30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Prada Muhammad Indra Wijaya Tewas, Empat Prajurit TNI-AU Ditetapkan Tersangka

TEWASNYA Prada Muhammad Indra Wijaya yang diduga karena dianiaya senior berbuntut penahanan empat personel TNI Angkatan Udara (AU). Empat orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka itu diduga menganiaya Indra yang bertugas di Sekretariat Makoopsud III Biak, Papua.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama TNI Indan Gilang Buldansyah menyampaikan bahwa penyidikan terus berjalan. ”TNI-AU telah menahan empat prajurit yang diduga terlibat aksi kekerasan untuk dimintai keterangan dan penyidikan lebih lanjut,” terangnya, Rabu kemarin (23/11).

Menurut Indan, Indra meninggal pada Sabtu lalu (19/11) setelah mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Manuhua. ”Sebelumnya (Indra) pingsan di Mes Tamtama Tiger Makoopsud III Biak,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tamu ShiShi Nightclub Dikeroyok, Perhiasan dan Handphone Dirampas

Namun, Indan tidak menjelaskan secara terperinci penyebab Indra pingsan. Menurut dia, kronologi peristiwa merupakan bagian dari materi penyidikan. Yang jelas, TNI-AU tidak tinggal diam.

Setelah mendapat informasi, instansinya langsung mengambil sikap. Empat senior Indra kemudian ditahan. ”Empat orang (atas nama) Prada SL, Prada MS, Pratu DD, dan Pratu BG sudah jadi tersangka,” imbuhnya.

Bila terbukti bersalah, TNI-AU akan memberikan sanksi tegas. Salah satunya pemecatan. Mereka disangkakan melanggar beberapa pasal. Yakni, Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukum 7 tahun penjara, dan Pasal 131 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM).

Baca Juga:  Merokok, Wanita Hamil Kena Bogem Sampai Pingsan

Sementara, mereka ditahan sampai 20 hari mendatang. Menurut Indan, Satpom Koopsud III Biak juga berkoordinasi secara intens dengan keluarga Indra di Tangerang, Banten.

Indan menegaskan, TNI-AU tidak menutup-nutupi kasus tersebut. Mereka bertindak sesuai aturan hukum dan prosedur yang berlaku. Bahkan, jenazah Indra sudah diautopsi dengan izin pihak keluarga. ”Nanti saya kasih keterangan. Hasil (otopsinya) belum keluar,” papar Indan. ”TNI-AU tidak akan menoleransi tindakan kesalahan,” tegas perwira tinggi TNI-AU dengan satu bintang di pundak tersebut. (jpg)



TEWASNYA Prada Muhammad Indra Wijaya yang diduga karena dianiaya senior berbuntut penahanan empat personel TNI Angkatan Udara (AU). Empat orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka itu diduga menganiaya Indra yang bertugas di Sekretariat Makoopsud III Biak, Papua.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama TNI Indan Gilang Buldansyah menyampaikan bahwa penyidikan terus berjalan. ”TNI-AU telah menahan empat prajurit yang diduga terlibat aksi kekerasan untuk dimintai keterangan dan penyidikan lebih lanjut,” terangnya, Rabu kemarin (23/11).

Menurut Indan, Indra meninggal pada Sabtu lalu (19/11) setelah mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Manuhua. ”Sebelumnya (Indra) pingsan di Mes Tamtama Tiger Makoopsud III Biak,” ungkapnya.

Baca Juga:  Dua Minggu Buron, Pembunuh Dagang Bakso Akhirnya Ditangkap

Namun, Indan tidak menjelaskan secara terperinci penyebab Indra pingsan. Menurut dia, kronologi peristiwa merupakan bagian dari materi penyidikan. Yang jelas, TNI-AU tidak tinggal diam.

Setelah mendapat informasi, instansinya langsung mengambil sikap. Empat senior Indra kemudian ditahan. ”Empat orang (atas nama) Prada SL, Prada MS, Pratu DD, dan Pratu BG sudah jadi tersangka,” imbuhnya.

Bila terbukti bersalah, TNI-AU akan memberikan sanksi tegas. Salah satunya pemecatan. Mereka disangkakan melanggar beberapa pasal. Yakni, Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukum 7 tahun penjara, dan Pasal 131 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM).

Baca Juga:  Gegara Tersinggung, Pria di Buleleng Tombak Tetangga Hingga Sekarat

Sementara, mereka ditahan sampai 20 hari mendatang. Menurut Indan, Satpom Koopsud III Biak juga berkoordinasi secara intens dengan keluarga Indra di Tangerang, Banten.

Indan menegaskan, TNI-AU tidak menutup-nutupi kasus tersebut. Mereka bertindak sesuai aturan hukum dan prosedur yang berlaku. Bahkan, jenazah Indra sudah diautopsi dengan izin pihak keluarga. ”Nanti saya kasih keterangan. Hasil (otopsinya) belum keluar,” papar Indan. ”TNI-AU tidak akan menoleransi tindakan kesalahan,” tegas perwira tinggi TNI-AU dengan satu bintang di pundak tersebut. (jpg)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/