alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Waspada Hepatitis Misterius pada Anak

Oleh: dr. I Gusti Ngurah Alit Hendra Wahyudi*

 

HEPATITIS adalah peradangan pada hati atau liver akibat infeksi, bahan kimia, obat-obatan dan alkohol. Hepatitis akut lebih sering terjadi dan menyerang pria daripada wanita. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dari segala usia.

Belakangan ini hepatitis akut telah berkembang di Eropa, Amerika, Asia dan benua lain. Penyakit ini terjadi pada bayi berusia 1 bulan hingga 20 tahun, terutama anak di berusia 3-5 tahun. 11 dari 450 anak yang dilaporkan mengalami hepatitis akut berat telah meninggal, meskipun 7,5% anak dengan hepatitis akut dilakukan transplantasi hati.

Sejauh ini, virus hepatitis A, B, C, D dan E ditemukan bukan menjadi penyebab dari kasus hepatitis akut. Dugaan pertama berasal dari Adenovirus 41, SARS CoV-2, virus ABV dll. Adenovirus biasanya ditularkan melalui saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Diasumsikan bahwa cara penularannya adalah dari droplet, air yang terkontaminasi dan transfer kontak.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi penyakit ini sebagai hepatitis akut dengan etiologi yang tidak diketahui. Hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini pertama kali ditemukan di Inggris Raya pada 5 April 2022. Sejak saat itu, ada laporan peningkatan kasus di Eropa, Asia, dan Amerika.

WHO menetapkan hepatitis akut di luar kejadian langka (CLB) pada 15 April 2022. Di Indonesia sendiri, terdapat 18 kasus suspek hepatitis akut pada pasien anak pada 13 Mei 2022 dan 7 dari 18 pasien dinyatakan meninggal setelah rumah sakit mendapat perawatan di RS.

Gejala utama hepatitis akut adalah demam, lemah, sakit perut, mual, muntah, diare, kehilangan nafsu makan serta nyeri otot dan sendi. Gejala dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat yaitu urin kental seperti teh, tinja putih, kulit dan mata kuning, bahkan terjadi penurunan kesadaran.

Yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis akut pada anak yaitu menjaga personal hygiene dan lingkungan dengan cara mencuci tangan dengan sabun, memasak makanan hingga matang, menghindari kontak dengan pasien yang terkonfirmasi mengalami hepatitis akut, melakukan etika batuk dan tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19, seperti menggunakan masker.

Perlu diperhatikan juga untuk mengenali gejala awal dari infeksi hepatitis akut. Jangan menunggu sampai mengalami gejala berat seperti mata bayi menguning atau bahkan kehilangan kesadaran. Jika ada keluarga atau kerabat terdekat yang mengalami hal tersebut, segera datang ke layanan medis terdekat. (*)

 

*) Dokter umum yang tinggal di Banjar Tebesaya, Peliatan, Ubud, Gianyar.



Oleh: dr. I Gusti Ngurah Alit Hendra Wahyudi*

 

HEPATITIS adalah peradangan pada hati atau liver akibat infeksi, bahan kimia, obat-obatan dan alkohol. Hepatitis akut lebih sering terjadi dan menyerang pria daripada wanita. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dari segala usia.

Belakangan ini hepatitis akut telah berkembang di Eropa, Amerika, Asia dan benua lain. Penyakit ini terjadi pada bayi berusia 1 bulan hingga 20 tahun, terutama anak di berusia 3-5 tahun. 11 dari 450 anak yang dilaporkan mengalami hepatitis akut berat telah meninggal, meskipun 7,5% anak dengan hepatitis akut dilakukan transplantasi hati.

Sejauh ini, virus hepatitis A, B, C, D dan E ditemukan bukan menjadi penyebab dari kasus hepatitis akut. Dugaan pertama berasal dari Adenovirus 41, SARS CoV-2, virus ABV dll. Adenovirus biasanya ditularkan melalui saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Diasumsikan bahwa cara penularannya adalah dari droplet, air yang terkontaminasi dan transfer kontak.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi penyakit ini sebagai hepatitis akut dengan etiologi yang tidak diketahui. Hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini pertama kali ditemukan di Inggris Raya pada 5 April 2022. Sejak saat itu, ada laporan peningkatan kasus di Eropa, Asia, dan Amerika.

WHO menetapkan hepatitis akut di luar kejadian langka (CLB) pada 15 April 2022. Di Indonesia sendiri, terdapat 18 kasus suspek hepatitis akut pada pasien anak pada 13 Mei 2022 dan 7 dari 18 pasien dinyatakan meninggal setelah rumah sakit mendapat perawatan di RS.

Gejala utama hepatitis akut adalah demam, lemah, sakit perut, mual, muntah, diare, kehilangan nafsu makan serta nyeri otot dan sendi. Gejala dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat yaitu urin kental seperti teh, tinja putih, kulit dan mata kuning, bahkan terjadi penurunan kesadaran.

Yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis akut pada anak yaitu menjaga personal hygiene dan lingkungan dengan cara mencuci tangan dengan sabun, memasak makanan hingga matang, menghindari kontak dengan pasien yang terkonfirmasi mengalami hepatitis akut, melakukan etika batuk dan tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19, seperti menggunakan masker.

Perlu diperhatikan juga untuk mengenali gejala awal dari infeksi hepatitis akut. Jangan menunggu sampai mengalami gejala berat seperti mata bayi menguning atau bahkan kehilangan kesadaran. Jika ada keluarga atau kerabat terdekat yang mengalami hal tersebut, segera datang ke layanan medis terdekat. (*)

 

*) Dokter umum yang tinggal di Banjar Tebesaya, Peliatan, Ubud, Gianyar.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/