27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Jika Ferdy Sambo Divonis Mati, IPW: Sambo Disinyalir akan Bongkar Skandal Perwira Polri

ADA yang menarik dari pernyataan Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso. Sugeng mengatakan, jika mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Ferdy Sambo divonis hukuman mati, maka hal ini kemungkinan akan membuka tabir dugaan pelanggaran perwira Polri lainnya.

Seperti diketahui, Ferdy Sambo sejauh ini dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus dugaan pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Sugeng Teguh Santoso mengatakan, Ferdy Sambo tentu akan membuat perlawanan jika sampai divonis mati. Menurut Sugeng, Ferdy Sambo akan membuat perlawanan terhadap sejumlah petinggi Polri yang selama ini ikut memeriksa dirinya sampai ke pengadilan.

“Kalau Sambo mendapat ancaman hukuman mati, dia sedang memperjuangkan hidup dan matinya. Kalau dia mendapatkan ancaman hukuman mati, perlawanannya akan mengeras,” kata Sugeng dalam keterangannya, Selasa (24/1), dikutip dari JawaPos.com, (grup radarbali.id).

Sugeng mengakui, Ferdy Sambo saat berstatus anggota Polri merupakan perwira kepolisian yang disegani. Statusnya sebagai Kadivpropam Polri, lanjut Sugeng, telah membuat dirinya terkenal karena membongkar sejumlah kasus, terutama skandal yang melibatkan kepolisian.

Salah satu kasus yang ditangani Sambo terkait skandal tambang ilegal yang menyeret seorang perwira tinggi Polri. Sosok perwira yang dimaksud, kata Sugeng, terdapat dalam kesaksian tersangka kasus tambang ilegal Ismail Bolong, yakni Komjen Pol Agus Andrianto yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim).

Baca Juga:  CATAT! Hanura Belum Tentu Setujui Hasil Survei Golkar

Dalam kasus pembunuhan Brigadir J, Kabareskrim Agus turut ikut memeriksa Ferdy Sambo bersama para perwira tinggi lain, seperti Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono dan Kabaintelkam Komjen Pol Ahmad Dhofiri. Sebelum kasus pembunuhan Yosua mencuat, Ferdy Sambo pernah membongkar skandal tambang ilegal yang diduga melibatkan Agus Andrianto.

Sambo mendapatkan informasi perihal keterlibatan Agus melalui Ismail Bolong. Ismail diduga tiga kali menyerahkan uang secara langsung kepada Agus pada Oktober, November dan Desember 2021 senilai Rp 2 miliar per bulan.

Selain itu, Ismail Bolong juga disebut tiga kali mengguyurkan dana ke jajaran Bareskrim Polri, pada Oktober hingga Desember 2021 senilai Rp 3 miliar. “Dia mantan Kadiv Propam yang tugasnya sehari-hari adalah menindak anggota polisi, termasuk perwira-perwira tinggi yang melanggar, dia akan membuka itu habis-habisan,” papar Sugeng.

Meski demikian, Sugeng menyebut kecil kemungkinan Ferdy Sambo akan divonis mati. Sebab, adanya disparitas pemberian sanksi kepada empat terdakwa lainnya dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Keempat terdakwa lainnya yakni Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Putri Candrawathi, Ricky Rizal Wibowo, dan Kuat Ma’ruf. “Disparitas sanksi adalah pemberian sanksi yang berbeda dalam satu perkara yang sama, itu tidak boleh terlalu jauh,” ucap Sugeng.

Baca Juga:  Sarapan Saya: Menu Kuda

Sebelumnya, Ferdy Sambo dituntut hukuman pidana penjara seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU). Sambo diyakini bersalah dalam kasus dugaab pembunuhan Brigadir Yosua. “Menuntut supaya majelis hakim PN Jaksel yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan Terdakwa Ferdy Sambo terbukti bersalah melakukan dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,” kata jaksa membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa lalu (17/1/2023).

“Menjatuhkan pidana terhadap Ferdy Sambo dengan pidana penjara seumur hidup,” sambungnya.

Sambo diyakini melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sambo juga diyakini melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (jpg)

 



ADA yang menarik dari pernyataan Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso. Sugeng mengatakan, jika mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Ferdy Sambo divonis hukuman mati, maka hal ini kemungkinan akan membuka tabir dugaan pelanggaran perwira Polri lainnya.

Seperti diketahui, Ferdy Sambo sejauh ini dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus dugaan pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Sugeng Teguh Santoso mengatakan, Ferdy Sambo tentu akan membuat perlawanan jika sampai divonis mati. Menurut Sugeng, Ferdy Sambo akan membuat perlawanan terhadap sejumlah petinggi Polri yang selama ini ikut memeriksa dirinya sampai ke pengadilan.

“Kalau Sambo mendapat ancaman hukuman mati, dia sedang memperjuangkan hidup dan matinya. Kalau dia mendapatkan ancaman hukuman mati, perlawanannya akan mengeras,” kata Sugeng dalam keterangannya, Selasa (24/1), dikutip dari JawaPos.com, (grup radarbali.id).

Sugeng mengakui, Ferdy Sambo saat berstatus anggota Polri merupakan perwira kepolisian yang disegani. Statusnya sebagai Kadivpropam Polri, lanjut Sugeng, telah membuat dirinya terkenal karena membongkar sejumlah kasus, terutama skandal yang melibatkan kepolisian.

Salah satu kasus yang ditangani Sambo terkait skandal tambang ilegal yang menyeret seorang perwira tinggi Polri. Sosok perwira yang dimaksud, kata Sugeng, terdapat dalam kesaksian tersangka kasus tambang ilegal Ismail Bolong, yakni Komjen Pol Agus Andrianto yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim).

Baca Juga:  Putri Candrawathi Ditahan, Kapolri: Tidak Ada yang Diistimewakan!

Dalam kasus pembunuhan Brigadir J, Kabareskrim Agus turut ikut memeriksa Ferdy Sambo bersama para perwira tinggi lain, seperti Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono dan Kabaintelkam Komjen Pol Ahmad Dhofiri. Sebelum kasus pembunuhan Yosua mencuat, Ferdy Sambo pernah membongkar skandal tambang ilegal yang diduga melibatkan Agus Andrianto.

Sambo mendapatkan informasi perihal keterlibatan Agus melalui Ismail Bolong. Ismail diduga tiga kali menyerahkan uang secara langsung kepada Agus pada Oktober, November dan Desember 2021 senilai Rp 2 miliar per bulan.

Selain itu, Ismail Bolong juga disebut tiga kali mengguyurkan dana ke jajaran Bareskrim Polri, pada Oktober hingga Desember 2021 senilai Rp 3 miliar. “Dia mantan Kadiv Propam yang tugasnya sehari-hari adalah menindak anggota polisi, termasuk perwira-perwira tinggi yang melanggar, dia akan membuka itu habis-habisan,” papar Sugeng.

Meski demikian, Sugeng menyebut kecil kemungkinan Ferdy Sambo akan divonis mati. Sebab, adanya disparitas pemberian sanksi kepada empat terdakwa lainnya dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Keempat terdakwa lainnya yakni Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Putri Candrawathi, Ricky Rizal Wibowo, dan Kuat Ma’ruf. “Disparitas sanksi adalah pemberian sanksi yang berbeda dalam satu perkara yang sama, itu tidak boleh terlalu jauh,” ucap Sugeng.

Baca Juga:  Hormati Keberadaan 3 Pejuang, Poles Monumen Sebagai Ikon Sejarah Desa

Sebelumnya, Ferdy Sambo dituntut hukuman pidana penjara seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU). Sambo diyakini bersalah dalam kasus dugaab pembunuhan Brigadir Yosua. “Menuntut supaya majelis hakim PN Jaksel yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan Terdakwa Ferdy Sambo terbukti bersalah melakukan dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,” kata jaksa membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa lalu (17/1/2023).

“Menjatuhkan pidana terhadap Ferdy Sambo dengan pidana penjara seumur hidup,” sambungnya.

Sambo diyakini melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sambo juga diyakini melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (jpg)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru