alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Tak Bisa WFH, ASN Pol PP Dapat Kerjaan Tambahan, Jalani Sepenuh Hati

Saat pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), ada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah (Work From Home/WFH). Tapi, banyak juga yang kerja di lapangan.

Tak terkecuali dengan ASN Satpol PP Badung. Pada masa pandemi ini mereka tetap bekerja di lapangan.  Bahkan juga mendapat sejumlah pekerjaan tambahan. Seperti apa?

 

 

MADE DWIJA PUTRA, Mangupura

SUKA duka petugas Satpol PP di Badung sangat beragam. Di tengah pandemi ini, mereka mendapat kerja tambahan dan juga harus tetap bertugas di lapangan.

Beberapa  hal tambahan kerja saat pendemi Covid-19  mulai dari membina pelanggar pemakaian masker, membubarkan kerumunan,

mengatur jarak orang di rumah makan/restoran atau layanan kantor swasta/pemerintah, pasar, layanan kesehatan.

Selain itu juga  pemulangan orang-orang  yang mencuri kesempatan ke pantai, pemeriksaan identitas di batas kabupaten, terminal, masing-masing desa dan pelaporan yang disampaikan langsung atau media cetak/online. 

“Kalau suka duka kami di Satpol PP ya beragam lah. Tapi kami menikmati semua itu atau dibawa suka sajalah,” jelas Kasatpol PP Badung IGAK Suryanegara.

Baca Juga:  SAH! Pilgub Bali Tak Diminati Calon Independen

Ia mengakui rata-rata petugas di Satpol PP dapat tugas di lapangan. Artinya ketika ASN dominan  Work From Home (WFH), mereka tetap di lapangan.

Mereka sejatinya tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun dari pihak keluarga biasanya muncul kekhawatiran.

Sebab, mereka juga langsung bersentuhan dengan orang yang tidak dikenal atau tidak jelas latar belakangan, sering  bertugas di malam hari dan juga ke lokasi karantina.

“Makanya kalau sudah sampai di rumah, itu harus cuci tangan, mandi, keramas dan menjaga kebersihan seluruh tubuh,” beber birokrat asal Denpasar ini.

Dukanya, petugas Satpol PP tetap bekerja di lapangan, sedangkan ASN lainnya WFH tetapi haknya mereka sama.

“Banyak anak buah tanya, yang lain enak dari rumah, kita tetap di lapangan tapi penghasilan tetap sama,” jelasnya.

Instansi penegak perda ini dalam bekerja juga mengurangi upload kegiatannya di media sosial. Sebab ketika mereka bekerja dengan benar saja tetap ada saja orang yang sini, apalagi melanggar tentu ini menjadi masalah.

Baca Juga:  Bacaleg Rontok, NasDem Siap Sengketa dengan KPU Bali

“Kita bekerja tidak ada batas. Sebab laporan masyarakat 24 jam. Jadi, kita juga harus menjaga diri sendiri. Sebab keluhan warga harus cepat kita garap, ” ungkapnya.

Ia juga mengakui banyak hal yang  di lapangan. Seperti wisatawan ke pantai untuk bermain surfing itu masih saja ada.

Bahkan Minggu kemarin, petugas Satpol PP Badung menegur wisatawan yang bermain surfing di Pantai Berawa. Pihaknya tidak bisa memberikan sanksi dan hanya menyuruh pulang.  

Begitu juga toko yang berjualan lewat jam operasional yakni pukul 21.00 itu tetap dibina. Kecuali membandel,  pihaknya bisa menindak perizinannya. 

“Saat ini kita memaklumi orang melanggar karena kebutuhan perut. Contoh pedagang bermobil atau pedagang dadakan,

paling tidak mereka jangan sampai mengganggu di jalan raya, ya ikut aturan lah. Jadi kita harus membijaksanai, itu sekelumit suka dua duka kami, ”  bebernya.

Pihaknya juga akan mengusulkan petugas di lingkungan Satpol PP Badung turut di rapid test untuk memastikan kesehatan petugas tetap terjaga. (*)

 



Saat pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), ada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah (Work From Home/WFH). Tapi, banyak juga yang kerja di lapangan.

Tak terkecuali dengan ASN Satpol PP Badung. Pada masa pandemi ini mereka tetap bekerja di lapangan.  Bahkan juga mendapat sejumlah pekerjaan tambahan. Seperti apa?

 

 

MADE DWIJA PUTRA, Mangupura

SUKA duka petugas Satpol PP di Badung sangat beragam. Di tengah pandemi ini, mereka mendapat kerja tambahan dan juga harus tetap bertugas di lapangan.

Beberapa  hal tambahan kerja saat pendemi Covid-19  mulai dari membina pelanggar pemakaian masker, membubarkan kerumunan,

mengatur jarak orang di rumah makan/restoran atau layanan kantor swasta/pemerintah, pasar, layanan kesehatan.

Selain itu juga  pemulangan orang-orang  yang mencuri kesempatan ke pantai, pemeriksaan identitas di batas kabupaten, terminal, masing-masing desa dan pelaporan yang disampaikan langsung atau media cetak/online. 

“Kalau suka duka kami di Satpol PP ya beragam lah. Tapi kami menikmati semua itu atau dibawa suka sajalah,” jelas Kasatpol PP Badung IGAK Suryanegara.

Baca Juga:  Catat! Tanpa Takbiran, Salat Id Hanya Dibolehkan Digelar di Zona Hijau

Ia mengakui rata-rata petugas di Satpol PP dapat tugas di lapangan. Artinya ketika ASN dominan  Work From Home (WFH), mereka tetap di lapangan.

Mereka sejatinya tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun dari pihak keluarga biasanya muncul kekhawatiran.

Sebab, mereka juga langsung bersentuhan dengan orang yang tidak dikenal atau tidak jelas latar belakangan, sering  bertugas di malam hari dan juga ke lokasi karantina.

“Makanya kalau sudah sampai di rumah, itu harus cuci tangan, mandi, keramas dan menjaga kebersihan seluruh tubuh,” beber birokrat asal Denpasar ini.

Dukanya, petugas Satpol PP tetap bekerja di lapangan, sedangkan ASN lainnya WFH tetapi haknya mereka sama.

“Banyak anak buah tanya, yang lain enak dari rumah, kita tetap di lapangan tapi penghasilan tetap sama,” jelasnya.

Instansi penegak perda ini dalam bekerja juga mengurangi upload kegiatannya di media sosial. Sebab ketika mereka bekerja dengan benar saja tetap ada saja orang yang sini, apalagi melanggar tentu ini menjadi masalah.

Baca Juga:  Publik Mulai Abai, Dr Arya: Covid-19 Benar-benar Ada, Bukan Konspirasi

“Kita bekerja tidak ada batas. Sebab laporan masyarakat 24 jam. Jadi, kita juga harus menjaga diri sendiri. Sebab keluhan warga harus cepat kita garap, ” ungkapnya.

Ia juga mengakui banyak hal yang  di lapangan. Seperti wisatawan ke pantai untuk bermain surfing itu masih saja ada.

Bahkan Minggu kemarin, petugas Satpol PP Badung menegur wisatawan yang bermain surfing di Pantai Berawa. Pihaknya tidak bisa memberikan sanksi dan hanya menyuruh pulang.  

Begitu juga toko yang berjualan lewat jam operasional yakni pukul 21.00 itu tetap dibina. Kecuali membandel,  pihaknya bisa menindak perizinannya. 

“Saat ini kita memaklumi orang melanggar karena kebutuhan perut. Contoh pedagang bermobil atau pedagang dadakan,

paling tidak mereka jangan sampai mengganggu di jalan raya, ya ikut aturan lah. Jadi kita harus membijaksanai, itu sekelumit suka dua duka kami, ”  bebernya.

Pihaknya juga akan mengusulkan petugas di lingkungan Satpol PP Badung turut di rapid test untuk memastikan kesehatan petugas tetap terjaga. (*)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/