alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Stop, Togar: Jangan Jadi Generasi Penyebar Hoax

DENPASAR – Tonggak sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Sumpah Pemuda menjadi ikrar awal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90, Minggu, 28 Oktober 2018 ini, Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., yang dikenal sebagai caleg milenial yang maju ke DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7

dari Partai Golkar itu mengajak para generasi muda mengubah wajah politik dan memerangi hoax dalam perhelatan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 17 April 2019 mendatang.

“Generasi muda harus berada di garda terdepan menjaga Indonesia, menjaga empat konsensus dasar yakni UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dan harus berperan aktif ikut mengubah wajah perpolitikan Indonesia dan juga di garda terdepan mencegah dan memerangi hoax,” kata Togar ditemui di sela-sela Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Minggu (28/10).

Togar menambahkan, di dalam Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis pada Pasal 17 ayat (3)

disebutkan peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan salah satunya adalah pendidikan politik dan demokrasi.

Maka Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2018 ini harus menjadi momentum untuk menguatkan pendidikan politik, peran generasi muda, dan meningkatkan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan politik.

Serta menggunakan politik sebagai instrumen utama dalam menentukan arah serta masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Togar juga berharap semoga dengan peringatan sumpah pemuda ini jangan hanya dijadikan seremonial semata.

Baca Juga:  Ramaikan Tagar Justice For Audrey, Togar: Aparat Harus Bertindak Tegas

Namun, dijadikan momentum kembalinya jiwa pemuda yang penuh semangat  dan nasionalis serta menjadi agen perubahan dalam wajah demokrasi Indonesia pada Pileg dan Pilpres 2019.

“Generasi muda harus mampu berperan sebagai influencer politik sebagaimana yang mereka lakukan ketika menampilkan konten video di YouTube, Instragram maupun Facebook.

Mereka harus mampu menggunakan media sosial untuk berbagi inspirasi dan pesan-pesan kebaikan untuk mengubah masa depan Indonesia serta menggunakan hak pilihnya.

Lalu aktif memberikan edukasi politik pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya memilih calon anggota legislatif dan calon presiden yang terbaik,” papar Togar.

Togar mengingatkan, dulu para pemuda pernah bersumpah kepada Indonesia, akan bersatu dalam tumpah darah, bangsa dan bahasa Indonesia.

“Jika kita mengaku bertumpah darah yang satu, berbangsa satu dan berbahasa persatuan, mari kita buktikan dengan niat dan hati yang tulus,” ajak pria yang juga advokat dan dikenal dengan julukan “panglima hukum” itu.

Jika saat ini para pemuda tak bisa berjuang seperti para pahlawan terdahulu, katanya, setidaknya jangan merusak apa yang telah diperjuangkan.

Salah satunya dengan tidak menjadi sutradara dan aktor utama menciptakan dan menyebarkan hoax atau kabar bohong dan ujaran kebencian.

Para generasi mudah yang dikenal sangat melek teknologi, bahkan kritis terhadap isu-isu tertentu namun seiring juga apatis terhadap politik harusnya berada di garda terdepan untuk memerangi dan menangkal hoax.

“Jangan jadi generasi penyebar hoax, generasi micin, generasi yang apatis terhadap kondisi sosial kemasyarakatan dan politik di negeri,” kata pria yang juga Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Provinsi Bali itu.

Baca Juga:  Togar Situmorang: Hukum Tak Bisa Diintervensi

“Sangat menyedihkan jika pemuda ikut mempertajam perpecahan, malah aktif menyebarkan ujaran kebencian,” imbuh Togar yang juga “panglima hukum” pasangan Mantra-Kerta di Pilgub Bali 2018 lalu.

Ditambahkan oleh pria yang tengah menyelesaikan Disertasi Doktoral di Program Studi Ilmu Doktor Universitas Udayana ini,

bangsa kita butuh persatuan pemudanya, bukan hanya satu golongan. Sebab tiap anak muda punya hak yang sama dalam membangun bangsanya.

“Jadilah pemuda yang mampu mengguncangkan dunia. Pemuda yang tidak suka mengeluh, tidak berpikiran negatif, tidak mudah putus asa,” ajak Togar yang memang dikenal sangat dekat dengan generasi muda milenial ini.

Ir. Soekarno, Presiden Pertama kita pernah mengatakan “Perjuanganku  lebih mudah mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Maka dari itu, kata Togar, pemuda bermimpi, bervisi, bermisi, selalu berpikir positif, melakukan hal yang positif.

Terus berusaha untuk berkarya dan bermanfaat dengan memberikan karya-karya nyata yang mampu mewujudkan Indonesia maju dan sejahtera.

“Bangkitlah, bangkitlah pemuda mulia bersatu padu lintasi katulistiwa. Teruslah optimis para generasi penerus bangsa karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian.

Mari berjuang bersama!!,” tandas pria yang juga pecinta olahraga dan Ketua POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu. (rba)



DENPASAR – Tonggak sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Sumpah Pemuda menjadi ikrar awal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90, Minggu, 28 Oktober 2018 ini, Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., yang dikenal sebagai caleg milenial yang maju ke DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7

dari Partai Golkar itu mengajak para generasi muda mengubah wajah politik dan memerangi hoax dalam perhelatan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 17 April 2019 mendatang.

“Generasi muda harus berada di garda terdepan menjaga Indonesia, menjaga empat konsensus dasar yakni UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dan harus berperan aktif ikut mengubah wajah perpolitikan Indonesia dan juga di garda terdepan mencegah dan memerangi hoax,” kata Togar ditemui di sela-sela Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Minggu (28/10).

Togar menambahkan, di dalam Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis pada Pasal 17 ayat (3)

disebutkan peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan salah satunya adalah pendidikan politik dan demokrasi.

Maka Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2018 ini harus menjadi momentum untuk menguatkan pendidikan politik, peran generasi muda, dan meningkatkan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan politik.

Serta menggunakan politik sebagai instrumen utama dalam menentukan arah serta masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Togar juga berharap semoga dengan peringatan sumpah pemuda ini jangan hanya dijadikan seremonial semata.

Baca Juga:  Togar Situmorng Minta Gubernur Koster Tuntaskan Bali Hyatt

Namun, dijadikan momentum kembalinya jiwa pemuda yang penuh semangat  dan nasionalis serta menjadi agen perubahan dalam wajah demokrasi Indonesia pada Pileg dan Pilpres 2019.

“Generasi muda harus mampu berperan sebagai influencer politik sebagaimana yang mereka lakukan ketika menampilkan konten video di YouTube, Instragram maupun Facebook.

Mereka harus mampu menggunakan media sosial untuk berbagi inspirasi dan pesan-pesan kebaikan untuk mengubah masa depan Indonesia serta menggunakan hak pilihnya.

Lalu aktif memberikan edukasi politik pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya memilih calon anggota legislatif dan calon presiden yang terbaik,” papar Togar.

Togar mengingatkan, dulu para pemuda pernah bersumpah kepada Indonesia, akan bersatu dalam tumpah darah, bangsa dan bahasa Indonesia.

“Jika kita mengaku bertumpah darah yang satu, berbangsa satu dan berbahasa persatuan, mari kita buktikan dengan niat dan hati yang tulus,” ajak pria yang juga advokat dan dikenal dengan julukan “panglima hukum” itu.

Jika saat ini para pemuda tak bisa berjuang seperti para pahlawan terdahulu, katanya, setidaknya jangan merusak apa yang telah diperjuangkan.

Salah satunya dengan tidak menjadi sutradara dan aktor utama menciptakan dan menyebarkan hoax atau kabar bohong dan ujaran kebencian.

Para generasi mudah yang dikenal sangat melek teknologi, bahkan kritis terhadap isu-isu tertentu namun seiring juga apatis terhadap politik harusnya berada di garda terdepan untuk memerangi dan menangkal hoax.

“Jangan jadi generasi penyebar hoax, generasi micin, generasi yang apatis terhadap kondisi sosial kemasyarakatan dan politik di negeri,” kata pria yang juga Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Provinsi Bali itu.

Baca Juga:  Mendag Lutfi: WTO Solusi Berbagai Krisis Global

“Sangat menyedihkan jika pemuda ikut mempertajam perpecahan, malah aktif menyebarkan ujaran kebencian,” imbuh Togar yang juga “panglima hukum” pasangan Mantra-Kerta di Pilgub Bali 2018 lalu.

Ditambahkan oleh pria yang tengah menyelesaikan Disertasi Doktoral di Program Studi Ilmu Doktor Universitas Udayana ini,

bangsa kita butuh persatuan pemudanya, bukan hanya satu golongan. Sebab tiap anak muda punya hak yang sama dalam membangun bangsanya.

“Jadilah pemuda yang mampu mengguncangkan dunia. Pemuda yang tidak suka mengeluh, tidak berpikiran negatif, tidak mudah putus asa,” ajak Togar yang memang dikenal sangat dekat dengan generasi muda milenial ini.

Ir. Soekarno, Presiden Pertama kita pernah mengatakan “Perjuanganku  lebih mudah mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Maka dari itu, kata Togar, pemuda bermimpi, bervisi, bermisi, selalu berpikir positif, melakukan hal yang positif.

Terus berusaha untuk berkarya dan bermanfaat dengan memberikan karya-karya nyata yang mampu mewujudkan Indonesia maju dan sejahtera.

“Bangkitlah, bangkitlah pemuda mulia bersatu padu lintasi katulistiwa. Teruslah optimis para generasi penerus bangsa karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian.

Mari berjuang bersama!!,” tandas pria yang juga pecinta olahraga dan Ketua POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu. (rba)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/