28.7 C
Denpasar
Monday, November 28, 2022

EM4 Pimpin Pasar Pupuk Organik Cair di Indonesia

Oleh: Pak Oles

Direktur Utama Pak Oles Group

TEKNOLOGI EM dengan produknya di Indonesia EM4 (Effective Microorganisms 4) yang secara international bernama EM.1 memimpin pasar pupuk organik cair di Indonesia.

Teknologi EM dikembangkan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang pada 1980.

Selanjutnya Teknologi EM berkembang ke seluruh dunia sejak 1989 setelah dibentuk organisasi penelitian pertanian organik Kyusei (Asia Pasific Natural Agriculture Network, APNAN) yang berkantor pusat di Thailand.

Indonesia sebagai anggota APNAN banyak menyumbangkan pemikiran dan hasil-hasil penelitian pertanian organik dengan Teknologi EM sejak 1990.

Hasil-hasil penelitian pertanian organik di Indonesia yang pada saat itu dimotori oleh Yayasan Bumi Lestari dan Yayasan Kyusei Nature Farming menjadi modal awal mendaftarkan produk EM4 sebagai pupuk organik cair di Indonesia oleh PT. Songgolangit Persada pada 1995.

Untuk mengajarkan dan melatih Teknologi EM kepada petani dan masyarakat, Yayasan IPSA (Istitut Pengembangan Sumber Daya Alam), melakukan pelatihan dan pendidikan Teknologi EM sejak 1997.

Baca Juga:  Bertemu Menteri Jepang, Menko Airlangga Sampaikan Komitmen Aktif Dalam Pilar IPEF

Selanjutnya Yayasan IPSA berganti nama menjadi Yayasan Gede Ngurah Wididana karena alasan perizinan sejak tahun 2022. PT.Songgolangit Persada secara tekun mengembangkan dan memasarkan produk EM4 ke seluruh Indonesia dengan 3 varian produk EM4, yaitu untuk pertanian, peternakan, perikanan.

Melihat perjalanan panjang EM4 di Indonesia sejak tahun 1990 (32 tahun), dengan tetap konsisten pada pengembangan produk pertanian organik, yang dimotori oleh PT. Songgolangit Persada sejak 1993 (29 tahun), maka sangatlah banyak pengalaman dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian, produksi, dan pemasaran yang dimiliki oleh Sumber Daya Manusia PT. Songgolangit Persada, sebagai modal utama untuk menjalankan bisnis EM4 di Indonesia.

Bantuan penelitian dan pengembangan Teknologi EM dari EMRO (Effective Microorganisms Research Organization) Jepang sangat mendukung perkembangan penerapan EM4 di Indonesia.

Penerapan EM4 di bidang perkebunan dilakukan pada perkebunan kelapa sawit, karet, kopi dan teh.

EM4 diterapkan dalam bidang pertanian tanaman pangan (padi dan palawija), hortikultura (buah, bunga dan sayur), serta pada pertanian perkotaan (urban farming), dan pertamanan (taman kota, hotel dan villa).

Baca Juga:  Cara Membuka Mata Ketiga

EM4 juga diterapkan pada peternakan ayam, bebek, babi, sapi, dan kambing, untk mengurangi bau kotoran ternak, sekaligus untuk mengolahnya menjadi pupuk organik.

EM4 juga diterapkan pada perikanan/ tambak udang, ikan, serta untuk pemeliharaan ikan hias.

Dalam bidang pengolahan limbah EM4 diterapkan untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk organik, mengolah limbah organik kota, hotel dan restoran, dan limbah organik rumah tangga.

Saat ini EM4 menjadi pemimpin pasar produk pupuk organik cair di Indonesia; menjadi pelopor teknologi pertanian organik.

Peluang pasar EM4 masih terbuka lebar, mengingat potensi pengembangan pertanian yang sangat besar untuk meningkatkan produksi produk pertanian, peternakan dan perikanan, serta menjaga kualitas tanah, air dan udara.

Pengembangan pertanian organik, khususnya pada produk makanan, kesehatan, lingkungan dan pariwisata sangat terbuka luas. (*/ken)

 



Oleh: Pak Oles

Direktur Utama Pak Oles Group

TEKNOLOGI EM dengan produknya di Indonesia EM4 (Effective Microorganisms 4) yang secara international bernama EM.1 memimpin pasar pupuk organik cair di Indonesia.

Teknologi EM dikembangkan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang pada 1980.

Selanjutnya Teknologi EM berkembang ke seluruh dunia sejak 1989 setelah dibentuk organisasi penelitian pertanian organik Kyusei (Asia Pasific Natural Agriculture Network, APNAN) yang berkantor pusat di Thailand.

Indonesia sebagai anggota APNAN banyak menyumbangkan pemikiran dan hasil-hasil penelitian pertanian organik dengan Teknologi EM sejak 1990.

Hasil-hasil penelitian pertanian organik di Indonesia yang pada saat itu dimotori oleh Yayasan Bumi Lestari dan Yayasan Kyusei Nature Farming menjadi modal awal mendaftarkan produk EM4 sebagai pupuk organik cair di Indonesia oleh PT. Songgolangit Persada pada 1995.

Untuk mengajarkan dan melatih Teknologi EM kepada petani dan masyarakat, Yayasan IPSA (Istitut Pengembangan Sumber Daya Alam), melakukan pelatihan dan pendidikan Teknologi EM sejak 1997.

Baca Juga:  Hidup Baru dengan Pola Pikir Baru

Selanjutnya Yayasan IPSA berganti nama menjadi Yayasan Gede Ngurah Wididana karena alasan perizinan sejak tahun 2022. PT.Songgolangit Persada secara tekun mengembangkan dan memasarkan produk EM4 ke seluruh Indonesia dengan 3 varian produk EM4, yaitu untuk pertanian, peternakan, perikanan.

Melihat perjalanan panjang EM4 di Indonesia sejak tahun 1990 (32 tahun), dengan tetap konsisten pada pengembangan produk pertanian organik, yang dimotori oleh PT. Songgolangit Persada sejak 1993 (29 tahun), maka sangatlah banyak pengalaman dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian, produksi, dan pemasaran yang dimiliki oleh Sumber Daya Manusia PT. Songgolangit Persada, sebagai modal utama untuk menjalankan bisnis EM4 di Indonesia.

Bantuan penelitian dan pengembangan Teknologi EM dari EMRO (Effective Microorganisms Research Organization) Jepang sangat mendukung perkembangan penerapan EM4 di Indonesia.

Penerapan EM4 di bidang perkebunan dilakukan pada perkebunan kelapa sawit, karet, kopi dan teh.

EM4 diterapkan dalam bidang pertanian tanaman pangan (padi dan palawija), hortikultura (buah, bunga dan sayur), serta pada pertanian perkotaan (urban farming), dan pertamanan (taman kota, hotel dan villa).

Baca Juga:  Sah! Lakukan Pelanggaran, Tiga Caleg Kompak Disanksi Teguran Tertulis

EM4 juga diterapkan pada peternakan ayam, bebek, babi, sapi, dan kambing, untk mengurangi bau kotoran ternak, sekaligus untuk mengolahnya menjadi pupuk organik.

EM4 juga diterapkan pada perikanan/ tambak udang, ikan, serta untuk pemeliharaan ikan hias.

Dalam bidang pengolahan limbah EM4 diterapkan untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk organik, mengolah limbah organik kota, hotel dan restoran, dan limbah organik rumah tangga.

Saat ini EM4 menjadi pemimpin pasar produk pupuk organik cair di Indonesia; menjadi pelopor teknologi pertanian organik.

Peluang pasar EM4 masih terbuka lebar, mengingat potensi pengembangan pertanian yang sangat besar untuk meningkatkan produksi produk pertanian, peternakan dan perikanan, serta menjaga kualitas tanah, air dan udara.

Pengembangan pertanian organik, khususnya pada produk makanan, kesehatan, lingkungan dan pariwisata sangat terbuka luas. (*/ken)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/