Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengenal Fenomena Ekuatorial Rossby, Penyebab Angin Kencang dan Banjir di Bali

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 10 September 2025 | 17:33 WIB
HUJAN DERAS - Peringatan hujan deras dan angin kencang di sebagian besar wilayah Bali menyusul fenomena equatorial Rosby.
HUJAN DERAS - Peringatan hujan deras dan angin kencang di sebagian besar wilayah Bali menyusul fenomena equatorial Rosby.

RADAR BALI - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Bali sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9) telah menimbulkan bencana banjir di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena atmosfer skala besar, yakni Gelombang Ekuatorial Rossby, sebagai pemicu utama terjadinya cuaca ekstrem ini.

Gelombang “Raksasa” di Atmosfer

Bagi kebanyakan orang, nama Rossby mungkin terdengar asing. Namun bagi para ahli cuaca, fenomena ini sangat menentukan pola iklim di wilayah tropis.

Gelombang Rossby, yang pertama kali diperkenalkan oleh Carl-Gustaf Rossby pada 1930-an, adalah gelombang atmosfer berskala planet. Gelombang ini muncul karena adanya rotasi bumi (efek Coriolis) dan perbedaan tekanan di atmosfer.

Di wilayah tropis, fenomena ini dikenal sebagai Equatorial Rossby Waves. Karakteristiknya adalah:

Ketika gelombang ini aktif, pola angin di lapisan bawah atmosfer menjadi tidak stabil. Massa udara lembap dari Samudra Hindia dan Laut Jawa terdorong berkumpul di atas suatu wilayah.

Jika kondisi suhu permukaan laut hangat, kelembapan meningkat, dan sirkulasi atmosfer mendukung, maka peluang hujan ekstrem sangat besar.

Mengapa Terjadi di Bali?

Lantas, mengapa fenomena ini begitu terasa dampaknya di Bali? Ada beberapa alasan:

  1. Posisi Geografis Strategis
    Bali berada di antara Samudra Hindia dan Laut Flores, persis di jalur lintasan gelombang atmosfer ekuatorial. Artinya, setiap kali gelombang Rossby aktif, Bali sangat mungkin menjadi “sasaran” penumpukan massa udara lembap.

  2. Suhu Permukaan Laut Tinggi
    Data BMKG mencatat, suhu permukaan laut di selatan Bali dan perairan sekitarnya pada awal September mencapai 28–29°C. Suhu hangat ini mempercepat penguapan dan meningkatkan ketersediaan uap air di atmosfer.

  3. Topografi yang Kompleks
    Bali memiliki pegunungan yang membentang dari barat ke timur. Saat udara lembap terbawa angin dan bertemu dinding pegunungan, ia terangkat paksa (orografis), memperkuat pembentukan awan konvektif.

  4. Musim Peralihan
    September adalah periode transisi dari kemarau ke musim hujan. Pada masa ini, atmosfer lebih labil dan rentan “ditrigger” oleh gangguan skala besar seperti gelombang Rossby.

BMKG menyebut, kombinasi faktor-faktor ini membuat hujan ekstrem di Bali kali ini bukan sekadar fenomena lokal, melainkan akibat “pengaduk raksasa” atmosfer global yang kebetulan aktif di sekitar Indonesia.

Saat aktif di sekitar Indonesia, dampaknya bisa luar biasa: uap air dari laut terkumpul, awan hujan konvektif menjulang tinggi, dan curah hujan menjadi ekstrem.

Menurut penjelasan BMKG, ada tiga mekanisme utama bagaimana gelombang Rossby bisa memicu bencana:

  1. Mengumpulkan Uap Air – Gelombang ini memperlambat aliran angin, membuat massa udara basah berkumpul di atas suatu wilayah.

  2. Menciptakan Awan Raksasa – Udara lembap kemudian terdorong naik dan membentuk awan kumulonimbus, penghasil hujan deras disertai petir.

  3. Memperpanjang Durasi Hujan – Karena bergerak lambat, hujan ekstrem dapat bertahan berhari-hari, bukan hanya sesaat.

Kombinasi inilah yang kini dialami Bali.

Menurut BMKG, curah hujan yang tercatat di beberapa wilayah Bali masuk kategori lebat (lebih dari 50 mm/hari) hingga ekstrem (lebih dari 150 mm/hari). Tingginya kelembapan udara hingga lapisan 12 km mendukung terbentuknya awan hujan yang besar dan berlapis.

“Dari analisis dinamika atmosfer, kondisi ekstrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang Ekuatorial Rossby,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.

BMKG memperkirakan hujan masih akan turun dalam beberapa hari ke depan, meski intensitasnya kemungkinan menurun. Namun, peringatan tetap dikeluarkan agar masyarakat waspada terhadap banjir susulan dan longsor.

Denpasar Hingga Jembrana Lumpuh

Dampak banjir hampir merata di seluruh Bali, namun ada beberapa wilayah yang terdampak paling parah.

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #pagerwesi #fenomena rossby #koster #bmkg #banjir di Bali #Equatorial Rossby #lumpuh #jembrana #banjir #wayan koster #hari ini #banjir bali #bali #denpasar banjir #denpasar gilimanuk #korban #gianyar