis, kerabat, sahabat,

pejabat pemerintah dan keluarga hadir untuk mengantarkan jenazah almarhum ke tempat peristirahatan di Setra Banyuatis, Desa Banyuatis, Banjar.

 

JULIADI, Banyuatis

JALANAN menuju Setra Banyuatis kemarin terlihat lebih ramai dari biasanya. Warga terlihat ikut turun ke jalan mengantar jenazah eks Bupati Buleleng I Ketut Wirata Sindu ke setra setempat.

Dalam prosesi ritual pengabenan jasad mendiang langsung dinaikkan ke Bade yang sudah berdiri di pinggir jalan. Selanjutnya sekitar pukul 09.00 barulah dibawa setra.

Dalam upacara pengabenan tampak hadir Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan Wakil Bupati, dr. Nyoman Sutjidra bersama sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Buleleng.

Rasa duka masih terlihat pada keluarga mendiang mantan Bupati Buleleng era Orde Baru itu. Terutama dari istri mendiang Ni Luh Nyoman Masning, 70.

Ni Luh Nyoman Masning mengaku masih merasa kehilangan sosok pengayom di keluarganya. Mendiang sebelum berpulang Senin (7/10) lalu, sempat meminta bekal berupa makanan.

“Ya dia (almarhum) minta bekal makanan. Beliau minta pisang dan minta sayur. Padahal sebelumnya hampir sebulan beliau

Baca Juga:  Mega Wajibkan Koster – Ace Menang, Ancam Tak ke Bali jika Kalah

tidak mau makan saat bolak-balik di rawat rumah sakit,” kata istri mendiang mantan Bupati Buleleng saat ditemui di setra Banyutasi.

Selain itu sebelum almarhum meninggal juga meminta terus didampingi sang istri agar senantiasa dekat di sampingnya.

Semua cucu, anak, dipanggil agar tetap disamping mediang sebelum meninggal. Masning masih banyak kenangan tersimpan terlebih lagi mendiang saat menjabat sebagai Bupati Buleleng selama 9 tahun.

Menurutnya, almarhum sosok pemimpin yang sederhana dan dicintai rakyat kala itu. Sungguh sangat sederhana. Almarhum kera memberikan bantuan kepada warga.

“Seingat saya juga. Dulu pernah ada kejadian di Banjar, beliau ke sana (Banjar, Red) hanya menggunakan sandal saja dengan celana pendek. Selain itu mendiang kala memimpin Buleleng tidak suka dilayani berlebihan,” tuturnya.

Almarhum kini meninggalkan empat orang anak masing-masing Putu Umbara Sugiantara, Made Dwi Ning Ratnasari, Nyoman Diah Utari Dewi, dan Ketut Manggala Putra.

Almarhum meninggalkan tiga orang cucu tercintanya. Di sisi lain Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan sosok mantan Bupati Buleleng periode 1993-2002 Ketut Wirata Sindu soal kepiawaian dan keahlian mendiang dalam berkomunikasi.

Baca Juga:  Dibudidayakan dengan Cara Tumpang Sari, Target Tanam 1.000 Pohon

Khususnya gaya komunikasi yang digunakan ketika dekat dengan masyarakat.  “Bahkan, mendiang sangat disiplin, rajin, disiplin, humoris dan dicintai rakyat. Sehingga beliau tidak ada beban usai menjabat sebagai Bupati Buleleng kala itu,” ucapnya.  

Dituturkan Bupati Buleleng, bisa dibayangkan bagaimana Buleleng kala itu di zaman kepemimpinan mendiang masih sangat konservatif. Tapi, mampu menjaga situasi dan kondisi yang kondusif untuk keamanan di Buleleng.

“Sebagai tokoh yang satu desa, seringkali juga mendiang berpesan dan memberi masukan dan nasihat dalam memimpin Buleleng.

Mulai tata cara berkomuniasi, melakukan lobi-lobi politik dan pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat. Intinya saya banyak belajar terhadap beliau,” tuturnya.

Untuk diketahui, mantan Bupati Buleleng Ketut Wirata Sindu berpulang diusianya 77 tahun di RS Sanglah Denpasar.

Karir alamrhum mulai dari menjabat sebagai Kakanwil Penerangan Kabupaten Badung sekitar tahun 1975 selama sembilan tahun.

Berlanjut karirnya meningkat menjadi Kakanwil Penerangan Provinsi Bali dan mengabdi selama sembilan tahun sebagai Bupati Buleleng untuk periode 1993-2002. Selain itu mendiang juga mendirikan Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar sekitar tahun 1979. (*)

 



Prosesi ngaben mantan Bupati Buleleng periode 1993-2002 Ketut Wirata Sindu akhirnya digelar kemarin. Ratusan krama adat Desa Banyuatis, kerabat, sahabat,

pejabat pemerintah dan keluarga hadir untuk mengantarkan jenazah almarhum ke tempat peristirahatan di Setra Banyuatis, Desa Banyuatis, Banjar.

 

JULIADI, Banyuatis

JALANAN menuju Setra Banyuatis kemarin terlihat lebih ramai dari biasanya. Warga terlihat ikut turun ke jalan mengantar jenazah eks Bupati Buleleng I Ketut Wirata Sindu ke setra setempat.

Dalam prosesi ritual pengabenan jasad mendiang langsung dinaikkan ke Bade yang sudah berdiri di pinggir jalan. Selanjutnya sekitar pukul 09.00 barulah dibawa setra.

Dalam upacara pengabenan tampak hadir Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan Wakil Bupati, dr. Nyoman Sutjidra bersama sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Buleleng.

Rasa duka masih terlihat pada keluarga mendiang mantan Bupati Buleleng era Orde Baru itu. Terutama dari istri mendiang Ni Luh Nyoman Masning, 70.

Ni Luh Nyoman Masning mengaku masih merasa kehilangan sosok pengayom di keluarganya. Mendiang sebelum berpulang Senin (7/10) lalu, sempat meminta bekal berupa makanan.

“Ya dia (almarhum) minta bekal makanan. Beliau minta pisang dan minta sayur. Padahal sebelumnya hampir sebulan beliau

Baca Juga:  Mega Wajibkan Koster – Ace Menang, Ancam Tak ke Bali jika Kalah

tidak mau makan saat bolak-balik di rawat rumah sakit,” kata istri mendiang mantan Bupati Buleleng saat ditemui di setra Banyutasi.

Selain itu sebelum almarhum meninggal juga meminta terus didampingi sang istri agar senantiasa dekat di sampingnya.

Semua cucu, anak, dipanggil agar tetap disamping mediang sebelum meninggal. Masning masih banyak kenangan tersimpan terlebih lagi mendiang saat menjabat sebagai Bupati Buleleng selama 9 tahun.

Menurutnya, almarhum sosok pemimpin yang sederhana dan dicintai rakyat kala itu. Sungguh sangat sederhana. Almarhum kera memberikan bantuan kepada warga.

“Seingat saya juga. Dulu pernah ada kejadian di Banjar, beliau ke sana (Banjar, Red) hanya menggunakan sandal saja dengan celana pendek. Selain itu mendiang kala memimpin Buleleng tidak suka dilayani berlebihan,” tuturnya.

Almarhum kini meninggalkan empat orang anak masing-masing Putu Umbara Sugiantara, Made Dwi Ning Ratnasari, Nyoman Diah Utari Dewi, dan Ketut Manggala Putra.

Almarhum meninggalkan tiga orang cucu tercintanya. Di sisi lain Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan sosok mantan Bupati Buleleng periode 1993-2002 Ketut Wirata Sindu soal kepiawaian dan keahlian mendiang dalam berkomunikasi.

Baca Juga:  Punya Massa, Rawan Atmaja Kandidat Kuat Gantikan Suiasa

Khususnya gaya komunikasi yang digunakan ketika dekat dengan masyarakat.  “Bahkan, mendiang sangat disiplin, rajin, disiplin, humoris dan dicintai rakyat. Sehingga beliau tidak ada beban usai menjabat sebagai Bupati Buleleng kala itu,” ucapnya.  

Dituturkan Bupati Buleleng, bisa dibayangkan bagaimana Buleleng kala itu di zaman kepemimpinan mendiang masih sangat konservatif. Tapi, mampu menjaga situasi dan kondisi yang kondusif untuk keamanan di Buleleng.

“Sebagai tokoh yang satu desa, seringkali juga mendiang berpesan dan memberi masukan dan nasihat dalam memimpin Buleleng.

Mulai tata cara berkomuniasi, melakukan lobi-lobi politik dan pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat. Intinya saya banyak belajar terhadap beliau,” tuturnya.

Untuk diketahui, mantan Bupati Buleleng Ketut Wirata Sindu berpulang diusianya 77 tahun di RS Sanglah Denpasar.

Karir alamrhum mulai dari menjabat sebagai Kakanwil Penerangan Kabupaten Badung sekitar tahun 1975 selama sembilan tahun.

Berlanjut karirnya meningkat menjadi Kakanwil Penerangan Provinsi Bali dan mengabdi selama sembilan tahun sebagai Bupati Buleleng untuk periode 1993-2002. Selain itu mendiang juga mendirikan Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar sekitar tahun 1979. (*)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/