alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Rela Kerja Serabutan Demi Biaya Sekolah dan Hidupi Sang Nenek

Saat anak-anak seusianya sedang menikmati masa remajanya, tidak demikian dengan Kadek Lanang Sunarsa, 17. Justru siswa SMKN 3 Negara itu harus membanting tulang untuk mencukupi biaya sekolah dan mengurus neneknya yang sakit.

 

 

ANOM SUARDANA, Mendoyo

SAAT ini Ni Nyoman Westri, 91, yang tinggal di Banjar Pasatan, Pergung, Mendoyo, dua tahun lebih tidak bisa beraktivitas banyak karena sakit.

Sakit yang dialami Westri berawal dari munculnya tahi lalat di pelipis kanan. Semakin lama tahi lalat itu semakin membesar.

Karena terus membesar, tahi lalat itu sempat dioperasi. Namun, luka bekas operasi itu kini terkena infeksi.

Bahkan, di beberapa bagian tubuh Westri juga muncul benjolan lain. Sementara di kepalanya muncul kutil yang terasa gatal dan sakit yang menyiksa.

”Nenek saya sudah renta dan sakit, sekarang saya yang merawatnya. Memang nenek mendapat bantuan program keluarga harapan (PKH), namun tidak cukup,” ujar Kadek Lanang Sunarsa.

Sebagai cucu, Sunarsa yang juga anak yatim karena ditinggal mati ayahnya, kini harus merawat sang nenek.

Sebelum berangkat ke sekolah, Sunarsa harus bangun pagi untuk memasak sarapan sang nenek. Setelah beres semua, baru Sunarsa berangkat ke sekolah dengan menempuh jarak 15 kilometer dari rumah.

Untuk berangkat maupun pulang sekolah Suanrsa harus mengayuh sepeda tua peninggalan kakeknya. “Saya sudah biasa naik sepeda tua warisan kakek. Mau bagaimana lagi, yang ada hanya sepeda tua itu,” ucapnya.

Sepulang sekolah, Sunarsa tidak bisa berdiam diri. Dia harus bekerja agar bisa mendapatkan uang untuk bekal sekolah dan kebutuhan neneknya.

Sunarsa rela bekerja serabutan termasuk menjadi buruh angkut kelapa. Meski harus menempuh jalan terjal di perbukitan wilayah Pasatan, namun Sunarsa tetap berusaha sekuat tenaga.

“Kalau saya tidak bekerja, saya tidak punya uang bekal sekolah dan untuk memenuhi kebutuhan nenek. Jadi saya harus kerja agar bisa terus bersekolah,” ungkapnya.

Kelian Banjar Pasatan Made Rian Dwi Antara didampingi Perbekel dan Babinsa Pohsanten saat mengantar relawan untuk menyerahkan bantuan mengatakan, Nyoman Westri memang keluarga kurang mampu.

Sunarsa yang merawat neneknya memang sudah yatim setelah ayahnya meninggal. Dia dua bersaudara dan kakak perempuannya sudah menikah.

”Nenek Westri dulu tinggal bersama ayah Sunarsa. Karena sudah meninggal sekarang tinggal bersama cucunya,” pungkasnya. (*)

 



Saat anak-anak seusianya sedang menikmati masa remajanya, tidak demikian dengan Kadek Lanang Sunarsa, 17. Justru siswa SMKN 3 Negara itu harus membanting tulang untuk mencukupi biaya sekolah dan mengurus neneknya yang sakit.

 

 

ANOM SUARDANA, Mendoyo

SAAT ini Ni Nyoman Westri, 91, yang tinggal di Banjar Pasatan, Pergung, Mendoyo, dua tahun lebih tidak bisa beraktivitas banyak karena sakit.

Sakit yang dialami Westri berawal dari munculnya tahi lalat di pelipis kanan. Semakin lama tahi lalat itu semakin membesar.

Karena terus membesar, tahi lalat itu sempat dioperasi. Namun, luka bekas operasi itu kini terkena infeksi.

Bahkan, di beberapa bagian tubuh Westri juga muncul benjolan lain. Sementara di kepalanya muncul kutil yang terasa gatal dan sakit yang menyiksa.

”Nenek saya sudah renta dan sakit, sekarang saya yang merawatnya. Memang nenek mendapat bantuan program keluarga harapan (PKH), namun tidak cukup,” ujar Kadek Lanang Sunarsa.

Sebagai cucu, Sunarsa yang juga anak yatim karena ditinggal mati ayahnya, kini harus merawat sang nenek.

Sebelum berangkat ke sekolah, Sunarsa harus bangun pagi untuk memasak sarapan sang nenek. Setelah beres semua, baru Sunarsa berangkat ke sekolah dengan menempuh jarak 15 kilometer dari rumah.

Untuk berangkat maupun pulang sekolah Suanrsa harus mengayuh sepeda tua peninggalan kakeknya. “Saya sudah biasa naik sepeda tua warisan kakek. Mau bagaimana lagi, yang ada hanya sepeda tua itu,” ucapnya.

Sepulang sekolah, Sunarsa tidak bisa berdiam diri. Dia harus bekerja agar bisa mendapatkan uang untuk bekal sekolah dan kebutuhan neneknya.

Sunarsa rela bekerja serabutan termasuk menjadi buruh angkut kelapa. Meski harus menempuh jalan terjal di perbukitan wilayah Pasatan, namun Sunarsa tetap berusaha sekuat tenaga.

“Kalau saya tidak bekerja, saya tidak punya uang bekal sekolah dan untuk memenuhi kebutuhan nenek. Jadi saya harus kerja agar bisa terus bersekolah,” ungkapnya.

Kelian Banjar Pasatan Made Rian Dwi Antara didampingi Perbekel dan Babinsa Pohsanten saat mengantar relawan untuk menyerahkan bantuan mengatakan, Nyoman Westri memang keluarga kurang mampu.

Sunarsa yang merawat neneknya memang sudah yatim setelah ayahnya meninggal. Dia dua bersaudara dan kakak perempuannya sudah menikah.

”Nenek Westri dulu tinggal bersama ayah Sunarsa. Karena sudah meninggal sekarang tinggal bersama cucunya,” pungkasnya. (*)

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/