alexametrics
25.3 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Ray Peni Luncurkan “Curhatan TKI”, Minta Tak Jauhi Pekerja Migran

Saat semua elemen perang melawan wabah Covid-19, terjadi insiden penolakan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang kampung ke Bali.

Kondisi ini membuat penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Ray Peni, merasa miris. Melalui sebuah tembang berjudul Curhatan TKI, Ray Peni minta masyarakat tidak menjauhi pekerja migran.

 

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

SEBET hatine, disube neked di Bali, mekejang timpale, ngejohin tiang. Care nak bise ngeleak. Curigaine tiang mulih ngabe penyakit.

(Pilu hati, saat tiba di Bali, semua teman, menjauhi saya. Seperti orang bisa berubah jadi leak. Dicurigai saya pulang bawa penyakit).

Lantunan lagu yang dibalut suara gitar bolong itu dinyanyikan penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Ray Peni.

Lagu itu mulai viral di media sosial sejak Kamis (16/4) lalu. Dalam lagu, termuat pesan dulu ketika tidak ada pandemi Covid-19, banyak yang minta parfum luar negeri, baju luar negeri.

Baca Juga:  Marak PHK, Klaim JHT di Buleleng Tembus Rp 3,6 M di Awal Bulan Juni

Kini, situasinya terbalik. Ray Peni yang dihubungi Jawa Pos Radar, mengaku merasa simpati kepada para pekerja migran.

Sehingga dia menuangkan karyanya dalam sebuah lagu. “Saya simpati saja. Kayak nyame (saudara, red) bisa Ngeleak saja, semua ngejohin,” ujarnya memetik kata dalam lirik lagunya.

Ray Peni mengaku membuat lagu itu karena mendengar curhatan temannya yang seorang pekerja migran Indonesia (PMI).

“Artinya mereka sudah ikut prosedur. Di luar negeri sebelum mereka ke Bali sudah dikarantina. Ketika sehat bisa pulang,” ujarnya.

Namun, kenyataan yang terjadi, banyak yang curiga jika PMI ini menambah deretan kasus positif Covid-19.

Ray Peni menegaskan, para PMI ketat menjalani protap kepulangan mereka ke Bali. “Protap sudah diikuti, kenapa ditolak? Dibilang bawa penyakit pulang. Mereka kan pembawa devisa,” jelasnya.

Baca Juga:  Daya Beli Turun, Budidaya Lele di Tabanan Teracam Bangkrut

Apabila memang PMI itu sakit, belum tentu terpapar Covid-19. “Kalau sakit, dikarantina. Jangan semua digitukan,” terangnya.

Lanjut dia, insiden di Karangasem yang menolak begitu membuatnya prihatin. “Mereka kan saudara kita. Jele melah nyame gelah (buruk dan baik saudara kepunyaan kita),” terangnya.

Melihat situasi itu, Ray Peni mengaku membuat lagu hanya sekitar 2 jam. “Rekaman (suara, red) nggak sampai 1 jam. Itu pakai gitar bolong saja,” pungkasnya.

Selain viral di media sosial, lagu Ray Peni ini juga digemari oleh para PMI asal Bali. Bahkan, ada PMI yang meng-cover lagu Ray Peni.

Itu karena liriknya pas seperti kehidupan mereka. Dulu banyak yang mendekati minta baju dan parfum. Kini, situasinya berbeda. (*)

 



Saat semua elemen perang melawan wabah Covid-19, terjadi insiden penolakan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang kampung ke Bali.

Kondisi ini membuat penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Ray Peni, merasa miris. Melalui sebuah tembang berjudul Curhatan TKI, Ray Peni minta masyarakat tidak menjauhi pekerja migran.

 

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

SEBET hatine, disube neked di Bali, mekejang timpale, ngejohin tiang. Care nak bise ngeleak. Curigaine tiang mulih ngabe penyakit.

(Pilu hati, saat tiba di Bali, semua teman, menjauhi saya. Seperti orang bisa berubah jadi leak. Dicurigai saya pulang bawa penyakit).

Lantunan lagu yang dibalut suara gitar bolong itu dinyanyikan penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Ray Peni.

Lagu itu mulai viral di media sosial sejak Kamis (16/4) lalu. Dalam lagu, termuat pesan dulu ketika tidak ada pandemi Covid-19, banyak yang minta parfum luar negeri, baju luar negeri.

Baca Juga:  Duh, Diminta Salurkan BLT Tahap II, Sejumlah Desa Pilih Lempar Handuk

Kini, situasinya terbalik. Ray Peni yang dihubungi Jawa Pos Radar, mengaku merasa simpati kepada para pekerja migran.

Sehingga dia menuangkan karyanya dalam sebuah lagu. “Saya simpati saja. Kayak nyame (saudara, red) bisa Ngeleak saja, semua ngejohin,” ujarnya memetik kata dalam lirik lagunya.

Ray Peni mengaku membuat lagu itu karena mendengar curhatan temannya yang seorang pekerja migran Indonesia (PMI).

“Artinya mereka sudah ikut prosedur. Di luar negeri sebelum mereka ke Bali sudah dikarantina. Ketika sehat bisa pulang,” ujarnya.

Namun, kenyataan yang terjadi, banyak yang curiga jika PMI ini menambah deretan kasus positif Covid-19.

Ray Peni menegaskan, para PMI ketat menjalani protap kepulangan mereka ke Bali. “Protap sudah diikuti, kenapa ditolak? Dibilang bawa penyakit pulang. Mereka kan pembawa devisa,” jelasnya.

Baca Juga:  Marak PHK, Klaim JHT di Buleleng Tembus Rp 3,6 M di Awal Bulan Juni

Apabila memang PMI itu sakit, belum tentu terpapar Covid-19. “Kalau sakit, dikarantina. Jangan semua digitukan,” terangnya.

Lanjut dia, insiden di Karangasem yang menolak begitu membuatnya prihatin. “Mereka kan saudara kita. Jele melah nyame gelah (buruk dan baik saudara kepunyaan kita),” terangnya.

Melihat situasi itu, Ray Peni mengaku membuat lagu hanya sekitar 2 jam. “Rekaman (suara, red) nggak sampai 1 jam. Itu pakai gitar bolong saja,” pungkasnya.

Selain viral di media sosial, lagu Ray Peni ini juga digemari oleh para PMI asal Bali. Bahkan, ada PMI yang meng-cover lagu Ray Peni.

Itu karena liriknya pas seperti kehidupan mereka. Dulu banyak yang mendekati minta baju dan parfum. Kini, situasinya berbeda. (*)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/