alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Terinspirasi Krisis Gunung Agung, Fungsinya Deteksi Dini Gas Beracun

Siswa di SMAN Bali Mandara (Smanbara) menemukan alat pendeteksi gas beracun gunung berapi. 

Alat pendeteksi  dengan nama SATPAM buatan siswa SMA itu juga telah diuji coba. Seperti apa?

EKA PRASETYA, Kubutambahan

MESKI bentuknya terlihat sangat sederhana dan mirip kandang burung merpati, siapa sangka bila alat berbentuk kubus buatan siswa Smanbara ini memiliki kegunaan luar biasa. 

Namanya SATPAM, tapi bukan singkatan dari Satuan Pengamanan. 

Melainkan nama SATPAM merupakan kependekan dari Smart Automatic Poison Vulcano Alarm. 

Alat ini selain telah diuji di kawasan Gunung Agung, dan cukup efektif sebagai deteksi dini paparan gas beracun.

Temuan ini juga mendapat apresiasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Baca Juga:  Kompetisi AHM Best Student 2021 Regional Bali, Cek 12 Jagoan Sekolahmu

Alat ini ditemukan oleh I Gede Feri Sandrawan, 17. 

Salah satu siswa kelas XII IPA 1 di SMAN Bali Mandara. 

Ini merupakan penemuan kedua Feri, sepanjang menempuh pendidikan di Smanbara.

Pembuatan alat tersebut terinspirasi dari krisis Gunung Agung yang terjadi sejak September 2017 lalu. 

Saat itu, Feri mengaku sangat gelisah dengan berita yang menyebutkan Gunung Agung menyemburkan gas beracun sulfur dioksida (SO2). 

Gas itu sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam hitungan menit. 

Bahayanya lagi, gas itu tak terlihat dengan mata telanjang.

“Gas beracun itu sangat rentan. Dalam kondisi tertentu, kecepatannya bisa melebihi kecepatan suara. 

Baca Juga:  Sah, KPU Tetapkan Dua Paslon Peserta Pilgub, Sayang Rai Mantra Absen

Saat gas muncul juga tidak bisa terlihat. 

Tahu-tahu sudah lemas karena menghirup gas itu,” jelas Feri.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, siswa asal Desa Tianyar itu memutuskan membuat alat pendeteksi. 

Ia mulai membuat sebuah prototype sejak 25 Maret dan baru selesai pada Senin (6/8) dua pekan lalu.

(bersambung)



Siswa di SMAN Bali Mandara (Smanbara) menemukan alat pendeteksi gas beracun gunung berapi. 

Alat pendeteksi  dengan nama SATPAM buatan siswa SMA itu juga telah diuji coba. Seperti apa?

EKA PRASETYA, Kubutambahan

MESKI bentuknya terlihat sangat sederhana dan mirip kandang burung merpati, siapa sangka bila alat berbentuk kubus buatan siswa Smanbara ini memiliki kegunaan luar biasa. 

Namanya SATPAM, tapi bukan singkatan dari Satuan Pengamanan. 

Melainkan nama SATPAM merupakan kependekan dari Smart Automatic Poison Vulcano Alarm. 

Alat ini selain telah diuji di kawasan Gunung Agung, dan cukup efektif sebagai deteksi dini paparan gas beracun.

Temuan ini juga mendapat apresiasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Baca Juga:  NGERI! Hasto Siapkan Sanksi Kepala Daerah “PDIP” yang Keok

Alat ini ditemukan oleh I Gede Feri Sandrawan, 17. 

Salah satu siswa kelas XII IPA 1 di SMAN Bali Mandara. 

Ini merupakan penemuan kedua Feri, sepanjang menempuh pendidikan di Smanbara.

Pembuatan alat tersebut terinspirasi dari krisis Gunung Agung yang terjadi sejak September 2017 lalu. 

Saat itu, Feri mengaku sangat gelisah dengan berita yang menyebutkan Gunung Agung menyemburkan gas beracun sulfur dioksida (SO2). 

Gas itu sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam hitungan menit. 

Bahayanya lagi, gas itu tak terlihat dengan mata telanjang.

“Gas beracun itu sangat rentan. Dalam kondisi tertentu, kecepatannya bisa melebihi kecepatan suara. 

Baca Juga:  Hindari Hal Buruk, Orang Tua Bayi Dilarang Pulang ke Rumah Tiga Bulan

Saat gas muncul juga tidak bisa terlihat. 

Tahu-tahu sudah lemas karena menghirup gas itu,” jelas Feri.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, siswa asal Desa Tianyar itu memutuskan membuat alat pendeteksi. 

Ia mulai membuat sebuah prototype sejak 25 Maret dan baru selesai pada Senin (6/8) dua pekan lalu.

(bersambung)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/