alexametrics
23.7 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Melalui Senam Yoga

LANSIA merupakan usia yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, diabetes militus, gout (rematik) dan kanker.

Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah hipertensi. Menurut Ridwan (2009, hlm.2), prevalensi hipertensi ringan sebesar 68,4% (diastolik 95-104 mmHg),

hipertensi sedang sebesar 28,1%(diastolik 105-129 mmHg), hipertensi berat sebesar 3,5% (diastolik sama atau lebih besar dengan 130 mmHg).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lanjut usia tua 75-90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun.

Batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang- Undang No 4 Tahun 1965 tentang pemberian bantuan

penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas.

Tekanan darah merupakan tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan darah dinding pembuluh darah.

- Advertisement -

Bila orang mengatakan bahwa tekanan dalam satuan pembuluh darah adalah 50 mmHg, ini berarti bahwa tenaga yang digunakan tersebut akan cukup untuk mendorong suatu kolom air raksa ke atas setinggi 50 mm (Guyton, 2001).

Lebih terperinci lagi dijelaskan bahwa tekanan darah (BP= Blood Pressure) yang dinyatakan dalam millimeter (mm) merkuri (Hg) adalah besarnya tekanan yang dilakukan oleh darah pada dinding arteri (Mc Gowan, 1997).

Hipertensi pada lansia dapat dicegah atau diobati. Ada berbagai cara untuk mengobati hipertensi, antara lain dengan mengkonsumsi obat-obatan penurun tekanan darah,

pengaturan pola makan, olahraga, mengurangi stres, menghindari alkohol, merokok (Kowalski, 2010, hlm.287).

Yoga adalah suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body), pikiran (mind) dan jiwa (soul) (Ridwan, 2009, hlm.127).

Yoga mengombinasikan antara teknik bernapas, relaksasi dan meditasi serta latihan peregangan (Jain, 2011, hlm.190).

Yoga dianjurkan pada penderita hipertensi, karena yoga memiliki efek relaksasi yang dapat meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh.

Sirkulasi darah yang lancar, mengindikasikan kerja jantung yang baik (Ridwan, 2009, hlm.128). Yoga sering disamakan dengan senam.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab yoga memang induk dari senam serta berbagai jenis beladiri, tari, musik, nyanyian, bahkan seni bercinta.

Yoga berasal dari bahasa sansekerta “yuj” yang artinya menghubungkan atau menyatukan (Weller 2001).

Secara horizontal berarti menyatukan badan, pikiran, hati, dan jiwa dalam keselarasan yang alami.

Baca Juga:  Persentase Vaksinasi Rendah, Muspika Door To Door Antar Jemput Lansia

Sedangkan dalam arti vertical berarti menyatukan kesadaran diri kita dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap orang dari berbagai keyakinan dapat mempelajari teknik-teknik yoga.

Yoga bukan hanya di dominasi orang dewasa. Anak remaja dan anak-anak pun dapat melakukannya.

Yoga bahkan dapat melatih anak untuk mengenal dirinya, sekaligus dapat mengendalikan luapan emosi (Claire 2006).

Senam yoga juga menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorphin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relaks/tenang.

Endorphin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami

yang diproduksi otak yang melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorphin dalam tubuh untuk mengurangi tekanan darah tinggi.

Olahraga terbukti dapat meningkatkan kadar endorphin empat sampai lima kali dalam darah. Sehingga, semakin banyak melakukan senam maka akan semakin tinggi pula kadar bendorphin.

Ketika seseorang melakukan senam, maka b-endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi.

Peningkatan b-endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan (Sindhu, 2006).

Ada berbagai macam jenis latihan yoga, yang intinya menggabungkan antara teknik bernapas (pranayama), relaksasi dan meditasi, serta latihan peregangan.

Bernapas adalah suatu tindakan yang otomatis tanpa harus diperintah untuk melakukannya. Tapi, jika kita bernapas dengan cepat dan dangkal akan mengurangi jumlah oksigen yang tersedia dan otak akan bereaksi terhadap hal ini dengan panik.

Bagian dari proses panik adalah peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Dengan mengatur napas menjadi lebih pelan dan dalam akan membuat peregangan pada otot-otot tubuh.

Hal ini menyebabkan tubuh dan pikiran menjadi lebih relaks, nyaman dan tenang yang mebuat penurunan pada tekanan darah.

Menurut Jain (2011, hlm 197), pranayama (teknik bernapas) pada yoga berfungsi untuk menenangkan pikiran dan tubuh

yang membuat detak jantung lebih tenang sehingga tekanan darah dan produksi hormon adrenalin menurun.

Meditasi adalah suatu teknik menenangkan dan memfokuskan pikiran. Meditasi bertujuan untuk membuat tubuh lebih relaks.

Dengan memfokuskan pikiran pada sebuah pemikiran atau gambaran, sebuah kondisi pikiran dapat menerima hal apapun yang masuk tanpa harus dipertimbangkan.

Hal ini berarti, kita dapat menarik diri sementara dari aktivitas sehari-hari yang mampu membuat kita stres dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

Baca Juga:  Jatah Vaksinasi Tahap Kedua di Bali sebanyak 600 Ribu, Ini Sasarannya

Sehingga, kita dapat mencapai kondisi yabg relaks yang salah satu efeknya dapat menurunkan tekanan darah.

Menurut Jain (2011, hlm.202), meditasi bertujuan untuk merangsang gelombang alfa pada otak yang terhubung dengan kondisi relaksasi yang mendalam dan kewaspadaan mental, hal ini dapat menurunkan tekanan darah.

Menurut Townsend (2010, hlm.66), hipertensi terjadi karena baroreseptor mengatur ulang nilai dasar ditingkat yang lebih tinggi dan mempertahankan nilai tekanan darah yang lebih tinggi tersebut.

Dengan latihan peregangan secara teratur dapat mengatur ulang nilai baroreseptor ketingkat yang lebih rendah dan lebih sehat.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap bagian dari latihan yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh

terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi.

Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang dipercaya dapat mempengaruhi

sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon.

Yoga dapat membuat 25% dari pasien penderita tekanan darah tinggi berhenti mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi dan 35% lagi mulai menguranginya (Jain, 2011. Hlm.190).

Kebanyakan lansia akan mengalami peningkatan tekanan darah setelah berusia 75 tahun.

Hipertensi pada lansia diakibatkan karena perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler katub jantung menjadi tebal dan kaku.

Hal ini menyebabkan Menurunnya kontraksi dan volume. Terjadi juga kehilangan elastisitas pembuluh darah, serta tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.

Salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah.

Aktivitas fisik maupun Olahraga yang dimaksudkan adalah yang disesuaikan dengan usia dana tekanan darah seseorang,

karena jika seseorang dengan usia lebih dari 60 tahun dan menderita hipertensi melakukan olahraga berat akan berdampak buruk.

Salah satu jenis olahraga yang bermanfaat dan tidak menimbulkan dampak buruk adalah yoga.

Beberapa teknik dari latihan yoga seperti meditasi dan teknik bernapas memiliki manfaat yang baik bagi tubuh

terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi. (*)

 

 

Andriyan Novalarin Saputra

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang

- Advertisement -

LANSIA merupakan usia yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, diabetes militus, gout (rematik) dan kanker.

Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah hipertensi. Menurut Ridwan (2009, hlm.2), prevalensi hipertensi ringan sebesar 68,4% (diastolik 95-104 mmHg),

hipertensi sedang sebesar 28,1%(diastolik 105-129 mmHg), hipertensi berat sebesar 3,5% (diastolik sama atau lebih besar dengan 130 mmHg).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lanjut usia tua 75-90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun.

Batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang- Undang No 4 Tahun 1965 tentang pemberian bantuan

penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas.

Tekanan darah merupakan tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan darah dinding pembuluh darah.

Bila orang mengatakan bahwa tekanan dalam satuan pembuluh darah adalah 50 mmHg, ini berarti bahwa tenaga yang digunakan tersebut akan cukup untuk mendorong suatu kolom air raksa ke atas setinggi 50 mm (Guyton, 2001).

Lebih terperinci lagi dijelaskan bahwa tekanan darah (BP= Blood Pressure) yang dinyatakan dalam millimeter (mm) merkuri (Hg) adalah besarnya tekanan yang dilakukan oleh darah pada dinding arteri (Mc Gowan, 1997).

Hipertensi pada lansia dapat dicegah atau diobati. Ada berbagai cara untuk mengobati hipertensi, antara lain dengan mengkonsumsi obat-obatan penurun tekanan darah,

pengaturan pola makan, olahraga, mengurangi stres, menghindari alkohol, merokok (Kowalski, 2010, hlm.287).

Yoga adalah suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body), pikiran (mind) dan jiwa (soul) (Ridwan, 2009, hlm.127).

Yoga mengombinasikan antara teknik bernapas, relaksasi dan meditasi serta latihan peregangan (Jain, 2011, hlm.190).

Yoga dianjurkan pada penderita hipertensi, karena yoga memiliki efek relaksasi yang dapat meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh.

Sirkulasi darah yang lancar, mengindikasikan kerja jantung yang baik (Ridwan, 2009, hlm.128). Yoga sering disamakan dengan senam.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab yoga memang induk dari senam serta berbagai jenis beladiri, tari, musik, nyanyian, bahkan seni bercinta.

Yoga berasal dari bahasa sansekerta “yuj” yang artinya menghubungkan atau menyatukan (Weller 2001).

Secara horizontal berarti menyatukan badan, pikiran, hati, dan jiwa dalam keselarasan yang alami.

Baca Juga:  Miris, Korban Dana Macet KSP 99 Tabanan Mayoritas Lansia dan Pensiunan

Sedangkan dalam arti vertical berarti menyatukan kesadaran diri kita dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap orang dari berbagai keyakinan dapat mempelajari teknik-teknik yoga.

Yoga bukan hanya di dominasi orang dewasa. Anak remaja dan anak-anak pun dapat melakukannya.

Yoga bahkan dapat melatih anak untuk mengenal dirinya, sekaligus dapat mengendalikan luapan emosi (Claire 2006).

Senam yoga juga menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorphin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relaks/tenang.

Endorphin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami

yang diproduksi otak yang melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorphin dalam tubuh untuk mengurangi tekanan darah tinggi.

Olahraga terbukti dapat meningkatkan kadar endorphin empat sampai lima kali dalam darah. Sehingga, semakin banyak melakukan senam maka akan semakin tinggi pula kadar bendorphin.

Ketika seseorang melakukan senam, maka b-endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi.

Peningkatan b-endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan (Sindhu, 2006).

Ada berbagai macam jenis latihan yoga, yang intinya menggabungkan antara teknik bernapas (pranayama), relaksasi dan meditasi, serta latihan peregangan.

Bernapas adalah suatu tindakan yang otomatis tanpa harus diperintah untuk melakukannya. Tapi, jika kita bernapas dengan cepat dan dangkal akan mengurangi jumlah oksigen yang tersedia dan otak akan bereaksi terhadap hal ini dengan panik.

Bagian dari proses panik adalah peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Dengan mengatur napas menjadi lebih pelan dan dalam akan membuat peregangan pada otot-otot tubuh.

Hal ini menyebabkan tubuh dan pikiran menjadi lebih relaks, nyaman dan tenang yang mebuat penurunan pada tekanan darah.

Menurut Jain (2011, hlm 197), pranayama (teknik bernapas) pada yoga berfungsi untuk menenangkan pikiran dan tubuh

yang membuat detak jantung lebih tenang sehingga tekanan darah dan produksi hormon adrenalin menurun.

Meditasi adalah suatu teknik menenangkan dan memfokuskan pikiran. Meditasi bertujuan untuk membuat tubuh lebih relaks.

Dengan memfokuskan pikiran pada sebuah pemikiran atau gambaran, sebuah kondisi pikiran dapat menerima hal apapun yang masuk tanpa harus dipertimbangkan.

Hal ini berarti, kita dapat menarik diri sementara dari aktivitas sehari-hari yang mampu membuat kita stres dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

Baca Juga:  Wujud Kepedulian, Wabup Ipat Serahkan Kursi Roda

Sehingga, kita dapat mencapai kondisi yabg relaks yang salah satu efeknya dapat menurunkan tekanan darah.

Menurut Jain (2011, hlm.202), meditasi bertujuan untuk merangsang gelombang alfa pada otak yang terhubung dengan kondisi relaksasi yang mendalam dan kewaspadaan mental, hal ini dapat menurunkan tekanan darah.

Menurut Townsend (2010, hlm.66), hipertensi terjadi karena baroreseptor mengatur ulang nilai dasar ditingkat yang lebih tinggi dan mempertahankan nilai tekanan darah yang lebih tinggi tersebut.

Dengan latihan peregangan secara teratur dapat mengatur ulang nilai baroreseptor ketingkat yang lebih rendah dan lebih sehat.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap bagian dari latihan yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh

terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi.

Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang dipercaya dapat mempengaruhi

sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon.

Yoga dapat membuat 25% dari pasien penderita tekanan darah tinggi berhenti mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi dan 35% lagi mulai menguranginya (Jain, 2011. Hlm.190).

Kebanyakan lansia akan mengalami peningkatan tekanan darah setelah berusia 75 tahun.

Hipertensi pada lansia diakibatkan karena perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler katub jantung menjadi tebal dan kaku.

Hal ini menyebabkan Menurunnya kontraksi dan volume. Terjadi juga kehilangan elastisitas pembuluh darah, serta tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.

Salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah.

Aktivitas fisik maupun Olahraga yang dimaksudkan adalah yang disesuaikan dengan usia dana tekanan darah seseorang,

karena jika seseorang dengan usia lebih dari 60 tahun dan menderita hipertensi melakukan olahraga berat akan berdampak buruk.

Salah satu jenis olahraga yang bermanfaat dan tidak menimbulkan dampak buruk adalah yoga.

Beberapa teknik dari latihan yoga seperti meditasi dan teknik bernapas memiliki manfaat yang baik bagi tubuh

terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi. (*)

 

 

Andriyan Novalarin Saputra

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/