27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Esai Kuningan I Nyoman Kenak : Mari, Belajar Mengendalikan Diri

Hari ini, Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Hari Raya Kuningan digelar setiap enam bulan sekali (210 hari) sesuai penanggalan kalender Bali, yaitu pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Kuningan.

UNTUK  diketahui, satu bulan kalender Bali berjumlah 35 hari, karena perhitungannya berdasarkan pertemuan antara Panca Wara yang berjumlah 5, Sapta Wara berjumlah 7 dan Pawukon yang berjumlah 30. Hari Raya Kuningan dilaksanakan bertepatan 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan.

Hari Raya Kuningan umat melakukan persembahan  sesajen, dan juga alat upacara atau sarana prasarana.  Yakni persembahan nasi kuning merupakan lambing atau simbol dari  kemakmuran.

Kemudian ada sesajen yang berisi  tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam.

Artinya jangan sampai kita tergilas nanti oleh kehidupan kita sendiri sehingga dalam kehidupan ini harus harmonis. Kuncinya berbuat dharma atau kebenaran itu sendiri.

 

Ter merupakan simbol dari panah yang berarti senjata untuk kelengkapan perang dalam kehidupan ini. Senjata paling ampuh adalah ketenangan pikiran.

Baca Juga:  Jaga Imun dengan Aktif Berolahraga

Jadi,  simbol senjata kita untuk memerangi adharma. Senjata kita ya jelas pikiran kita. Sehingga untuk meningkatkan intelektual kita ya dengan cara belajar.

Kita bisa mengendalikan diri dengan cara belajar, long life education. Karena seberapa pun umur kita, semasih diberi umur panjang kewajiban utama belajar.

Ada juga endongan, bentuknya seperti sebuah kompek atau tas, yang berisi perbekalan, sebagai simbol dari bekal.  Sarana Sampian gantung adalah simbol penolak bala.

Namun pada saat Kuningan maupun Galungan kita mempertahankan godaan dari Bhuta Dungulan, bhuta Galungan, karena dharma atau perbuatan yang mulia itulah yang merupakan yang nomor satu.

Dalam Kitab Sarasamuscaya disebutkan perbuatan dharma itulah yang utama.  Sehingga mesti berbuat yang baik memohon kepada Sang Hyang Dharma, dan Tri Purusa yakni Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma untuk diberikan anugerah kepada kita.

Namun biasanya umat kebanyakan  mengupacarai kendaraannya di Tumpek Landep. Tapi kalau ini rasa syukur kita terhadap Anugerah Beliau atas sarana dan prasarana  sehingga memudahkan kita untuk berbuat segalanya.

Baca Juga:  Mantap! Galungan, Warga Nusa Penida Pulang Kampung, Tempat Penitipan Kendaraan Panen!

Pada saat Tumpek Kuningan mestinya diselenggarakan dan itu paling tepat. Tapi apakah salah? Itu kembali ke agama dan keyakinan. Tetapi  alangkah bijaknya pada saat Kuningan kita membuat sesajen untuk rasa puji syukur kita terhadap Hyang Maha Kuasa.

Pada Hari Raya Kuningan di tahun baru ini, walau sudah tidak diberlakukan PPKM, sekarang umat harus bisa menuju Bali era baru  dengan menjalankan “tapa” atau kita bisa mengendalikan diri.

Selain itu kesehatan faktor utama walaupun tidak ada PPKM. Kita  belajar hidup sehat karena saya yakin Covid-19 tidak akan hilang dan akan hidup berdampingan.

Oleh karena itu, bagaimana kita berperang melawan Covid-19 yakni dengan jalan mampu memerangi dengan kepintaran kita melalui hidup bersih, bisa mengendalikan diri dan mengubah perilaku untuk selalu hidup sehat. [esai I Nyoman Kenak, Ketua PHDI Bali ini seperti dituturkan kepada wartawan jaw apos radar bali I made dwija putra]



Hari ini, Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Hari Raya Kuningan digelar setiap enam bulan sekali (210 hari) sesuai penanggalan kalender Bali, yaitu pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Kuningan.

UNTUK  diketahui, satu bulan kalender Bali berjumlah 35 hari, karena perhitungannya berdasarkan pertemuan antara Panca Wara yang berjumlah 5, Sapta Wara berjumlah 7 dan Pawukon yang berjumlah 30. Hari Raya Kuningan dilaksanakan bertepatan 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan.

Hari Raya Kuningan umat melakukan persembahan  sesajen, dan juga alat upacara atau sarana prasarana.  Yakni persembahan nasi kuning merupakan lambing atau simbol dari  kemakmuran.

Kemudian ada sesajen yang berisi  tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam.

Artinya jangan sampai kita tergilas nanti oleh kehidupan kita sendiri sehingga dalam kehidupan ini harus harmonis. Kuncinya berbuat dharma atau kebenaran itu sendiri.

 

Ter merupakan simbol dari panah yang berarti senjata untuk kelengkapan perang dalam kehidupan ini. Senjata paling ampuh adalah ketenangan pikiran.

Baca Juga:  Pasar Murah Dua Jam, Perputaran Uang Capai Rp 72 Juta

Jadi,  simbol senjata kita untuk memerangi adharma. Senjata kita ya jelas pikiran kita. Sehingga untuk meningkatkan intelektual kita ya dengan cara belajar.

Kita bisa mengendalikan diri dengan cara belajar, long life education. Karena seberapa pun umur kita, semasih diberi umur panjang kewajiban utama belajar.

Ada juga endongan, bentuknya seperti sebuah kompek atau tas, yang berisi perbekalan, sebagai simbol dari bekal.  Sarana Sampian gantung adalah simbol penolak bala.

Namun pada saat Kuningan maupun Galungan kita mempertahankan godaan dari Bhuta Dungulan, bhuta Galungan, karena dharma atau perbuatan yang mulia itulah yang merupakan yang nomor satu.

Dalam Kitab Sarasamuscaya disebutkan perbuatan dharma itulah yang utama.  Sehingga mesti berbuat yang baik memohon kepada Sang Hyang Dharma, dan Tri Purusa yakni Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma untuk diberikan anugerah kepada kita.

Namun biasanya umat kebanyakan  mengupacarai kendaraannya di Tumpek Landep. Tapi kalau ini rasa syukur kita terhadap Anugerah Beliau atas sarana dan prasarana  sehingga memudahkan kita untuk berbuat segalanya.

Baca Juga:  Jelang Galungan, Kadistan Tegaskan Stok Babi di Klungkung Aman

Pada saat Tumpek Kuningan mestinya diselenggarakan dan itu paling tepat. Tapi apakah salah? Itu kembali ke agama dan keyakinan. Tetapi  alangkah bijaknya pada saat Kuningan kita membuat sesajen untuk rasa puji syukur kita terhadap Hyang Maha Kuasa.

Pada Hari Raya Kuningan di tahun baru ini, walau sudah tidak diberlakukan PPKM, sekarang umat harus bisa menuju Bali era baru  dengan menjalankan “tapa” atau kita bisa mengendalikan diri.

Selain itu kesehatan faktor utama walaupun tidak ada PPKM. Kita  belajar hidup sehat karena saya yakin Covid-19 tidak akan hilang dan akan hidup berdampingan.

Oleh karena itu, bagaimana kita berperang melawan Covid-19 yakni dengan jalan mampu memerangi dengan kepintaran kita melalui hidup bersih, bisa mengendalikan diri dan mengubah perilaku untuk selalu hidup sehat. [esai I Nyoman Kenak, Ketua PHDI Bali ini seperti dituturkan kepada wartawan jaw apos radar bali I made dwija putra]


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru