alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Anak Meninggal, Rumah Reot Tak Terawat

Warga Kampung Punia, Sidemen, Samsudin, 60, hidupnya boleh di bilang miris. Sudah miskin, istri dan anaknya alami gangguan jiwa.   

WAYAN PUTRA, Amlapura

SEBUAH gubuk di perkampungan Dusun Punia, Sidemen, Karangasem berdiri di tengah tegalan. Disanalah Samsudin hidup bersama istri dan dua anaknya.

Mirisnya, karena istrinya dan kedua anaknya mengalami gangguan mental alias ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Tambah menyakitkan, sang anak Junaedi, 30, meninggal dunia seminggu lalu. Junaedi juga meninggal dalam kondisi mengalami gangguan jiwa.

Bahkan,  sempat dua kali masuk ke rumah sakit jiwa Bangli. Samsudin saat ini malah depresi karena cobaan tersebut.

Namun, demikian pria yang sehari hari bekerja sebagai tukang panjat kelapa dan buah buahan tersebut berusaha untuk tabah.

Sementara sang istri, Ermawati juga mengidap gangguan jiwa. Bahkan wanita 50 tahun tersebut sempat dua kali diajak ke RS Jiwa Bangli.

Sempat kondisinya membaik namun kumat kembali. Menurut Samsudin ini ganggian jiwa dialami anak pertamanya Kadri 36 sampai sekarang. Dia mengalami ganguan jiwa sejak kelas III SD sehingga tidak tamat sekolah.

Sejak itu anak keduanya juga mengidap penyakit yang sama. Entah karena tidak tahan melihat kondisi anaknya yang sakit seperti itu istri Samsudin juga mengalami gangguan mental juga.

Jadilah satu keluarga ini tiga orang mengidap gangguan jiwa. “Kalau istri saya sudah mengalami gangguan jiwa sejak 20 tahun,” ujarnya.

Baca Juga:  PSI Target Dua Kursi di DPRD Bali

Dia juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengobati anak dan istrinya. Termasuk mengajak ke RS Jiwa Bangli. Namun tidak juga sembuh. Sempat sembuh sebentar kemudian kumat lagi.

Samsudin adalah warga miskin di Kampung Punia, Sidemen. Dia hanya sebagai petani penggarap milik Geria. Disanalah Samsudin dan keluarganya tinggal tepatnya di sebuah bukit namanya bukit Gerembeng di timur Kampung.

Untuk ke bukit tersebut masih harus menempuh jalan setapak yang cukup terjal. Ini Karena sepeda motor belum bisa sampai ke rumahnya diatas bukit.

Hal ini Samsudin lakukan setiap hari sambil merawat anak anak dan istrinya. “Saya juga harus kerja menghidupi keuarga sekaligus merawat mereka,” ujarnya mencoba tabah. Sekarang ini dia tinggal di sebuah rumah dengan dua kamar yang sederhana.

Rumah tersebut adalah milik saudaranya yang diberikan menempati. Karena rumah milik Samsudin sendiri sudah rusak. Di dalam kamar hanya ada kasur lusuh tanpa dipan.

Sementara setiap hari Samsudin juga memasak untuk sang istri karena selama ini istrinya sudah tidak bisa memasak lagi.

Bahkan, belakangan ini kondisinya makin parah. Selaian hilang ingatan juga dalam kondisi sakit dimana untuk berjalan susah karena kakinya lemas. “Dulu bisa jalan ke bawah, namun sekarang tidak kuat jalan lagi,” ujarnya.

Baca Juga:  Verifikasi Pemilu 2019, PDIP Bawa Rangda dan Hanoman

Ini karena sang istri sempat tertabrak sepeda motor saat melintas dekat Pasar Sidemen. Sementara anak pertamanya Kadri tinggal di sebuah gubuk di timur rumah Samsudin.

Gubuk tersebut terbuat dari gedeg dengan atap seng bekas. Kardri sendiri pemalu dan selalu kabur sembunyi jika ada orang asing datang.

Namun demikian dia tidak galak seperti ODGJ lainya. saat Koran ini mengunjungi rumah tersebut bersama dengan komunitas seke deman Sidemen dibawah kordinator Wayan Suwarya, Kadri sempat sembunyi.

Saat dipanggil panggil orang tuanya baru dia keluar, itupun hanya berdiri dari kejauhan. Sementara karena usia sudah tua Samsudin juga sekarang ini tidak bisa kerja lagi seperti dulu. 

Praktis belakangan ini hidup dari bantuan para tetangga dan kerabat. Sebelumnya Junaedi anak keduanya yang juga gila tinggal di rumah kerabatnya dibawah bukit sekitar 200 meter dari rumah Samsudin.

Disana Samsudin merawat anak keduanya tersebut. “Waktu dia masih (hidup, Red) saya selalu menyuapi makan,” ujarnya.

Sementara untuk kebutuhan sehari hari Samsudin mengaku mendapat bantuan Raskin 15 kilogram per bulan.

Beras ini diakui cukup untuk kebutuhan bersama istri dan anak anaknya. Dirumah tersebut juga tanpa listrik dan juga air bersih.

Sebagai penerangan dia menggunakan lampu minyak yang sederhana. Sementara untuk air bersih dia mengambil  sungai dibawah bukit.



Warga Kampung Punia, Sidemen, Samsudin, 60, hidupnya boleh di bilang miris. Sudah miskin, istri dan anaknya alami gangguan jiwa.   

WAYAN PUTRA, Amlapura

SEBUAH gubuk di perkampungan Dusun Punia, Sidemen, Karangasem berdiri di tengah tegalan. Disanalah Samsudin hidup bersama istri dan dua anaknya.

Mirisnya, karena istrinya dan kedua anaknya mengalami gangguan mental alias ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Tambah menyakitkan, sang anak Junaedi, 30, meninggal dunia seminggu lalu. Junaedi juga meninggal dalam kondisi mengalami gangguan jiwa.

Bahkan,  sempat dua kali masuk ke rumah sakit jiwa Bangli. Samsudin saat ini malah depresi karena cobaan tersebut.

Namun, demikian pria yang sehari hari bekerja sebagai tukang panjat kelapa dan buah buahan tersebut berusaha untuk tabah.

Sementara sang istri, Ermawati juga mengidap gangguan jiwa. Bahkan wanita 50 tahun tersebut sempat dua kali diajak ke RS Jiwa Bangli.

Sempat kondisinya membaik namun kumat kembali. Menurut Samsudin ini ganggian jiwa dialami anak pertamanya Kadri 36 sampai sekarang. Dia mengalami ganguan jiwa sejak kelas III SD sehingga tidak tamat sekolah.

Sejak itu anak keduanya juga mengidap penyakit yang sama. Entah karena tidak tahan melihat kondisi anaknya yang sakit seperti itu istri Samsudin juga mengalami gangguan mental juga.

Jadilah satu keluarga ini tiga orang mengidap gangguan jiwa. “Kalau istri saya sudah mengalami gangguan jiwa sejak 20 tahun,” ujarnya.

Baca Juga:  Calon Anggota Belum Pasti, Sekwan Badung Sudah Siapkan Baju Baru

Dia juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengobati anak dan istrinya. Termasuk mengajak ke RS Jiwa Bangli. Namun tidak juga sembuh. Sempat sembuh sebentar kemudian kumat lagi.

Samsudin adalah warga miskin di Kampung Punia, Sidemen. Dia hanya sebagai petani penggarap milik Geria. Disanalah Samsudin dan keluarganya tinggal tepatnya di sebuah bukit namanya bukit Gerembeng di timur Kampung.

Untuk ke bukit tersebut masih harus menempuh jalan setapak yang cukup terjal. Ini Karena sepeda motor belum bisa sampai ke rumahnya diatas bukit.

Hal ini Samsudin lakukan setiap hari sambil merawat anak anak dan istrinya. “Saya juga harus kerja menghidupi keuarga sekaligus merawat mereka,” ujarnya mencoba tabah. Sekarang ini dia tinggal di sebuah rumah dengan dua kamar yang sederhana.

Rumah tersebut adalah milik saudaranya yang diberikan menempati. Karena rumah milik Samsudin sendiri sudah rusak. Di dalam kamar hanya ada kasur lusuh tanpa dipan.

Sementara setiap hari Samsudin juga memasak untuk sang istri karena selama ini istrinya sudah tidak bisa memasak lagi.

Bahkan, belakangan ini kondisinya makin parah. Selaian hilang ingatan juga dalam kondisi sakit dimana untuk berjalan susah karena kakinya lemas. “Dulu bisa jalan ke bawah, namun sekarang tidak kuat jalan lagi,” ujarnya.

Baca Juga:  Catat! Banyak Peminat, KGB Mencari Kualitas Calon

Ini karena sang istri sempat tertabrak sepeda motor saat melintas dekat Pasar Sidemen. Sementara anak pertamanya Kadri tinggal di sebuah gubuk di timur rumah Samsudin.

Gubuk tersebut terbuat dari gedeg dengan atap seng bekas. Kardri sendiri pemalu dan selalu kabur sembunyi jika ada orang asing datang.

Namun demikian dia tidak galak seperti ODGJ lainya. saat Koran ini mengunjungi rumah tersebut bersama dengan komunitas seke deman Sidemen dibawah kordinator Wayan Suwarya, Kadri sempat sembunyi.

Saat dipanggil panggil orang tuanya baru dia keluar, itupun hanya berdiri dari kejauhan. Sementara karena usia sudah tua Samsudin juga sekarang ini tidak bisa kerja lagi seperti dulu. 

Praktis belakangan ini hidup dari bantuan para tetangga dan kerabat. Sebelumnya Junaedi anak keduanya yang juga gila tinggal di rumah kerabatnya dibawah bukit sekitar 200 meter dari rumah Samsudin.

Disana Samsudin merawat anak keduanya tersebut. “Waktu dia masih (hidup, Red) saya selalu menyuapi makan,” ujarnya.

Sementara untuk kebutuhan sehari hari Samsudin mengaku mendapat bantuan Raskin 15 kilogram per bulan.

Beras ini diakui cukup untuk kebutuhan bersama istri dan anak anaknya. Dirumah tersebut juga tanpa listrik dan juga air bersih.

Sebagai penerangan dia menggunakan lampu minyak yang sederhana. Sementara untuk air bersih dia mengambil  sungai dibawah bukit.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/