30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Peluang, Hambatan, dan Tantangan KTT G20

Oleh: Dr. I Nyoman Sugawa Korry

(Ketua DPD Golkar Bali dan Wakil Ketua DPRD Bali)

 

SEBAGAI pemegang Presidensi G20, Indonesia mengemban tanggung jawab besar dan berat, tetapi kelak akan sangat bermakna, sebagai sebuah catatan bersejarah di kancah internasional.

Penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia, tepatnya di Bali, merupakan pengejawantahan misi Indonesia sebagi pemegang Presidensi G20.

Yaitu menjembatani antara negara kaya dan negara berkembang, terutama dalam rangka, menjawab tantangan pemulihan ekonomi sebagai dampak Covid-19, masalah geo politik, perubahan iklim, dan digital teknologi.

Secara historis G20, dibentuk untuk menjawab krisis finansial tahun 2008; beranggotakan berbagai negara yang tergabung dalam berbagai organisasi lain seperti Uni Eropa, Opec, G7 GCC, dan lain lain.

Saat ini, G20 berkembang menjadi forum multilateral yang jauh berkembang sejak awal pembentukannya.

Baca Juga:  "Ganti Kru"

Menyatukan dan menyeimbangkan berbagai latar belakang negara dan kepentingan, serta masalah krusial yang dihadapi, menguji kepemimpinan Indonesia dalam KTT G20, dengan puncak kegiatan pada tanggal 15 dan 16 November 2022 di Bali.

Masalah krusial yang mesti dirumuskan jalan keluarnya adalah tantangan atas risiko perekonomian global, risiko krisis pangan dan energi, instabilitas geo politik sebagai dampak perang Rusia vs Ukrania dan potensi perang di negara lain, serta tanggung jawab negara- negara maju dalam risiko perubahan iklim.

Keseluruhan potensi risiko dan program antisipasi dibahas dalam sesi-sesi pertemuan pendahuluan yang lama, bertahap dan berjenjang.

Kita semua berharap pada puncak G20 disepakati keputusan-keputusan terbaik oleh kepala negara yang hadir.

Indonesia sebagai tuan rumah, diperkirakan menerima manfaat sebesar Rp 7,5 triliun dalam PDB, diperkirakan 33 ribu tenaga kerja mendapat kesempatan kerja, tumbuhnya kepercayaan wisatawan untuk mendorong kebangkitan pariwisata di Bali dan Indonesia.

Baca Juga:  Koster, Giri, dan AMD Konsisten 3 Besar Poling Pilgub Bali, Senator AWK Optimis Rebut Bali Satu

Hal yang tak kalah penting adalah tampilnya kepemimpinan bangsa Indonesia di tengah- tengah pergaulan Internasional.

Menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa maju lain di dunia internasional, dan Indonesia berperan sebagai jembatan mengatasi tantangan dan ancaman.

Satu hal yang cukup berat diatasi adalah,bagaimana ancaman geo politik, sebagai dampak dari perang yang terjadi, khususnya perang Rusia dan Ukraina, di mana kedua negara yang terlibat langsung, kepala negaranya tidak berkesempatan hadir.

Semoga jalan terbaik, bisa dilahirkan, dan KTT G20 sukses dilaksanakan di Bali. (*/ken)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Oleh: Dr. I Nyoman Sugawa Korry

(Ketua DPD Golkar Bali dan Wakil Ketua DPRD Bali)

 

SEBAGAI pemegang Presidensi G20, Indonesia mengemban tanggung jawab besar dan berat, tetapi kelak akan sangat bermakna, sebagai sebuah catatan bersejarah di kancah internasional.

Penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia, tepatnya di Bali, merupakan pengejawantahan misi Indonesia sebagi pemegang Presidensi G20.

Yaitu menjembatani antara negara kaya dan negara berkembang, terutama dalam rangka, menjawab tantangan pemulihan ekonomi sebagai dampak Covid-19, masalah geo politik, perubahan iklim, dan digital teknologi.

Secara historis G20, dibentuk untuk menjawab krisis finansial tahun 2008; beranggotakan berbagai negara yang tergabung dalam berbagai organisasi lain seperti Uni Eropa, Opec, G7 GCC, dan lain lain.

Saat ini, G20 berkembang menjadi forum multilateral yang jauh berkembang sejak awal pembentukannya.

Baca Juga:  IOH Luncurkan 5G di Bali, Dukung Agenda G20

Menyatukan dan menyeimbangkan berbagai latar belakang negara dan kepentingan, serta masalah krusial yang dihadapi, menguji kepemimpinan Indonesia dalam KTT G20, dengan puncak kegiatan pada tanggal 15 dan 16 November 2022 di Bali.

Masalah krusial yang mesti dirumuskan jalan keluarnya adalah tantangan atas risiko perekonomian global, risiko krisis pangan dan energi, instabilitas geo politik sebagai dampak perang Rusia vs Ukrania dan potensi perang di negara lain, serta tanggung jawab negara- negara maju dalam risiko perubahan iklim.

Keseluruhan potensi risiko dan program antisipasi dibahas dalam sesi-sesi pertemuan pendahuluan yang lama, bertahap dan berjenjang.

Kita semua berharap pada puncak G20 disepakati keputusan-keputusan terbaik oleh kepala negara yang hadir.

Indonesia sebagai tuan rumah, diperkirakan menerima manfaat sebesar Rp 7,5 triliun dalam PDB, diperkirakan 33 ribu tenaga kerja mendapat kesempatan kerja, tumbuhnya kepercayaan wisatawan untuk mendorong kebangkitan pariwisata di Bali dan Indonesia.

Baca Juga:  Demer: Bantuan Koperasi Langkah Tepat Menko Airlangga Hadapi Pandemi

Hal yang tak kalah penting adalah tampilnya kepemimpinan bangsa Indonesia di tengah- tengah pergaulan Internasional.

Menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa maju lain di dunia internasional, dan Indonesia berperan sebagai jembatan mengatasi tantangan dan ancaman.

Satu hal yang cukup berat diatasi adalah,bagaimana ancaman geo politik, sebagai dampak dari perang yang terjadi, khususnya perang Rusia dan Ukraina, di mana kedua negara yang terlibat langsung, kepala negaranya tidak berkesempatan hadir.

Semoga jalan terbaik, bisa dilahirkan, dan KTT G20 sukses dilaksanakan di Bali. (*/ken)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/