alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Tak Bisa Berpaling dari JNE, Kirim Siluet Cerita Natal ke Nabire

692.838 positif, 563.980 sembuh, 20.589 meninggal. Update Covid-19, Kamis (24/12) ini tak membuat Natal batal. JNE pun tetap setia antarkan kebahagiaan Natal dari Bali hingga Tanah Mutiara Hitam, Papua.  

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

BRUDER Ulrig Jumeno, SJ. bahagia membuka paket Jalur Nugraha Ekakurir, JNE. Menempuh jarak 3,282 km dari Bali, Christmas Nativity pesanannya

yang dikirim Jumat (4/12) pukul 09.21 WIB tiba di Wisma Le Cocq D’Armandville, Jalan Jenderal Sudirman, Bukit Meriam, Nabire, Papua 98817, Kamis (17/12).

Untuk memiliki pernak-pernik indah Natal yang dikirim Kurir JNE Regular dengan kode booking TJR0744128211364 dan nomor resi TJR0744128211364, Bruder Ulrig merogoh kocek Rp 376.500.

Rinciannya, harga produk Rp 250 ribu, ongkos kirim Rp 125 ribu, dan biaya asuransi Rp 1.500. Christmas Nativity tersebut kiriman I Gusti Agung Gede Idra Adi, 37.

Owner Bali Custom Woodworking yang beralamat di Jalan Cica, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali Nomor 36 itu ikut merasakan perih akibat anjloknya penjualan properti, khususnya di Pulau Dewata.

Tak tanggung-tanggng, “terjun bebas” hingga 90 persen sesuai laporan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Persatuan Realestat Indonesia (DPD REI) Bali.

Tak mau pasrah atau menyerah dengan keadaan, ayah 3 orang anak laki-laki itu pun memutar otak. Ia ciptakan produk-produk unik dengan membaca selera pasar.

Salah satunya Christmas Nativity yang dikirim hingga ke Nabire, Papua. Sesuatu yang ungkapnya tidak terbayangkan sebelumnya dan menjadi hikmah sekaligus pelajaran berharga dari pandemi Covid-19.      

“Selama Desember ini, saya kebanjiran orderan Christmas wooden Nativity. Sejenis patung siluet cerita Natal.

Mungkin karena cukup unik, permintaan datang dari marketplace serta dari promosi mulut ke mulut. Permintaan pun datang dari Pulau Jawa hingga Nabire, Papua.

Khusus untuk pengiriman ke Papua, menurut konsumen hanya JNE yang paling memuaskan soal waktu pengiriman,” ucap Gung Adi- panggilan akrab I Gusti Agung Gede Idra Adi.

Pesanan demi pesanan itu ia kirim melalui jasa JNE Express Abianbase, Jalan Raya Abianbase, Nomor 100, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali 80351.

“JNE bekerja sama dengan banyak marketplace. Cukup mudah bagi saya selaku penjual. Tinggal menyebut nomor penjualan

saja tanpa menulis alamat, data pengiriman dan penerima langsung muncul,” tandasnya dihubungi Selasa (29/12) siang.

Bertekad mempertahankan dua orang karyawannya yang tersisa akibat “pukulan” telak virus SARS-CoV-2, Gung Adi tak menampik tak punya banyak pilihan selain memasarkan produk-produknya via online.

Menyongsong Hari Suci Natal, Jumat, 25 Desember 2020, ia pun berinisiatif mengabadikan kisah kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus bermodalkan keahliannya mengolah kayu.

“Ini produk perdana yang saya jual secara online. Tapi, lumayanlah buat pemula. Rage mare sai kirim-kirim ajak mablanja online sejak covid ne.Yen kirim-kirim baru setahun ne.

(Saya baru sering kirim-kirim dan belanja online sejak covid ini. Kalau kirim-kirim baru setahun ini),” ungkap pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Udayana itu.

Khusus pengiriman perdana terjauh ke Nabire, Papua, Gung Adi mengaku tak bisa berpaling dari JNE. Menariknya, ia menekankan bahwa di Papua, JNE yang banyak dipilih oleh masyarakat setempat.

Selain ke Nabire, Christmas wooden Nativity karya Gung Adi juga dikirim ke 12 titik lain di luar Pulau Bali.

“Total 12-an produk terjual. Keburu toko saya liburkan karena Hari Raya Natal. Ada pesanan ke Tangerang (Jakarta), Surabaya, Jogjakarta, dan sejumlah lokasi lain di Pulau Jawa.

Saya bahagia para konsumen merayakan suka cita Natal tahun 2020 bersama produk Bali Custom Woodworking. Terima kasih JNE telah ikut berbagi kebahagiaan Natal,” ungkapnya.

Disinggung soal bisnis properti di Bali, Gung Adi berkisah manisnya booming property pernah ia rasakan.

Pembangunan perumahan dan vila yang tumbuh luar biasa dalam rentang tahun 2008 hingga 2013 membuat roda usahanya berputar luar biasa kencang kala itu.

Sebagai supplier alias penyedia kusen, pintu, jendela, dan sejenisnya, Gung Adi sangat menikmati iklim menyenangkan tersebut.

Sayangnya, era keemasan itu memudar. Terus menurun dari hari ke hari hingga puncaknya di tahun 2020.

“Di tahun 2020 ini, langkah saya semakin berat. Mau usaha baru, modal tidak ada. Yang bisa saya lakukan adalah menekuni usaha yang bidangnya sama dengan sebelumnya dengan memperluas segmen pasar,” keluhnya sembari melempar senyum optimis.

Berawal dari kecintaannya terhadap kayu, Gung Adi pun mulai bergerilya mempelajari produk-produk kayu apa saja yang masih laku di masa pandemi Covid-19 yang merontokkan sendi-sendi perekonomian dunia.

“Saya pelajari hampir semua situs penjualan online. Khususnya, apa saja produk dari kayu yang masih laku di masa pandemi ini,” imbuhnya.

Akhirnya, ia sampai pada kesimpulan bahwa yang diminati masyarakat dan berpeluang laku terjual adalah produk dapur dengan kisaran harga Rp 20 ribu ke bawah.

Berbekal kesimpulan itu, Gung Adi memulai produksi kecil-kecilan dengan memanfaatkan limbah kayu yang ia miliki.

“Sejatinya bukan limbah. Bahan yang kami manfaatkan ini sisa potongan kayu dengan kualitas masih sangat bagus,” rincinya.

Benar saja, kayu yang diolah Bali Custom Woodworking masuk kategori kayu berkelas. Salah satunya jenis bengkirai.

Karena permintaan pasar sebelum pandemi Covid-19 didominasi oleh bahan kayu jati belanda, ia pun punya banyak punya stok kayu jenis itu.

“Sebenarnya sih jati belanda itu cuma istilah saja. Itu kayu pinus, tapi import. Mungkin karena warna kayu putih kekuningan, maka disebut jati belanda” beber pria berambut ikal pendek itu.

Setelah mantap berkreasi dan berproduksi, Gung Adi mulai memasarkan produk-produknya di berbagai marketplace. Baginya, berjualan di marketplace sangat praktis sekaligus menantang.

Praktis karena cukup menawarkan produk yang diproduksi saja tanpa diribetkan oleh desain dari konsumen.

Tantangannya adalah harus betul-betul melakukan hal terbaik mulai dari pemilihan bahan, produksi, finishing, dan pengemasan.

 

“Selama ini pilihan konsumen kami kebanyakan jatuh pada JNE. JNE itu terpercaya. Kalau tarif sih konsumen tidak terlalu ribet dengan selisih seribu dua ribu per paket.

Lagian harga semua kurir itu kompetitif kok. Konsumen, terutama yang di luar Pulau Jawa dan Bali hampir dipastikan memilih JNE.

Alasannya sih karena pengalaman mereka JNE cepat terkirim. Proses pengirimannya pun aman. Tapi, bukan berarti di Jawa dan Bali tidak ada pembeli kami yang menggunakan JNE.

Persentasenya sih masih menang jauh JNE. Terutama untuk barang jumlah besar. Banyak yang menggunakan JNE Trucking (JTR),” terangnya lebih jauh.

Selain konsumen, Gung Adi sendiri sering menggunakan jasa JNE untuk mengirim part mesin dari Surabaya dan Semarang.

Menerawang peluang bisnis di tahun 2021, Gung Adi menjawab masih suram. Namun, tetap ada harapan untuk masa depan lebih baik.

Ia memprediksi masyarakat cenderung berinvestasi pada instrumen investasi lain yang berbeda dengan sebelum musibah pandemi Covid-19 menerjang.

Berbekal pengalaman akibat virus corona, ungkapnya investasi akan dilakukan dengan sangat cermat dan penuh kehati-hatian. “Pebisnis akan lebih banyak memilih investasi yang gampang diuangkan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Bali Custom Woodworking dengan usaha induk produksi kusen pintu dan jendela berbahan dasar kayu bengkirai, kamfer, dan merbau akan makin berbenah sekaligus mencoba menekuni pernak- pernik kayu yang lebih variatif.

Mulai dari tatakan gelas, rak dinding, sendok, garpu, hingga hiasan-hiasan rumah tangga lain yang berbahan dasar kayu jati Belanda.

“Selain itu, kami tetap berusaha menjual kayu jati belanda siap pakai. Selama pandemi, masyarakat dominan diam di rumah.

Mereka berkreasi dengan jenis kayu yang mudah diolah ini. Jangan menyerah! Mari terus berusaha!” ungkap Gung Adi optimis. (*)

 



692.838 positif, 563.980 sembuh, 20.589 meninggal. Update Covid-19, Kamis (24/12) ini tak membuat Natal batal. JNE pun tetap setia antarkan kebahagiaan Natal dari Bali hingga Tanah Mutiara Hitam, Papua.  

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

BRUDER Ulrig Jumeno, SJ. bahagia membuka paket Jalur Nugraha Ekakurir, JNE. Menempuh jarak 3,282 km dari Bali, Christmas Nativity pesanannya

yang dikirim Jumat (4/12) pukul 09.21 WIB tiba di Wisma Le Cocq D’Armandville, Jalan Jenderal Sudirman, Bukit Meriam, Nabire, Papua 98817, Kamis (17/12).

Untuk memiliki pernak-pernik indah Natal yang dikirim Kurir JNE Regular dengan kode booking TJR0744128211364 dan nomor resi TJR0744128211364, Bruder Ulrig merogoh kocek Rp 376.500.

Rinciannya, harga produk Rp 250 ribu, ongkos kirim Rp 125 ribu, dan biaya asuransi Rp 1.500. Christmas Nativity tersebut kiriman I Gusti Agung Gede Idra Adi, 37.

Owner Bali Custom Woodworking yang beralamat di Jalan Cica, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali Nomor 36 itu ikut merasakan perih akibat anjloknya penjualan properti, khususnya di Pulau Dewata.

Tak tanggung-tanggng, “terjun bebas” hingga 90 persen sesuai laporan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Persatuan Realestat Indonesia (DPD REI) Bali.

Tak mau pasrah atau menyerah dengan keadaan, ayah 3 orang anak laki-laki itu pun memutar otak. Ia ciptakan produk-produk unik dengan membaca selera pasar.

Salah satunya Christmas Nativity yang dikirim hingga ke Nabire, Papua. Sesuatu yang ungkapnya tidak terbayangkan sebelumnya dan menjadi hikmah sekaligus pelajaran berharga dari pandemi Covid-19.      

“Selama Desember ini, saya kebanjiran orderan Christmas wooden Nativity. Sejenis patung siluet cerita Natal.

Mungkin karena cukup unik, permintaan datang dari marketplace serta dari promosi mulut ke mulut. Permintaan pun datang dari Pulau Jawa hingga Nabire, Papua.

Khusus untuk pengiriman ke Papua, menurut konsumen hanya JNE yang paling memuaskan soal waktu pengiriman,” ucap Gung Adi- panggilan akrab I Gusti Agung Gede Idra Adi.

Pesanan demi pesanan itu ia kirim melalui jasa JNE Express Abianbase, Jalan Raya Abianbase, Nomor 100, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali 80351.

“JNE bekerja sama dengan banyak marketplace. Cukup mudah bagi saya selaku penjual. Tinggal menyebut nomor penjualan

saja tanpa menulis alamat, data pengiriman dan penerima langsung muncul,” tandasnya dihubungi Selasa (29/12) siang.

Bertekad mempertahankan dua orang karyawannya yang tersisa akibat “pukulan” telak virus SARS-CoV-2, Gung Adi tak menampik tak punya banyak pilihan selain memasarkan produk-produknya via online.

Menyongsong Hari Suci Natal, Jumat, 25 Desember 2020, ia pun berinisiatif mengabadikan kisah kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus bermodalkan keahliannya mengolah kayu.

“Ini produk perdana yang saya jual secara online. Tapi, lumayanlah buat pemula. Rage mare sai kirim-kirim ajak mablanja online sejak covid ne.Yen kirim-kirim baru setahun ne.

(Saya baru sering kirim-kirim dan belanja online sejak covid ini. Kalau kirim-kirim baru setahun ini),” ungkap pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Udayana itu.

Khusus pengiriman perdana terjauh ke Nabire, Papua, Gung Adi mengaku tak bisa berpaling dari JNE. Menariknya, ia menekankan bahwa di Papua, JNE yang banyak dipilih oleh masyarakat setempat.

Selain ke Nabire, Christmas wooden Nativity karya Gung Adi juga dikirim ke 12 titik lain di luar Pulau Bali.

“Total 12-an produk terjual. Keburu toko saya liburkan karena Hari Raya Natal. Ada pesanan ke Tangerang (Jakarta), Surabaya, Jogjakarta, dan sejumlah lokasi lain di Pulau Jawa.

Saya bahagia para konsumen merayakan suka cita Natal tahun 2020 bersama produk Bali Custom Woodworking. Terima kasih JNE telah ikut berbagi kebahagiaan Natal,” ungkapnya.

Disinggung soal bisnis properti di Bali, Gung Adi berkisah manisnya booming property pernah ia rasakan.

Pembangunan perumahan dan vila yang tumbuh luar biasa dalam rentang tahun 2008 hingga 2013 membuat roda usahanya berputar luar biasa kencang kala itu.

Sebagai supplier alias penyedia kusen, pintu, jendela, dan sejenisnya, Gung Adi sangat menikmati iklim menyenangkan tersebut.

Sayangnya, era keemasan itu memudar. Terus menurun dari hari ke hari hingga puncaknya di tahun 2020.

“Di tahun 2020 ini, langkah saya semakin berat. Mau usaha baru, modal tidak ada. Yang bisa saya lakukan adalah menekuni usaha yang bidangnya sama dengan sebelumnya dengan memperluas segmen pasar,” keluhnya sembari melempar senyum optimis.

Berawal dari kecintaannya terhadap kayu, Gung Adi pun mulai bergerilya mempelajari produk-produk kayu apa saja yang masih laku di masa pandemi Covid-19 yang merontokkan sendi-sendi perekonomian dunia.

“Saya pelajari hampir semua situs penjualan online. Khususnya, apa saja produk dari kayu yang masih laku di masa pandemi ini,” imbuhnya.

Akhirnya, ia sampai pada kesimpulan bahwa yang diminati masyarakat dan berpeluang laku terjual adalah produk dapur dengan kisaran harga Rp 20 ribu ke bawah.

Berbekal kesimpulan itu, Gung Adi memulai produksi kecil-kecilan dengan memanfaatkan limbah kayu yang ia miliki.

“Sejatinya bukan limbah. Bahan yang kami manfaatkan ini sisa potongan kayu dengan kualitas masih sangat bagus,” rincinya.

Benar saja, kayu yang diolah Bali Custom Woodworking masuk kategori kayu berkelas. Salah satunya jenis bengkirai.

Karena permintaan pasar sebelum pandemi Covid-19 didominasi oleh bahan kayu jati belanda, ia pun punya banyak punya stok kayu jenis itu.

“Sebenarnya sih jati belanda itu cuma istilah saja. Itu kayu pinus, tapi import. Mungkin karena warna kayu putih kekuningan, maka disebut jati belanda” beber pria berambut ikal pendek itu.

Setelah mantap berkreasi dan berproduksi, Gung Adi mulai memasarkan produk-produknya di berbagai marketplace. Baginya, berjualan di marketplace sangat praktis sekaligus menantang.

Praktis karena cukup menawarkan produk yang diproduksi saja tanpa diribetkan oleh desain dari konsumen.

Tantangannya adalah harus betul-betul melakukan hal terbaik mulai dari pemilihan bahan, produksi, finishing, dan pengemasan.

 

“Selama ini pilihan konsumen kami kebanyakan jatuh pada JNE. JNE itu terpercaya. Kalau tarif sih konsumen tidak terlalu ribet dengan selisih seribu dua ribu per paket.

Lagian harga semua kurir itu kompetitif kok. Konsumen, terutama yang di luar Pulau Jawa dan Bali hampir dipastikan memilih JNE.

Alasannya sih karena pengalaman mereka JNE cepat terkirim. Proses pengirimannya pun aman. Tapi, bukan berarti di Jawa dan Bali tidak ada pembeli kami yang menggunakan JNE.

Persentasenya sih masih menang jauh JNE. Terutama untuk barang jumlah besar. Banyak yang menggunakan JNE Trucking (JTR),” terangnya lebih jauh.

Selain konsumen, Gung Adi sendiri sering menggunakan jasa JNE untuk mengirim part mesin dari Surabaya dan Semarang.

Menerawang peluang bisnis di tahun 2021, Gung Adi menjawab masih suram. Namun, tetap ada harapan untuk masa depan lebih baik.

Ia memprediksi masyarakat cenderung berinvestasi pada instrumen investasi lain yang berbeda dengan sebelum musibah pandemi Covid-19 menerjang.

Berbekal pengalaman akibat virus corona, ungkapnya investasi akan dilakukan dengan sangat cermat dan penuh kehati-hatian. “Pebisnis akan lebih banyak memilih investasi yang gampang diuangkan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Bali Custom Woodworking dengan usaha induk produksi kusen pintu dan jendela berbahan dasar kayu bengkirai, kamfer, dan merbau akan makin berbenah sekaligus mencoba menekuni pernak- pernik kayu yang lebih variatif.

Mulai dari tatakan gelas, rak dinding, sendok, garpu, hingga hiasan-hiasan rumah tangga lain yang berbahan dasar kayu jati Belanda.

“Selain itu, kami tetap berusaha menjual kayu jati belanda siap pakai. Selama pandemi, masyarakat dominan diam di rumah.

Mereka berkreasi dengan jenis kayu yang mudah diolah ini. Jangan menyerah! Mari terus berusaha!” ungkap Gung Adi optimis. (*)

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/