alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Tempat Penyimpanan Itu Ditaksir Berusia 2000 – 2.500 Tahun

Setelah diteliti Tim Balai Arkeologi Bali, benda kuno itu akhirnya terkuak. Tempat penyimpanan jenazah tersebut diperkirakan sudah berusia ribuan tahun.

 

JULIADI, Tabanan

TIM Balai Arkelogi Bali akhirnya melakukan penelitian khusus terhadap benda purbakala (sarkofagus) yang ditemukan warga di Banjar Pakuaji, Mundeh Kangin, Selemadeg Barat.

Pengkajian dan penelitian dilakukan dengan melibatkan tim Museum Purbakala Bali, NTB dan NTT dan Dinas Kebudayaan Tabanan, Jumat kemarin (20/6).

Barang kuno itu dengan panjang 1 meter, tinggi 60 centimeter, lebar bagian bawah 70 centimeter, lebar bagian atas 71 centimeter dan berdiameter 130 centimeter.

Kemudian beratnya sekitar 1 ton. Sempat membuat gempar warga desa. Pasalnya persepsi warga desa selalu berbau negatif dan mistis.  

Menurut peneliti Balai Arkeologi Bali, I Wayan Sarjana, setelah dilakukan penelitian benda purbakala tersebut dibuat antara 2.000 tahun sampai 2.500 tahun yang lalu.

Kegunaan benda purbakala tersebut pada zaman dulu sebagai tempat mayat atau berfungsi semacam peti mati.

Baca Juga:  Pakai Lirik Bahasa Bali Kasar, Dgo Ajak Masyarakat Tegar Hadapi Wabah

Pada zamannya sarkofagus ini digunakan untuk mengubur orang atau bangsawan. Bisa juga semacam kepala suku, tokoh masyarakat saat itu. Sehingga memiliki posisi penting dalam strata sosial masyarakat saat itu.

“Bentuk menyerupai perahu terbuat dari bebatuan tua. Terdiri dari dua bagian wadah dan penutup. 

Selain itu juga terdapat bagian yang berfungsi sebagai pegangan saat prosesi penguburan. Benda ini sebagai simbol kendaraan roh menuju surga,” terangnya.

Sarjana mengakui proses pembuatannya benda sakral tersebut memerlukan keahlian tingkat tinggi. Penemuan benda purbakala mengisyaratkan bahwa dulunya atau 2.000 tahun yang lalu.

Diperkirakan ada semacam komunitas atau sekelompok orang atau masyarakat zaman dulu, yang tinggal di desa ini. 

“Kami berencana membawa benda tersebut ke museum Purbakal Bali, NTB dan NTT. Namun, pihak desa menginginkan benda tersebut tetap ada di desa dan dijadikan cagar budaya,” tandasnya.

Baca Juga:  Situs Tamblang Berusia 9 Abad, Harap Tinggalan Sejarah Dipertahankan

Sementara itu Perbekel Desa Mundeh Kangin, I Wayan Sarba Wijaya,  mengatakan bahwa dengan ditemukan benda tersebut

dan sudah dilakukan penelitian oleh Balai Arkelogi Bali ini jadi kabar yang menggembirakan. Dia antusias dengan temuan itu.

Pihaknya berencana benda tersebut tetap berada di desanya. Menurutnya, benda tersebut sebagai cagar budaya dan bukti bahwa zaman dulu di desa Mundeh Kangin sudah ada kehidupan masyarakat.

“Kami berencana membuat museum kecil tempat penyimpanan benda purbakala tersebut. Siapa tahu ada masyarakat desa yang menemukan kembali benda purbakala. Sehingga itu kami kumpulkan di museum kecil nanti,” kata Sarba.

Pembangunan sebuah museum jelas membutuhkan dana. Namun pihaknya disarankan untuk mengajukan dana biaya pembuatan museum kepada pemerintah kabupaten.

Museum kecil tersebut harus berada lokasi yang strategis agar mudah dijangkau masyarakat luas.

“Kami segera akan bentuk panitia pembentukan museum Desa Mundeh Kangin. Mudah-mudah bisa direalisasikan secepatnya,” harapnya. 



Setelah diteliti Tim Balai Arkeologi Bali, benda kuno itu akhirnya terkuak. Tempat penyimpanan jenazah tersebut diperkirakan sudah berusia ribuan tahun.

 

JULIADI, Tabanan

TIM Balai Arkelogi Bali akhirnya melakukan penelitian khusus terhadap benda purbakala (sarkofagus) yang ditemukan warga di Banjar Pakuaji, Mundeh Kangin, Selemadeg Barat.

Pengkajian dan penelitian dilakukan dengan melibatkan tim Museum Purbakala Bali, NTB dan NTT dan Dinas Kebudayaan Tabanan, Jumat kemarin (20/6).

Barang kuno itu dengan panjang 1 meter, tinggi 60 centimeter, lebar bagian bawah 70 centimeter, lebar bagian atas 71 centimeter dan berdiameter 130 centimeter.

Kemudian beratnya sekitar 1 ton. Sempat membuat gempar warga desa. Pasalnya persepsi warga desa selalu berbau negatif dan mistis.  

Menurut peneliti Balai Arkeologi Bali, I Wayan Sarjana, setelah dilakukan penelitian benda purbakala tersebut dibuat antara 2.000 tahun sampai 2.500 tahun yang lalu.

Kegunaan benda purbakala tersebut pada zaman dulu sebagai tempat mayat atau berfungsi semacam peti mati.

Baca Juga:  Tulang & Bekal Kubur Hasil Galian Septic Tank Diduga Peninggalan Purba

Pada zamannya sarkofagus ini digunakan untuk mengubur orang atau bangsawan. Bisa juga semacam kepala suku, tokoh masyarakat saat itu. Sehingga memiliki posisi penting dalam strata sosial masyarakat saat itu.

“Bentuk menyerupai perahu terbuat dari bebatuan tua. Terdiri dari dua bagian wadah dan penutup. 

Selain itu juga terdapat bagian yang berfungsi sebagai pegangan saat prosesi penguburan. Benda ini sebagai simbol kendaraan roh menuju surga,” terangnya.

Sarjana mengakui proses pembuatannya benda sakral tersebut memerlukan keahlian tingkat tinggi. Penemuan benda purbakala mengisyaratkan bahwa dulunya atau 2.000 tahun yang lalu.

Diperkirakan ada semacam komunitas atau sekelompok orang atau masyarakat zaman dulu, yang tinggal di desa ini. 

“Kami berencana membawa benda tersebut ke museum Purbakal Bali, NTB dan NTT. Namun, pihak desa menginginkan benda tersebut tetap ada di desa dan dijadikan cagar budaya,” tandasnya.

Baca Juga:  Laku Tak Laku Tetap Berkarya, Bersyukur Orderan Datang Sendiri

Sementara itu Perbekel Desa Mundeh Kangin, I Wayan Sarba Wijaya,  mengatakan bahwa dengan ditemukan benda tersebut

dan sudah dilakukan penelitian oleh Balai Arkelogi Bali ini jadi kabar yang menggembirakan. Dia antusias dengan temuan itu.

Pihaknya berencana benda tersebut tetap berada di desanya. Menurutnya, benda tersebut sebagai cagar budaya dan bukti bahwa zaman dulu di desa Mundeh Kangin sudah ada kehidupan masyarakat.

“Kami berencana membuat museum kecil tempat penyimpanan benda purbakala tersebut. Siapa tahu ada masyarakat desa yang menemukan kembali benda purbakala. Sehingga itu kami kumpulkan di museum kecil nanti,” kata Sarba.

Pembangunan sebuah museum jelas membutuhkan dana. Namun pihaknya disarankan untuk mengajukan dana biaya pembuatan museum kepada pemerintah kabupaten.

Museum kecil tersebut harus berada lokasi yang strategis agar mudah dijangkau masyarakat luas.

“Kami segera akan bentuk panitia pembentukan museum Desa Mundeh Kangin. Mudah-mudah bisa direalisasikan secepatnya,” harapnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/