alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Cukup Usir dengan Pengharum Ruangan, Minta Warga Tidak Bunuh Ular

Menjadi pawang ular tidak cukup hanya memiliki keahlian dalam menangkap ular. Selain itu dibutuhkan keberanian. Itulah yang dilakukan oleh Wayan Laksana Kartika, si pawang ular.

Wayan Laksana Kartika atau yang akrab dipanggil Wayan Kobra kerap kali menerima panggilan warga  Tabanan untuk membantu menaklukkan ular.

 

 

 

JULIADI, Tabanan

MUSIM ular bertelur biasanya terjadi pada bulan November, Desember hingga Januari. Bisa dibilang, sekarang adalah musimnya ular bertelur.

Wayan Laksamana Kartika alias Wayan Kobra kerap kali menerima panggilan mendadak dari warga. Pria asal Banjar Beng, Desa Tunjuk, Tabanan diminta oleh dari warga Tabanan untuk menaklukkan ular yang mulai bermunculan di areal rumah warga.

Bukan hanya ular yang tidak berbisa harus ia tangkap tetapi juga ular berbisa dengan jenis King Kobra yang amat berbahaya itu.

“Saya tiga hari yang lalu tangkap ular King Kobra dengan panjang 3,20 meter di daerah Bajera, Selemadeg. Kala itu King Kobra sedang bertelur. Bahkan telur dari King Kobra sebanyak 56 butir,” ujar pria berusia 50 ini.

Diakui Wayan Kobra, sekitar wilayah Tabanan memang sudah banyak warga yang menemukan ular dengan jenis anakan kobra. Baik didalam rumah atau pekarangan rumah dan kebun mereka.

Yang paling ditemukan adalah baby kobra. Karena reptil kobra dari bulan November, Desember hingga Januari mendatang adalah masa mereka untuk berkembangbiak dengan cara bertelur dan menetas.

Disamping itu juga didukung oleh kondisi kelembaban suhu udara di Tabanan. Kemudian juga karena faktor kurangnya predator ular berbisa. Maka tidak heran lebih banyak ditemukan ular kobra ketimbang ular biasa saat ini.  

“Wilayah Tabanan dulunya kami lebih banyak temukan ular Kobra di daerah Telaga Tunjung, Kerambitan. Tetapi sekarang sudah berpindah ke daerah Bantas, Selemadeg Timur.

Mungkin ular kobra menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, suhu dan ancaman lainnya. Tak hanya itu ular kobra juga banyak ditemukan di daerah Sembung, Kerambitan, Desa Angseri, Baturiti dan daerah Penebel,” terangnya.  

Diceritakan Wayan Kobra, menjadi seorang pawang ular sejak dulu. Namun setelah bergabung dengan Tim Bali Respril Rescue (BRR), dia terus diminta warga untuk membantu menangkap ular.

Kata dia, menaklukkan ular sudah dia lakoni sejak kecil dan Wayan Kobra suka dengan binatang ular.

“Kalau saat ini sehari rata-rata 3-5 ular saya tangkap saat musim kobra. Paling banyak baby kobra dan telur kobra kami tangkap. Bukan hanya ular kobra, tapi jenis ular tidak berbisa,” akunya.

Menaklukkan ular bukan perkara mudah. Tidak cukup dengan keahlian, namun butuh juga keberanian. Pada intinya tidak panik dan takut. Kemudian tetap menggunakan kelengkapan peralatan.

Selama ini dalam menaklukkan ular yang menantang menangkap ular King Kobra berbisa. King Kobra beresiko tinggi. Jika terkena dengan gigitannya. Susah mencari serumnya.

Karena di Bali stok serum tidak ada. Sehingga harus berhati-hati. Untuk ular kobra yang dia tangkap bersama tim langsung dibawa ke lokasi penangkaran di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana.

“Mudah-mudahan saya tetap dilindungi tidak digigit ular King Kobra. Kalau digigit ular tidak berbisa sudah biasa,” ujarnya.

Dia menambahkan warga yang meminta bantuan menaklukkan ular tanpa dirinya harus dipungut biaya sepeserpun. Dirinya tidak pernah meminta apapun dari warga.

“Mungkin karena melihat saya datang dari jauh sehingga memberikan upah seikhlas. Itupun tanpa saya memaksa meminta.

Karena kami sifatnya sukarela menolong dan menyelamatkan habibit ular kobra yang kini banyak mati karena diburu warga dengan senapan,” terangnya.

Dia pun menghimbau dan menyarankan warga ketika menemukan ular di dalam rumah atau pekarangan rumah, tidak usah panik, cukup mengusir mereka keluar dari dari rumah. Tidak harus dibunuh.

Caranya ular tersebut agar bisa keluar dan tidak masuk kedalam rumah dengan memberikan pengharum ruangan seperti wipol dan parfum menyemprotkan di dalam rumah dan areal pekarangan rumah.

“Hal itu bisa merusak sensor penciuman ular. Sehingga mencegah ular masuk kedalam rumah. Kalau warga pakai garam tidak begitu efektif,” pungkasnya. (*)

 



Menjadi pawang ular tidak cukup hanya memiliki keahlian dalam menangkap ular. Selain itu dibutuhkan keberanian. Itulah yang dilakukan oleh Wayan Laksana Kartika, si pawang ular.

Wayan Laksana Kartika atau yang akrab dipanggil Wayan Kobra kerap kali menerima panggilan warga  Tabanan untuk membantu menaklukkan ular.

 

 

 

JULIADI, Tabanan

MUSIM ular bertelur biasanya terjadi pada bulan November, Desember hingga Januari. Bisa dibilang, sekarang adalah musimnya ular bertelur.

Wayan Laksamana Kartika alias Wayan Kobra kerap kali menerima panggilan mendadak dari warga. Pria asal Banjar Beng, Desa Tunjuk, Tabanan diminta oleh dari warga Tabanan untuk menaklukkan ular yang mulai bermunculan di areal rumah warga.

Bukan hanya ular yang tidak berbisa harus ia tangkap tetapi juga ular berbisa dengan jenis King Kobra yang amat berbahaya itu.

“Saya tiga hari yang lalu tangkap ular King Kobra dengan panjang 3,20 meter di daerah Bajera, Selemadeg. Kala itu King Kobra sedang bertelur. Bahkan telur dari King Kobra sebanyak 56 butir,” ujar pria berusia 50 ini.

Diakui Wayan Kobra, sekitar wilayah Tabanan memang sudah banyak warga yang menemukan ular dengan jenis anakan kobra. Baik didalam rumah atau pekarangan rumah dan kebun mereka.

Yang paling ditemukan adalah baby kobra. Karena reptil kobra dari bulan November, Desember hingga Januari mendatang adalah masa mereka untuk berkembangbiak dengan cara bertelur dan menetas.

Disamping itu juga didukung oleh kondisi kelembaban suhu udara di Tabanan. Kemudian juga karena faktor kurangnya predator ular berbisa. Maka tidak heran lebih banyak ditemukan ular kobra ketimbang ular biasa saat ini.  

“Wilayah Tabanan dulunya kami lebih banyak temukan ular Kobra di daerah Telaga Tunjung, Kerambitan. Tetapi sekarang sudah berpindah ke daerah Bantas, Selemadeg Timur.

Mungkin ular kobra menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, suhu dan ancaman lainnya. Tak hanya itu ular kobra juga banyak ditemukan di daerah Sembung, Kerambitan, Desa Angseri, Baturiti dan daerah Penebel,” terangnya.  

Diceritakan Wayan Kobra, menjadi seorang pawang ular sejak dulu. Namun setelah bergabung dengan Tim Bali Respril Rescue (BRR), dia terus diminta warga untuk membantu menangkap ular.

Kata dia, menaklukkan ular sudah dia lakoni sejak kecil dan Wayan Kobra suka dengan binatang ular.

“Kalau saat ini sehari rata-rata 3-5 ular saya tangkap saat musim kobra. Paling banyak baby kobra dan telur kobra kami tangkap. Bukan hanya ular kobra, tapi jenis ular tidak berbisa,” akunya.

Menaklukkan ular bukan perkara mudah. Tidak cukup dengan keahlian, namun butuh juga keberanian. Pada intinya tidak panik dan takut. Kemudian tetap menggunakan kelengkapan peralatan.

Selama ini dalam menaklukkan ular yang menantang menangkap ular King Kobra berbisa. King Kobra beresiko tinggi. Jika terkena dengan gigitannya. Susah mencari serumnya.

Karena di Bali stok serum tidak ada. Sehingga harus berhati-hati. Untuk ular kobra yang dia tangkap bersama tim langsung dibawa ke lokasi penangkaran di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana.

“Mudah-mudahan saya tetap dilindungi tidak digigit ular King Kobra. Kalau digigit ular tidak berbisa sudah biasa,” ujarnya.

Dia menambahkan warga yang meminta bantuan menaklukkan ular tanpa dirinya harus dipungut biaya sepeserpun. Dirinya tidak pernah meminta apapun dari warga.

“Mungkin karena melihat saya datang dari jauh sehingga memberikan upah seikhlas. Itupun tanpa saya memaksa meminta.

Karena kami sifatnya sukarela menolong dan menyelamatkan habibit ular kobra yang kini banyak mati karena diburu warga dengan senapan,” terangnya.

Dia pun menghimbau dan menyarankan warga ketika menemukan ular di dalam rumah atau pekarangan rumah, tidak usah panik, cukup mengusir mereka keluar dari dari rumah. Tidak harus dibunuh.

Caranya ular tersebut agar bisa keluar dan tidak masuk kedalam rumah dengan memberikan pengharum ruangan seperti wipol dan parfum menyemprotkan di dalam rumah dan areal pekarangan rumah.

“Hal itu bisa merusak sensor penciuman ular. Sehingga mencegah ular masuk kedalam rumah. Kalau warga pakai garam tidak begitu efektif,” pungkasnya. (*)

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/