Tentunya, memiliki banyak jenis transportasi publik tak serta-merta meningkatkan minat masyarakat beralih ke transportasi umum.
Kepala Pusat Data dan Informasi Perhubungan Dishub DKI Jakarta, Anthon R. Parura mengatakan warga Jakarta yang menggunakan transportasi publik sebanyak 20 persen dari jumlah penduduk Jakarta yang berjumlah 10 juta orang. Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan pada 2030 mendatang 60 persen penggunakan transportasi umum.
Hal itu dia ungkakan saat Sekretariat DPRD Bali melakukan studi tiru ke Dishub DKI Jakarta kemarin (9/11). Salah satunya cara membangun kendaraan massal harus konsisten. Sistem yang dibangun juga matang. Sebagai bentuk komitmen Pemprov Jakarta terus memberikan subsidi. Menurutnya, transportasi massal merupakan salah satu pelayanan untuk masyarakat bukan semata mencari keuntungan.
" Kalau mau untung, tarif bus way per orang harus Rp 15000 tapi kami pasang harga Rp 3500 sisanya berikan subsidi dengan ini akan terus membuat transportasi publik hidup dan masyarakat mau beralih ke kendaraan massal karena murah," ungkapnya.
Selain itu, Pemprov Jakarta juga memiliki sistem integrasi Jak Lingko yaitu sistem transportasi terintegrasi dan terpadu Jakarta. Anthon mengatakan sistem ini mendukung kebijakan peningkatan penggunaan angkutan umum massal dan tujuannya melakukan pembatasan kendaraan bermotor perorangan. Komitmen Pemprov Jakarta dalam mewujudkan transportasi publik yang berkelanjutan membuat Jakarta mendapatkan banyak penghargaan salah satunya menjadi Kota Pertama di Asia Tenggara yang memenangkan Sustainable Transport Award 2021.
Kemudian bagaimana dengan Bali? Bali juga memiliki rencana membangun kereta yang saat ini masih dalam tahap Feasibility Study atau studi kelayakan. Kereta listrik yang rencananya akan melalui rute Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Seminyak ini masih menananti pihak pendanaan sampai saat ini.
Menurut, Anthon untuk membangun kereta harus ada survey demand terlebih dahulu. Survey penggunaan angkutan umum daerah mana yang potensial. Terlebih Ia juga melihat Bali lebih banyak dipadati kendaraan pribadi. " Kalau saya bisa katakan Bali itu kota motor karena semua pakai motor sampai turis juga sewa motor," kelakarnya.
Salah satu cara membangun kereta harus ada perencanaan yang matang dan juga keberanian. Bentuk perencanaan itu dengan mengetahui demandnya. " Kita harus mengetahui titik di demand yang terbesar. Dalam menentukan titik demand yang terbesar disitu dibuat biasanya station. Sehingga tentunya melihat dari sisi karakteristik wilayah disitu,” katanya.
Lebih lanjutnya ia mengatakan dalam pengoperasian LRT pada Kota-kota seperti Bali dapat menjadi tulang punggung transportasi. Tetapi tentunya untuk berproses menjadi tulang punggung transportasi butuh waktu yang panjang, juga sosialisasi kemudian ada penerapan disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi. Dengan tujuan agar pengguna kendaraan pribadi terdorong mengunakan angkutan umum.
“Mengenai apa yang bisa dicontoh LRT Bali pada Jakarta, yang bisa dicontoh dari sisi pelayanan, pengelolaan tiket juga bisa dicontoh dari hal-hal pemanfaatan tata ruang karena dibangun jaringan kereta bukan hanya mengubah pola transportasi yang biasa dilakukan masyarakat juga memodifikasi pengembangan wilayahnya,” imbuhnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah dengan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali, Rai Ridarta mengatakan bahwa perkiraan masyarakat Bali menggunakan transportasi publik di bawah 5 persen. Ia tidak dapat memastikan karena belum ada data atau survei sebelumnya.
" Kalau beberapa waktu lalu masih rendah di bawah 5 persen tapi sepertinya sekarang sudah mengalami peningkatan seiring banyaknya pilihan layanan ojek online, Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita," ungkapnya. (ni kadek novi febriani/radar bali)
Editor : Hari Puspita