alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Sebelum Menari Selalu Minta Keselamatan dan Pantang Makan Sembarangan

Penggemar seniman tari calonarang berduka. Maestro tari rangda, I Wayan Rarem  dari Banjar Tengah, Peliatan, Ubud menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu pagi (22/1) pukul 10.00 Wita. Bagaimana kiprahnya dalam seni tari rangda?

I WAYAN WIDYANTARA, Gianyar

I WAYAN RAREM atau dikenal Pekak Rarem terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.

Kegemarannya dalam dunia tari tentu tak perlu diragukan lagi.

Dalam wawancaranya dalam sebuah video, Pekak Rarem bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai penari rangda.

Pekak Rarem menyebut mulai belajar tari randa pada tahun 1965.

Guru pertamanya dalam menari tari rangda adalah Ida Bagus dari Bona Gianyar.

Niat belajar menari begitu tinggi. Ia juga menyebut sering belajar gerak tari dari menonton saja, karena tak punya biaya untuk masuk sanggar.

Pekak Rarem terus mendalami ilmu tari rangda.

Ia juga mencari guru lain bernama I Made Jimat dari Batuan untuk belajar tari rangda.

Baca Juga:  Pangkas Rambut, Sisakan Nama Jokowi di Kepala, Siap Taruhan Istri

“Setelah itu saya masuk sanggar Ubud di sapta budaya. Saya juga pernah belajar di Sanggar Ngurah Artha di Banjar Badung,” ujar Pekak Rarem saat masih hidup.

Sudah cukup mahir dalam menari rangda, Pekak Rarem pun mulai ikut pentas dengan sejumlah sanggat tari.

Seperti Sanggar Tunjung, Sanggar Laplapan, Sanggar Gunung Sari, Sanggar Teges Jati dan lainnya.

“Saya menari rangda karena menyukai, bukan karena terpaksa,” tegasnya.

Lalu apa ritual dan pantangan Pekak Rarem sebelum menari rangda?

“Sebelum menari, saya selalu sembahyang, memohon keselamatan ke Ida Sesuhunan dan Bhatara Yang Guru di Sanggah yang ada di rumah,” jawab ayahan dari  I Wayan Sukra, yang juga sering menari di Calonarang sebagai Natah Gede ini. 

Nah ketika akan memundut (menarikan) Ida Sesuhunan, tentu juga meminta ijin dengan yang di pundut. Sedangkan untuk pantangan, Pekak Rarem tidak boleh makan sembarangan, seperti tataban, surudan, (bekas sesajen).

Baca Juga:  Ray Peni Luncurkan “Curhatan TKI”, Minta Tak Jauhi Pekerja Migran

Begitu menari rangda, bulu kuduk pun berdiri, badan terasa besar dan tidak merasakan apa-apa. “Kadang-kadang begitu, kadang juga tidak,” akunya.

Sebagai seorang maestro tari, Pekak Rarem pun juga memiliki rangda di rumah yang tapelnya dari kayu yang ada di Pura Dalem Puri. Biasanya, rangda milik Pekak Rarem ditarikan jika tidak ada Ida Sesuhunan yang tedun (ditarikan).

Kini, Pekak Rarem telah berpulang. Warga Peliatan kepada Jawa Pos Radar Bali menyebut Pekak Rarem meninggal karena sakit jantung dan juga ada komplikas ginjal.

Saat ini jenasah masih dititipkan di Rumah Sakit Ari Canti di Jalan Raya Mas Ubud, Gianyar.

 “Untuk pengabenan tanggal 2 karena di desa ada karya (upacara besar),” ujar warga yang enggan namannya dikorankan.



Penggemar seniman tari calonarang berduka. Maestro tari rangda, I Wayan Rarem  dari Banjar Tengah, Peliatan, Ubud menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu pagi (22/1) pukul 10.00 Wita. Bagaimana kiprahnya dalam seni tari rangda?

I WAYAN WIDYANTARA, Gianyar

I WAYAN RAREM atau dikenal Pekak Rarem terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.

Kegemarannya dalam dunia tari tentu tak perlu diragukan lagi.

Dalam wawancaranya dalam sebuah video, Pekak Rarem bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai penari rangda.

Pekak Rarem menyebut mulai belajar tari randa pada tahun 1965.

Guru pertamanya dalam menari tari rangda adalah Ida Bagus dari Bona Gianyar.

Niat belajar menari begitu tinggi. Ia juga menyebut sering belajar gerak tari dari menonton saja, karena tak punya biaya untuk masuk sanggar.

Pekak Rarem terus mendalami ilmu tari rangda.

Ia juga mencari guru lain bernama I Made Jimat dari Batuan untuk belajar tari rangda.

Baca Juga:  Perbekel Masuk Parpol, Wabup Minta Masyarakat Ikut Awasi

“Setelah itu saya masuk sanggar Ubud di sapta budaya. Saya juga pernah belajar di Sanggar Ngurah Artha di Banjar Badung,” ujar Pekak Rarem saat masih hidup.

Sudah cukup mahir dalam menari rangda, Pekak Rarem pun mulai ikut pentas dengan sejumlah sanggat tari.

Seperti Sanggar Tunjung, Sanggar Laplapan, Sanggar Gunung Sari, Sanggar Teges Jati dan lainnya.

“Saya menari rangda karena menyukai, bukan karena terpaksa,” tegasnya.

Lalu apa ritual dan pantangan Pekak Rarem sebelum menari rangda?

“Sebelum menari, saya selalu sembahyang, memohon keselamatan ke Ida Sesuhunan dan Bhatara Yang Guru di Sanggah yang ada di rumah,” jawab ayahan dari  I Wayan Sukra, yang juga sering menari di Calonarang sebagai Natah Gede ini. 

Nah ketika akan memundut (menarikan) Ida Sesuhunan, tentu juga meminta ijin dengan yang di pundut. Sedangkan untuk pantangan, Pekak Rarem tidak boleh makan sembarangan, seperti tataban, surudan, (bekas sesajen).

Baca Juga:  Pangkas Rambut, Sisakan Nama Jokowi di Kepala, Siap Taruhan Istri

Begitu menari rangda, bulu kuduk pun berdiri, badan terasa besar dan tidak merasakan apa-apa. “Kadang-kadang begitu, kadang juga tidak,” akunya.

Sebagai seorang maestro tari, Pekak Rarem pun juga memiliki rangda di rumah yang tapelnya dari kayu yang ada di Pura Dalem Puri. Biasanya, rangda milik Pekak Rarem ditarikan jika tidak ada Ida Sesuhunan yang tedun (ditarikan).

Kini, Pekak Rarem telah berpulang. Warga Peliatan kepada Jawa Pos Radar Bali menyebut Pekak Rarem meninggal karena sakit jantung dan juga ada komplikas ginjal.

Saat ini jenasah masih dititipkan di Rumah Sakit Ari Canti di Jalan Raya Mas Ubud, Gianyar.

 “Untuk pengabenan tanggal 2 karena di desa ada karya (upacara besar),” ujar warga yang enggan namannya dikorankan.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/