alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Tak Dapat Pasokan Air, Andalkan Hujan, Terpaksa Beralih Komoditi

Sejumlah petani di Klungkung tengah berduka. Air yang mereka butuhkan untuk bercocok tanam kini tidak bisa didapatkan.

Ini karena Sungai Unda yang merupakan sumber air sejumlah sawah di Kabupaten Klungkung mengandung lahar hujan yang berbahaya untuk sawah mereka.

 

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

SEBULAN terakhir keputusan pahit diambil Pemkab Klungkung. Aliran lahar hujan memaksa pemerintah setempat menutup saluran irigasi.

Langkah ini harus dilakukan untuk menyelamatkan areal persawahan warga Bumi Serombotan yang kena dampak aliran lahar hujan.

Salah seorang petani dari Subak Toya Cau, Gelgel, Wayan Gria saat ditemui ketika sedang menabur pupuk, Minggu (17/12) mengungkapkan, sejak lahar hujan mengalir di aliran Sungai Unda, Senin lalu (27/11), sawahnya sudah tidak lagi dialiri air.

Alhasil sawahnya yang sudah dibajak dan siap untuk ditanami bibit padi pun kini menganggur. Kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan ribu untuk 25 are lahan yang dia akan garap untuk padi ini.

“Rugi bibit dan upah traktor. Pemerintah sudah mengimbau untuk tidak menanam padi, tapi sudah terlambat karena saya sudah melakukan pembibitan dan sudah membajak sawah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Antisipasi “Penyusup” di Pemilu 2019, PGN Bali Sambangi Polda Bali

Untuk tetap bertahan hidup, dia mulai menanam pohon cabai dan mentimun yang tidak membutuhkan banyak air.

Air hujan merupakan satu-satunya sumber air untuk membasahi lahan pohon cabai dan mentimunnya tersebut.

“Tidak ada sumber air lagi. Jadi cuma berharap dari air hujan. Karena ada hujan makanya saya berani memberi pupuk sekarang (kemarin, red),” ujarnya.

Sayang hasil panen mentimun kali ini tidak maksimal. Seperti warna kulit mentimun yang kuning. Akibatnya, mentimun yang dia hasilkan dihargai murah. Bahkan, hasilnya tidak bisa untuk menutupi biaya produksi.

Meski begitu, saat ini ia tetap menanam pohon cabai dan mentimun karena hanya pertanian sumber penghidupan mereka. “Saya tidak punya keahlian apapun selain bertani. Jadi saya tetap bertani,” tandasnya.

Hal senada diungkap Wayan Darmi. Menurutnya, saat ini seharusnya bibit padi sudah ditanam. Namun karena tidak ada air, bibit-bibit itu tidak digunakan.

Dan, lahan-lahan yang sudah dibajak pun kini menganggur. Dia pun merugi Rp 350 ribu untuk per 15 are.

Baca Juga:  KPU Siapkan 688 APK, Caleg Dilarang Kampanye di Tempat Terlarang Ini…

“Kalau menanam komoditas lain juga butuh air. Mungkin saya tidak menanam apa-apa biar tidak rugi,” ungkap wanita berumur 62 tahun itu.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung IB Gde Juanida menjelaskan, sesuai hasil pendataan, sawah yang berpotensi mengalami tunda tanam mencapai ratusan hektare.

Rinciannya, untuk Kecamatan Dawan ada pada subak Sampalan Delod Margi dengan luas 47 hektare dan Gunaksa 110 hektare.

Selain itu ada pula di Kecamatan Klungkung, yakni Subak Toya Ehe seluas 51 hektare, Subak Selat 64 hektare dan Toya Cau 28 hektare.

“Subak ini sumber airnya dari Tukad Unda. Tapi, karena ada penutupan saluran irigasi, tanam padinya yang seharusnya berlangsung bulan ini berpotensi tertunda,” katanya.

Kondisi itu diyakini menyebabkan produksi beras turun. Namun demikian, jumlahnya diprediksi tidak banyak karena sawah pada subak lain masih bisa menanam padi sesuai musim.

“Kalau penurunan sudah pasti ada, tetapi tidak besar karena sawah di kecamatan lain masih teraliri air dan bisa penanaman,” sebutnya.



Sejumlah petani di Klungkung tengah berduka. Air yang mereka butuhkan untuk bercocok tanam kini tidak bisa didapatkan.

Ini karena Sungai Unda yang merupakan sumber air sejumlah sawah di Kabupaten Klungkung mengandung lahar hujan yang berbahaya untuk sawah mereka.

 

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

SEBULAN terakhir keputusan pahit diambil Pemkab Klungkung. Aliran lahar hujan memaksa pemerintah setempat menutup saluran irigasi.

Langkah ini harus dilakukan untuk menyelamatkan areal persawahan warga Bumi Serombotan yang kena dampak aliran lahar hujan.

Salah seorang petani dari Subak Toya Cau, Gelgel, Wayan Gria saat ditemui ketika sedang menabur pupuk, Minggu (17/12) mengungkapkan, sejak lahar hujan mengalir di aliran Sungai Unda, Senin lalu (27/11), sawahnya sudah tidak lagi dialiri air.

Alhasil sawahnya yang sudah dibajak dan siap untuk ditanami bibit padi pun kini menganggur. Kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan ribu untuk 25 are lahan yang dia akan garap untuk padi ini.

“Rugi bibit dan upah traktor. Pemerintah sudah mengimbau untuk tidak menanam padi, tapi sudah terlambat karena saya sudah melakukan pembibitan dan sudah membajak sawah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Terinsipirasi dari Penyakit Jantung Bocor, Konsumsi Rutin Bisa Sembuh

Untuk tetap bertahan hidup, dia mulai menanam pohon cabai dan mentimun yang tidak membutuhkan banyak air.

Air hujan merupakan satu-satunya sumber air untuk membasahi lahan pohon cabai dan mentimunnya tersebut.

“Tidak ada sumber air lagi. Jadi cuma berharap dari air hujan. Karena ada hujan makanya saya berani memberi pupuk sekarang (kemarin, red),” ujarnya.

Sayang hasil panen mentimun kali ini tidak maksimal. Seperti warna kulit mentimun yang kuning. Akibatnya, mentimun yang dia hasilkan dihargai murah. Bahkan, hasilnya tidak bisa untuk menutupi biaya produksi.

Meski begitu, saat ini ia tetap menanam pohon cabai dan mentimun karena hanya pertanian sumber penghidupan mereka. “Saya tidak punya keahlian apapun selain bertani. Jadi saya tetap bertani,” tandasnya.

Hal senada diungkap Wayan Darmi. Menurutnya, saat ini seharusnya bibit padi sudah ditanam. Namun karena tidak ada air, bibit-bibit itu tidak digunakan.

Dan, lahan-lahan yang sudah dibajak pun kini menganggur. Dia pun merugi Rp 350 ribu untuk per 15 are.

Baca Juga:  Paket Wisata Edukasi Jadi Daya Tarik Paksebali Saat Pandemi

“Kalau menanam komoditas lain juga butuh air. Mungkin saya tidak menanam apa-apa biar tidak rugi,” ungkap wanita berumur 62 tahun itu.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung IB Gde Juanida menjelaskan, sesuai hasil pendataan, sawah yang berpotensi mengalami tunda tanam mencapai ratusan hektare.

Rinciannya, untuk Kecamatan Dawan ada pada subak Sampalan Delod Margi dengan luas 47 hektare dan Gunaksa 110 hektare.

Selain itu ada pula di Kecamatan Klungkung, yakni Subak Toya Ehe seluas 51 hektare, Subak Selat 64 hektare dan Toya Cau 28 hektare.

“Subak ini sumber airnya dari Tukad Unda. Tapi, karena ada penutupan saluran irigasi, tanam padinya yang seharusnya berlangsung bulan ini berpotensi tertunda,” katanya.

Kondisi itu diyakini menyebabkan produksi beras turun. Namun demikian, jumlahnya diprediksi tidak banyak karena sawah pada subak lain masih bisa menanam padi sesuai musim.

“Kalau penurunan sudah pasti ada, tetapi tidak besar karena sawah di kecamatan lain masih teraliri air dan bisa penanaman,” sebutnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/