alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Mengapa Pak Yan Rajin Bicara Terapi Arak, Tapi Tidak Terapi Plasma?

JIKA kita mengetik kata kunci “Koster” dan “terapi arak” di kolom pencarian Google, kita akan disuguhkan banyak berita tentang ini. Gubernur Bali Wayan Koster sungguh rajin bicara tetapi arak untuk warga yang sedang terjangkit Covid-19.

Namun, bila kita melakukan hal yang sama dengan kata kunci “Koster” dan “terapi plasma konvalesen”, janganlah kita kecewa. Sebab, kita tak akan mendapatkan link berita yang menyebutkan Koster berbicara, apalagi menganjurkan soal donor plasma atau terapi plasma konvalesen (TPK) ini.

Memang ada pemberitaan tentang donor plasma dan TPK di Bali, tapi itu hanya dari kalangan Dinas Kesehatan, PMI, RSUP Sanglah, RS Unud, atau RSPAD dan Kodam XI/Udayana. Khusus Koster, saya tidak, atau belum menemukan berita bahwa ia berbicara, apalagi mempromosikan tentang itu.

Bagi saya, ini sungguh aneh. Meski itu nyata. Betapa tidak? Terapi arak, sebagaimana berita yang ramai di media massa, diklaim bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19. Itu pun pada pasien yang OTG alias orang tanpa gejala.

Secara logika, OTG itu bila dibiarkan saja akan sembuh sendiri. Hanya perlu isolasi dan pemantauan. Mungkin tak perlu terapi arak.

Memang sih, klaimnya, pasien OTG yang terapi arak akan lebih cepat sembuh. Entahlah. Sebab, “madat” arak ini, dan yang saya tahu, belum ada uji klinisnya. Ketika disangsikan khasiatnya, Pak Yan tetap membela dengan menyebut itu hak warga untuk meragukan terapi arak. Tapi dia tetap membela.

Berbeda dengan terapi plasma konvalesen. Dalam sejarahnya, TPK sudah pernah dilakukan pada pasien yang terjangkit virus. Bahkan, itu digunakan sudah cukup lama, sejak pandemi flu spanyol pada 1918, kemudian wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Dan saat wabah Covid-19 merebak di dunia, TPK juga diterapkan pada pasien Covid-19. TPK bagi pasien Covid-19 juga sudah melewati beberapa uji klinis di berbagai dunia. Dan di Indonesia.

Tidak itu saja. TPK, juga tergolong lebih ampuh dibandingkan terapi arak. Itu jika klaim bahwa terapi arak dapat membantu penyembuhan memang mengandung kebenaran ilmiah.

Bila terapi arak digunakan untuk OTG, TPK justru bisa, bahkan dianjurkan, untuk pasien yang dalam kondisi gejala berat. Artinya, pasien “kritis” pun dapat dibantu penyembuhannya melalui TPK.

Menurut berita, penggunaan terapi plasma konvalesen bisa menurunkan jumlah kematian sekitar 35 persen dari tingkat kematian Covid-19. Artinya ada 35 persen orang yang terselamatkan dari jumlah yang potensial meninggal dunia bila menggunakan terapi ini. Walau pun kita belum tahu, dalam konteks Indonesia atau Bali, berapa persen nyawa yang terselamatkan karena TPK ini atau seberapa efektif TPK membantu proses penyembuhan.

Pertanyaannya, mengapa Pak Yan Koster lebih rajin bicara terapi arak? Apakah karena terapi dengan cara menghirup uap arak memang dapat menyembuhkan, atau semata-mata mengandung kearifan lokal? Atau ini hanyalah gimmick semata? Entahlah, hanya Tuhan dan Pak Yan yang tahu.

Saya hanya berharap, Pak Yan tahu mana yang prioritas, dan mana yang perlu membutuhkan surat imbauan. Misalnya, Pak Yan mengambil kebijakan penting, yakni menerbitkan surat edaran agar para penyintas Covid-19 mau berdonor plasma konvalesen.

Tidak itu saja, Pak Yan juga bisa membuat kebijakan apakah pendonor plasma konvalesen itu perlu diberikan penghargaan, misalnya paket sembako, uang, atau lainnya. Ya, sebagai ucapan terima kasih, walau saya yakin, sebagian dari mereka tak mengharap itu. Mereka mungkin akan lebih berpikir bahwa sekantong plasma darah yang disumbangkan bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Dan itu selaras dengan ajaran agama, atau sila kedua Pancasila.

Soal dari mana anggarannya, Pak Yan tentu sudah lebih pintar dari saya. Apalagi, Pak Yan pernah bertahun-tahun sebagai Anggota Badan Anggaran DPR RI. Jika duit masih ada, ambilkan saja dari APBD. Kalau bisa, ambilkan dari anggaran pengobatan pasien Covid-19.

Toh anggarannya tak banyak. Taruhlah setiap pendonor diberikan paket sembako dan uang yang totalnya Rp500 ribu per orang. Jika ada 15.000 pendonor, itu hanya butuh Rp7,5 miliar. Kalau kata Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, CGT. Cenik gae to (kecil itu). Atau pakai istilah yang sering dipakai Pak Yan sendiri, “selesai itu barang.”

Jika terapi plasma konvalesen memang terbukti bisa menyembuhkan, mestinya, tidak sampai terjadi kekosongan stok di Bali. Sebab, sampai tanggal 22 Desember 2020, ada 15.133 orang yang sembuh dari Covid-19 di Bali. Itu sekitar 91,27 persen dari jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Bali.

Jumlah pasien yang sembuh tersebut bisa menjadi “modal” dalam penanganan Covid-19 di Bali, dengan harapan bisa meningkatkan jumlah pasien yang sembuh. Yakni mendukung treatment, satu dari 3T, dua “T” lainnya yakni tracing, testing. Sedangkan tracing dan testing untuk saat ini sudah lumayan ada peningkatan. Berita terakhir, testing sudah bisa 2000-an per hari.

Bukan itu saja, TPK juga bisa membuat kita lebih semangat dalam menjalani hidup di tengah pandemi Covid-19 ini. Setidaknya, dengan TPK, ketika vaksin belum tersedia, kita menjadi tak takut-takut amat terhadap Covid-19.

Maaf. Saya hanya warga yang berisik.

____

Yoyo Raharyo
Jurnalis di RadarBali.id



JIKA kita mengetik kata kunci “Koster” dan “terapi arak” di kolom pencarian Google, kita akan disuguhkan banyak berita tentang ini. Gubernur Bali Wayan Koster sungguh rajin bicara tetapi arak untuk warga yang sedang terjangkit Covid-19.

Namun, bila kita melakukan hal yang sama dengan kata kunci “Koster” dan “terapi plasma konvalesen”, janganlah kita kecewa. Sebab, kita tak akan mendapatkan link berita yang menyebutkan Koster berbicara, apalagi menganjurkan soal donor plasma atau terapi plasma konvalesen (TPK) ini.

Memang ada pemberitaan tentang donor plasma dan TPK di Bali, tapi itu hanya dari kalangan Dinas Kesehatan, PMI, RSUP Sanglah, RS Unud, atau RSPAD dan Kodam XI/Udayana. Khusus Koster, saya tidak, atau belum menemukan berita bahwa ia berbicara, apalagi mempromosikan tentang itu.

Bagi saya, ini sungguh aneh. Meski itu nyata. Betapa tidak? Terapi arak, sebagaimana berita yang ramai di media massa, diklaim bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19. Itu pun pada pasien yang OTG alias orang tanpa gejala.

Secara logika, OTG itu bila dibiarkan saja akan sembuh sendiri. Hanya perlu isolasi dan pemantauan. Mungkin tak perlu terapi arak.

Memang sih, klaimnya, pasien OTG yang terapi arak akan lebih cepat sembuh. Entahlah. Sebab, “madat” arak ini, dan yang saya tahu, belum ada uji klinisnya. Ketika disangsikan khasiatnya, Pak Yan tetap membela dengan menyebut itu hak warga untuk meragukan terapi arak. Tapi dia tetap membela.

Berbeda dengan terapi plasma konvalesen. Dalam sejarahnya, TPK sudah pernah dilakukan pada pasien yang terjangkit virus. Bahkan, itu digunakan sudah cukup lama, sejak pandemi flu spanyol pada 1918, kemudian wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Dan saat wabah Covid-19 merebak di dunia, TPK juga diterapkan pada pasien Covid-19. TPK bagi pasien Covid-19 juga sudah melewati beberapa uji klinis di berbagai dunia. Dan di Indonesia.

Tidak itu saja. TPK, juga tergolong lebih ampuh dibandingkan terapi arak. Itu jika klaim bahwa terapi arak dapat membantu penyembuhan memang mengandung kebenaran ilmiah.

Bila terapi arak digunakan untuk OTG, TPK justru bisa, bahkan dianjurkan, untuk pasien yang dalam kondisi gejala berat. Artinya, pasien “kritis” pun dapat dibantu penyembuhannya melalui TPK.

Menurut berita, penggunaan terapi plasma konvalesen bisa menurunkan jumlah kematian sekitar 35 persen dari tingkat kematian Covid-19. Artinya ada 35 persen orang yang terselamatkan dari jumlah yang potensial meninggal dunia bila menggunakan terapi ini. Walau pun kita belum tahu, dalam konteks Indonesia atau Bali, berapa persen nyawa yang terselamatkan karena TPK ini atau seberapa efektif TPK membantu proses penyembuhan.

Pertanyaannya, mengapa Pak Yan Koster lebih rajin bicara terapi arak? Apakah karena terapi dengan cara menghirup uap arak memang dapat menyembuhkan, atau semata-mata mengandung kearifan lokal? Atau ini hanyalah gimmick semata? Entahlah, hanya Tuhan dan Pak Yan yang tahu.

Saya hanya berharap, Pak Yan tahu mana yang prioritas, dan mana yang perlu membutuhkan surat imbauan. Misalnya, Pak Yan mengambil kebijakan penting, yakni menerbitkan surat edaran agar para penyintas Covid-19 mau berdonor plasma konvalesen.

Tidak itu saja, Pak Yan juga bisa membuat kebijakan apakah pendonor plasma konvalesen itu perlu diberikan penghargaan, misalnya paket sembako, uang, atau lainnya. Ya, sebagai ucapan terima kasih, walau saya yakin, sebagian dari mereka tak mengharap itu. Mereka mungkin akan lebih berpikir bahwa sekantong plasma darah yang disumbangkan bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Dan itu selaras dengan ajaran agama, atau sila kedua Pancasila.

Soal dari mana anggarannya, Pak Yan tentu sudah lebih pintar dari saya. Apalagi, Pak Yan pernah bertahun-tahun sebagai Anggota Badan Anggaran DPR RI. Jika duit masih ada, ambilkan saja dari APBD. Kalau bisa, ambilkan dari anggaran pengobatan pasien Covid-19.

Toh anggarannya tak banyak. Taruhlah setiap pendonor diberikan paket sembako dan uang yang totalnya Rp500 ribu per orang. Jika ada 15.000 pendonor, itu hanya butuh Rp7,5 miliar. Kalau kata Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, CGT. Cenik gae to (kecil itu). Atau pakai istilah yang sering dipakai Pak Yan sendiri, “selesai itu barang.”

Jika terapi plasma konvalesen memang terbukti bisa menyembuhkan, mestinya, tidak sampai terjadi kekosongan stok di Bali. Sebab, sampai tanggal 22 Desember 2020, ada 15.133 orang yang sembuh dari Covid-19 di Bali. Itu sekitar 91,27 persen dari jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Bali.

Jumlah pasien yang sembuh tersebut bisa menjadi “modal” dalam penanganan Covid-19 di Bali, dengan harapan bisa meningkatkan jumlah pasien yang sembuh. Yakni mendukung treatment, satu dari 3T, dua “T” lainnya yakni tracing, testing. Sedangkan tracing dan testing untuk saat ini sudah lumayan ada peningkatan. Berita terakhir, testing sudah bisa 2000-an per hari.

Bukan itu saja, TPK juga bisa membuat kita lebih semangat dalam menjalani hidup di tengah pandemi Covid-19 ini. Setidaknya, dengan TPK, ketika vaksin belum tersedia, kita menjadi tak takut-takut amat terhadap Covid-19.

Maaf. Saya hanya warga yang berisik.

____

Yoyo Raharyo
Jurnalis di RadarBali.id



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/