RADAR BALI - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Bali sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9) telah menimbulkan bencana banjir di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena atmosfer skala besar, yakni Gelombang Ekuatorial Rossby, sebagai pemicu utama terjadinya cuaca ekstrem ini.
Gelombang “Raksasa” di Atmosfer
Bagi kebanyakan orang, nama Rossby mungkin terdengar asing. Namun bagi para ahli cuaca, fenomena ini sangat menentukan pola iklim di wilayah tropis.
Gelombang Rossby, yang pertama kali diperkenalkan oleh Carl-Gustaf Rossby pada 1930-an, adalah gelombang atmosfer berskala planet. Gelombang ini muncul karena adanya rotasi bumi (efek Coriolis) dan perbedaan tekanan di atmosfer.
Di wilayah tropis, fenomena ini dikenal sebagai Equatorial Rossby Waves. Karakteristiknya adalah:
-
Bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan relatif lambat (sekitar 5–10 meter per detik).
-
Memiliki periode sekitar 10–20 hari.
-
Sering memengaruhi pola hujan di kawasan ekuator, termasuk Indonesia.
Ketika gelombang ini aktif, pola angin di lapisan bawah atmosfer menjadi tidak stabil. Massa udara lembap dari Samudra Hindia dan Laut Jawa terdorong berkumpul di atas suatu wilayah.
Jika kondisi suhu permukaan laut hangat, kelembapan meningkat, dan sirkulasi atmosfer mendukung, maka peluang hujan ekstrem sangat besar.
Mengapa Terjadi di Bali?
Lantas, mengapa fenomena ini begitu terasa dampaknya di Bali? Ada beberapa alasan:
-
Posisi Geografis Strategis
Bali berada di antara Samudra Hindia dan Laut Flores, persis di jalur lintasan gelombang atmosfer ekuatorial. Artinya, setiap kali gelombang Rossby aktif, Bali sangat mungkin menjadi “sasaran” penumpukan massa udara lembap. -
Suhu Permukaan Laut Tinggi
Data BMKG mencatat, suhu permukaan laut di selatan Bali dan perairan sekitarnya pada awal September mencapai 28–29°C. Suhu hangat ini mempercepat penguapan dan meningkatkan ketersediaan uap air di atmosfer. -
Topografi yang Kompleks
Bali memiliki pegunungan yang membentang dari barat ke timur. Saat udara lembap terbawa angin dan bertemu dinding pegunungan, ia terangkat paksa (orografis), memperkuat pembentukan awan konvektif. -
Musim Peralihan
September adalah periode transisi dari kemarau ke musim hujan. Pada masa ini, atmosfer lebih labil dan rentan “ditrigger” oleh gangguan skala besar seperti gelombang Rossby.
BMKG menyebut, kombinasi faktor-faktor ini membuat hujan ekstrem di Bali kali ini bukan sekadar fenomena lokal, melainkan akibat “pengaduk raksasa” atmosfer global yang kebetulan aktif di sekitar Indonesia.
Saat aktif di sekitar Indonesia, dampaknya bisa luar biasa: uap air dari laut terkumpul, awan hujan konvektif menjulang tinggi, dan curah hujan menjadi ekstrem.
Menurut penjelasan BMKG, ada tiga mekanisme utama bagaimana gelombang Rossby bisa memicu bencana:
-
Mengumpulkan Uap Air – Gelombang ini memperlambat aliran angin, membuat massa udara basah berkumpul di atas suatu wilayah.
-
Menciptakan Awan Raksasa – Udara lembap kemudian terdorong naik dan membentuk awan kumulonimbus, penghasil hujan deras disertai petir.
-
Memperpanjang Durasi Hujan – Karena bergerak lambat, hujan ekstrem dapat bertahan berhari-hari, bukan hanya sesaat.
Kombinasi inilah yang kini dialami Bali.
Menurut BMKG, curah hujan yang tercatat di beberapa wilayah Bali masuk kategori lebat (lebih dari 50 mm/hari) hingga ekstrem (lebih dari 150 mm/hari). Tingginya kelembapan udara hingga lapisan 12 km mendukung terbentuknya awan hujan yang besar dan berlapis.
“Dari analisis dinamika atmosfer, kondisi ekstrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang Ekuatorial Rossby,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.
BMKG memperkirakan hujan masih akan turun dalam beberapa hari ke depan, meski intensitasnya kemungkinan menurun. Namun, peringatan tetap dikeluarkan agar masyarakat waspada terhadap banjir susulan dan longsor.
Denpasar Hingga Jembrana Lumpuh
Dampak banjir hampir merata di seluruh Bali, namun ada beberapa wilayah yang terdampak paling parah.
-
Denpasar mencatat 43 titik banjir. Luapan Tukad Badung membuat air merendam permukiman hingga atap rumah. Di Jalan Sulawesi, sebuah bangunan tiga lantai ambruk dihantam derasnya arus. Ruas jalan utama seperti Mahendradatta, Kebo Iwa Selatan, hingga kawasan ekonomi Jalan Gajah Mada lumpuh total.
-
Badung melaporkan banjir besar di Underpass Simpang Siur, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter. Mobil-mobil terjebak dan mengapung, menjadikan pemandangan dramatis di pusat pariwisata Bali.
-
Tabanan mengalami genangan yang memutus jalur vital Denpasar–Gilimanuk. Jembatan Yeh Nusa di Selemadeg tergenang setinggi 40 cm, membuat kendaraan tak bisa melintas.
-
Jembrana terdampak banjir di sejumlah desa di Kecamatan Negara. Belasan warga mengungsi setelah rumah mereka terendam. Desa Kaliakah, Banyubiru, Loloan, dan Bale Agung termasuk yang paling parah. ***