alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Lupakan Bau Menyengat, Gerak Cepat Bersihkan Sampah di Hutan Mangrove

Bali bukan pulau sampah. Sungai itu tempatnya air mengalir, bukan sampah yang mengalir. Deretan kalimat ini siap menyapa Anda bersama 27 papan pengumuman lain saat memasuki

Taman Mangrove, Jalan By Pass Ngurah Rai KM 21, Kelurahan Pemogan, Denpasar Selatan. Inilah kampanye kecil radarbali.id merayakan ulang tahun perdana, Minggu (25/8) kemarin.

 

  

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

LUMPUR rawa-rawa, bau amis air payau, dan ancaman hewan liar tak menyurutkan ribuan peserta Go Clean Our River 2019 “menyerbu” Taman Mangrove pagi kemarin.

Siswa SD, SMP, SMA, warga lintas profesi, dan kru Radar Bali bahu-membahu memungut sampah plastik yang nyangkut di sela-sela akar bakau dan dikirim dari hulu.

Tagline Orang Cerdas Demen Kedas (suka bersih, red) yang digelorakan panitia seolah-olah memberi energi bagi peserta sehingga tak sedikit yang nyebur ke lumpur.

Peralatan yang dibawa pun beragam. Mulai dari sapu lidi, sabit, sekop, bambu runcing, cangkul garpu, hingga mesin pyrolysis, yakni alat pengolah sampah plastik menjadi BBM: premium, minyak tanah, dan solar.

Tak hanya berkubang lumpur, ribuan peserta juga menunjukkan antusias lewat aksi memanjat batang bakau yang dikotori plastik,

mengais plastik yang menyatu dengan tanah di aliran sungai, memasukkannya ke keranjang, kemudian memindahkannya ke truk.

Ada juga yang tampak bekerja sama menandu sampah hasil pungutannya dengan kayu. Hal itu dilakukan dengan penuh suka cita.

Saking semangatnya, banyak yang tak ambil pusing sepatu bermerk mereka dilumuri lumpur berbau amis.

Tak terkecuali bagi President Director PT Bluebird Tbk. Noni S.A. Purnomo dan General Manager Bluebird area Bali dan Lombok, dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana.

“Go Clean Our River 2019 yang diprakarsai Jawa Pos Radar Bali merupakan langkah sangat baik. Membangkitkan kesadaran bahwa masalah sampah ini

memang harus diselesaikan secara bersama-sama. Kalau tak bareng-bareng, di satu sisi ada yang bersih-bersih, di sisi lain ada yang nyampah.

Kita mengotori bareng-bareng, maka membersihkannya pun harus bareng-bareng,” ucap Noni. Sungai, imbuhnya merupakan muara segala jenis sampah.

Oleh karena itu, aliran sungai harus benar-benar dijaga. “Hari ini banyak keluarga Bluebird yang turut serta karena kami juga memiliki misi penyelamatan lingkungan.

Di internal kami awali dengan budaya memakai botol minum isi ulang, sehingga pengemudi kita tidak nyampah sembarangan,” terangnya. 

dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana menyebut bila driver Bluebird Bali tak membawa tumbler otomatis surat izin operasionalnya tidak keluar.

“Kadang orang itu harus dipaksa sehingga terbiasa,” senyumnya sembari menyebut membawa tumbler merupakan budaya driver Bluebird. 

Terkait mesin ajaib bernama pyrolysis, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Peduli Lingkungan Bali, I Gusti Agung Oka Sumanata menyebut

lantaran harga BBM makin mahal, maka metode pyrolysis dapat menjawab dua masalah sekaligus: membersihkan sampah plastik dan menghasilkan BBM.

“Pyrolysis adalah proses penguraian termokimia pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Pyro berarti suhu tinggi, sedangkan lysis berarti pemisahan atau proses pemotongan

senyawa kimia organik berstruktur kompleks menjadi lebih sederhana. Proses pyrolisis ini dilakukan pada suhu berkisar

antara 200 hingga 300 derajat celsius. Proses pyrolisis ini pada dasarnya adalah proses yang meniru alam,” jelasnya.

Sekilo plastik yang dimasukkan ke mesin pirolysis sambung Agung Oka dapat menghasilkan minyak 800 mililiter atau 0,8liter.

“Bahan bakar mesin ini adalah oli bekas sehingga biaya produksi jadi sangat rendah. Mesin ini mampu mengolah berbagai jenis plastik di antaranya plastik kresek hitam atau warna,

ember bekas, botol plastik, dan lain-lain,” rincinya sembari menyebut semua yang terbuat dari plastik dapat menjadi minyak karena pada dasarnya semua jenis plastik terbuat dari minyak bumi.

Menariknya, bersih-bersih sungai yang mengusung tema Sadar Lingkungan dengan Peduli Bersama Memerdekakan Sungai dari Sampah itu diawali pemotongan tumpeng pada pukul 07.26 oleh Direktur PT Bali Intermedia Pers, Justin M. Herman.

 Tumpeng pertama diberikan kepada President Director PT Bluebird Tbk. Noni S.A. Purnomo, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia,

Sekretaris Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Rai Iswara, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja. (*)

 

 



Bali bukan pulau sampah. Sungai itu tempatnya air mengalir, bukan sampah yang mengalir. Deretan kalimat ini siap menyapa Anda bersama 27 papan pengumuman lain saat memasuki

Taman Mangrove, Jalan By Pass Ngurah Rai KM 21, Kelurahan Pemogan, Denpasar Selatan. Inilah kampanye kecil radarbali.id merayakan ulang tahun perdana, Minggu (25/8) kemarin.

 

  

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

LUMPUR rawa-rawa, bau amis air payau, dan ancaman hewan liar tak menyurutkan ribuan peserta Go Clean Our River 2019 “menyerbu” Taman Mangrove pagi kemarin.

Siswa SD, SMP, SMA, warga lintas profesi, dan kru Radar Bali bahu-membahu memungut sampah plastik yang nyangkut di sela-sela akar bakau dan dikirim dari hulu.

Tagline Orang Cerdas Demen Kedas (suka bersih, red) yang digelorakan panitia seolah-olah memberi energi bagi peserta sehingga tak sedikit yang nyebur ke lumpur.

Peralatan yang dibawa pun beragam. Mulai dari sapu lidi, sabit, sekop, bambu runcing, cangkul garpu, hingga mesin pyrolysis, yakni alat pengolah sampah plastik menjadi BBM: premium, minyak tanah, dan solar.

Tak hanya berkubang lumpur, ribuan peserta juga menunjukkan antusias lewat aksi memanjat batang bakau yang dikotori plastik,

mengais plastik yang menyatu dengan tanah di aliran sungai, memasukkannya ke keranjang, kemudian memindahkannya ke truk.

Ada juga yang tampak bekerja sama menandu sampah hasil pungutannya dengan kayu. Hal itu dilakukan dengan penuh suka cita.

Saking semangatnya, banyak yang tak ambil pusing sepatu bermerk mereka dilumuri lumpur berbau amis.

Tak terkecuali bagi President Director PT Bluebird Tbk. Noni S.A. Purnomo dan General Manager Bluebird area Bali dan Lombok, dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana.

“Go Clean Our River 2019 yang diprakarsai Jawa Pos Radar Bali merupakan langkah sangat baik. Membangkitkan kesadaran bahwa masalah sampah ini

memang harus diselesaikan secara bersama-sama. Kalau tak bareng-bareng, di satu sisi ada yang bersih-bersih, di sisi lain ada yang nyampah.

Kita mengotori bareng-bareng, maka membersihkannya pun harus bareng-bareng,” ucap Noni. Sungai, imbuhnya merupakan muara segala jenis sampah.

Oleh karena itu, aliran sungai harus benar-benar dijaga. “Hari ini banyak keluarga Bluebird yang turut serta karena kami juga memiliki misi penyelamatan lingkungan.

Di internal kami awali dengan budaya memakai botol minum isi ulang, sehingga pengemudi kita tidak nyampah sembarangan,” terangnya. 

dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana menyebut bila driver Bluebird Bali tak membawa tumbler otomatis surat izin operasionalnya tidak keluar.

“Kadang orang itu harus dipaksa sehingga terbiasa,” senyumnya sembari menyebut membawa tumbler merupakan budaya driver Bluebird. 

Terkait mesin ajaib bernama pyrolysis, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Peduli Lingkungan Bali, I Gusti Agung Oka Sumanata menyebut

lantaran harga BBM makin mahal, maka metode pyrolysis dapat menjawab dua masalah sekaligus: membersihkan sampah plastik dan menghasilkan BBM.

“Pyrolysis adalah proses penguraian termokimia pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Pyro berarti suhu tinggi, sedangkan lysis berarti pemisahan atau proses pemotongan

senyawa kimia organik berstruktur kompleks menjadi lebih sederhana. Proses pyrolisis ini dilakukan pada suhu berkisar

antara 200 hingga 300 derajat celsius. Proses pyrolisis ini pada dasarnya adalah proses yang meniru alam,” jelasnya.

Sekilo plastik yang dimasukkan ke mesin pirolysis sambung Agung Oka dapat menghasilkan minyak 800 mililiter atau 0,8liter.

“Bahan bakar mesin ini adalah oli bekas sehingga biaya produksi jadi sangat rendah. Mesin ini mampu mengolah berbagai jenis plastik di antaranya plastik kresek hitam atau warna,

ember bekas, botol plastik, dan lain-lain,” rincinya sembari menyebut semua yang terbuat dari plastik dapat menjadi minyak karena pada dasarnya semua jenis plastik terbuat dari minyak bumi.

Menariknya, bersih-bersih sungai yang mengusung tema Sadar Lingkungan dengan Peduli Bersama Memerdekakan Sungai dari Sampah itu diawali pemotongan tumpeng pada pukul 07.26 oleh Direktur PT Bali Intermedia Pers, Justin M. Herman.

 Tumpeng pertama diberikan kepada President Director PT Bluebird Tbk. Noni S.A. Purnomo, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia,

Sekretaris Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Rai Iswara, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja. (*)

 

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/