alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Identifikasi Jenis Flora dan Fauna Jadi Prasasti Digital Masa Depan

MASYARAKAT adat di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Buleleng, Bali punya cara sendiri dalam melakukan konservasi hutan.

Yakni dengan melakukan identifikasi flora dan fauna. Hasil identifikasi disimpan dalam bentuk digital, sebagai catatan masa depan.

 

EKA PRASETYA, Buleleng 

NYOMAN Werdiasa, 29, bersemangat memasuki Alas Mertajati. Sejak setahun terakhir, ia rutin memasuki areal hutan seluas 1.312 hektare itu. Bersama rekan-rekan sebaya, Werdi melakukan pendataan potensi flora dan fauna di dalam kawasan hutan Alas Mertajati.

Berbagai jenis flora berhasil diidentifikasi. Begitu juga dengan fauna. Flora yang berhasil terdata, dicatat lokasinya menggunakan alat global positioning system (GPS). Sehingga lokasi tanaman diketahui secara akurat.

Data-data itu kemudian diolah dalam bentuk data digital. Kelak data-data itu akan dibuka pada publik. Sehingga publik mengetahui secara riil potensi dan tantangan yang tengah dihadapi Alas Mertajati.

Alas Mertajati merupakan hutan yang dilindungi masyarakat adat di empat desa. Ada empat desa adat yang berbatasan langsung dengan hutan tersebut.

Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, dan Desa Adat Umajero. Secara kultural, keempat desa adat ini dikenal sebagai Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Sejak 2018 lalu, masyarakat adat Dalem Tamblingan berjuang mengajukan hak legal pengelolaan dan perlindungan Alas Mertajati. Peluang itu sejatinya terbuka lebar.

Pasal 18D ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945, mengakui eksistensi masyarakat hukum adat. Hal itu juga diperkuat dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012.

Dalam beleid itu, hutan yang berada di wilayah adat, bukan lagi hutan negara. Melainkan menjadi hutan adat. Namun hingga kini perjuangan itu belum menghasilkan titik temu.

Catur Desa Adat tak mau patah semangat. Mereka tetap berjuang mengajukan hak pengelolaan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Baca Juga:  BSMP Ajak Siswa SD Lebih Peduli Orangutan dan Konservasi Lingkungan

Dengan cara melengkapi data-data yang dibutuhkan. Diantaranya adalah pemetaan kawasan dan pendataan keberadaan flora dan fauna.

“Salah satu syarat yang diminta adalah pemetaan. Maka kami serius menggarap ini. Potensi yang ada di dalam hutan, flora dan fauna, kami data. Utamanya flora, kami catat posisinya menggunakan GPS. Ada 20 orang yang kami libatkan dalam proses pendataan,” ungkap Ketua Tim 9 Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Jro Putu Ardana.

Perihal pendataan flora contohnya. Dalam proses pendataan, flora-flora itu dibagi menjadi empat kelompok besar. Yakni pohon kayu dan tumbuhan rambat, perdu dan semak, bambu dan palem, serta anggrek, jamur, dan lumut.

Tim mencatat vegetasi pohon dan kayu terdiri atas 77 jenis tanaman. Bahkan dari puluhan vegetasi itu, dua diantaranya sudah punah.

Vegetasi perdu dan semak sebanyak 44 jenis tanaman, vegetasi bambu dan palem sebanyak 16 jenis tanaman, serta vegetasi anggrek, jamur dan lumut tercatat ada 22 jenis tanaman.

Dari pendataan itu, Catur Desa menemukan fakta yang menyedihkan. Beberapa vegetasi sudah punah. Diantaranya kayu baradah dan kayu kemiri. Termasuk Anggrek Tri Color Amerta Jati (Vanda tricolor var.suavis), yang notabene anggrek endemis Alas Mertajati.

“Saat ini sudah kami lakukan inventarisasi, dan kami menjadi lebih paham seperti apa kondisi riil yang ada di dalam hutan. Kami juga sudah menyusun rencana aksi melakukan penyelamatan hutan ini,” kata Ardana.

Upaya penyelamatan hutan wajib dilakukan. Sebab Alas Mertajati mengairi sepertiga Pulau Bali. Langkah penyelematan akan dilakukan dari sisi konservasi, ekonomi, pendidikan, informasi dan data, serta kerjasama dan keberlanjutan.

Baca Juga:  Bumi Panas

“Kami berupaya melakukan manajemen adaptif. Merangkul seluruh pihak yang terkait dan berkepentingan dengan hutan ini. Supaya hutan ini tetap berfungsi secara ekologis. Setidaknya memberikan dampak udara bersih dan air bersih untuk masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ardana mengatakan, pada era kiwari digitalisasi mutlak dilakukan.

Ia menganalogikan data digital serupa prasasti. Apabila dulu prasasti ditulis pada lembaran lontar atau lempeng perunggu, maka kini prasasti dibuat dalam bentuk digital.

“Data ini prasasti juga. Kelak akan dilihat dan dibacara keturunan kita. Hanya saja prasasti ini bentuknya digital. Meski kami masyarakat adat, kami tidak ingin memunculkan kesan primitif dan konservatif. Biarpun kami masyarakat adat, dalam hal iptek kami tidak ketinggalan,” tegasnya.

Sementara itu Dinas Kehutanan Bali menyebut, pendataan digital itu sebagai langkah maju. Sejauh ini belum ada komunitas, apalagi masyarakat adat, yang mencatat kawasan hutan mereka secara detail.

“Selama ini yang terjadi itu adalah digitalisasi dalam bentuk kerjasama pelestarian. Misalnya program adopsi pohon. Itu sudah digital.

Tapi belum ada yang sampai melakukan identifikasi secara rinci seperti Catur Desa Adat Dalem Tamblingan,” ungkap Kepala Bidang Pengembangan, Pemanfaatan, Penggunaan, Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (P4H KSDAE), Hesti Sagiri.

Hesti mengungkapkan, selama ini banyak komunitas yang menggagas ide pohon asuh dan adopsi pohon dengan konsep digital.

“Khusus yang dilakukan catur desa, itu langkah yang luar biasa. Bahkan kalau perlu, ketika ada tanaman endemik yang ditemukan di wilayah desa adat, juga dicatat. Agar dapat dijaga kelestariannya,” tandasnya.


MASYARAKAT adat di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Buleleng, Bali punya cara sendiri dalam melakukan konservasi hutan.

Yakni dengan melakukan identifikasi flora dan fauna. Hasil identifikasi disimpan dalam bentuk digital, sebagai catatan masa depan.

 

EKA PRASETYA, Buleleng 

NYOMAN Werdiasa, 29, bersemangat memasuki Alas Mertajati. Sejak setahun terakhir, ia rutin memasuki areal hutan seluas 1.312 hektare itu. Bersama rekan-rekan sebaya, Werdi melakukan pendataan potensi flora dan fauna di dalam kawasan hutan Alas Mertajati.

Berbagai jenis flora berhasil diidentifikasi. Begitu juga dengan fauna. Flora yang berhasil terdata, dicatat lokasinya menggunakan alat global positioning system (GPS). Sehingga lokasi tanaman diketahui secara akurat.

Data-data itu kemudian diolah dalam bentuk data digital. Kelak data-data itu akan dibuka pada publik. Sehingga publik mengetahui secara riil potensi dan tantangan yang tengah dihadapi Alas Mertajati.

Alas Mertajati merupakan hutan yang dilindungi masyarakat adat di empat desa. Ada empat desa adat yang berbatasan langsung dengan hutan tersebut.

Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, dan Desa Adat Umajero. Secara kultural, keempat desa adat ini dikenal sebagai Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Sejak 2018 lalu, masyarakat adat Dalem Tamblingan berjuang mengajukan hak legal pengelolaan dan perlindungan Alas Mertajati. Peluang itu sejatinya terbuka lebar.

Pasal 18D ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945, mengakui eksistensi masyarakat hukum adat. Hal itu juga diperkuat dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012.

Dalam beleid itu, hutan yang berada di wilayah adat, bukan lagi hutan negara. Melainkan menjadi hutan adat. Namun hingga kini perjuangan itu belum menghasilkan titik temu.

Catur Desa Adat tak mau patah semangat. Mereka tetap berjuang mengajukan hak pengelolaan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Baca Juga:  Ramalan tentang Kemerdekaan Indonesia Menurut Ranggawarsita

Dengan cara melengkapi data-data yang dibutuhkan. Diantaranya adalah pemetaan kawasan dan pendataan keberadaan flora dan fauna.

“Salah satu syarat yang diminta adalah pemetaan. Maka kami serius menggarap ini. Potensi yang ada di dalam hutan, flora dan fauna, kami data. Utamanya flora, kami catat posisinya menggunakan GPS. Ada 20 orang yang kami libatkan dalam proses pendataan,” ungkap Ketua Tim 9 Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Jro Putu Ardana.

Perihal pendataan flora contohnya. Dalam proses pendataan, flora-flora itu dibagi menjadi empat kelompok besar. Yakni pohon kayu dan tumbuhan rambat, perdu dan semak, bambu dan palem, serta anggrek, jamur, dan lumut.

Tim mencatat vegetasi pohon dan kayu terdiri atas 77 jenis tanaman. Bahkan dari puluhan vegetasi itu, dua diantaranya sudah punah.

Vegetasi perdu dan semak sebanyak 44 jenis tanaman, vegetasi bambu dan palem sebanyak 16 jenis tanaman, serta vegetasi anggrek, jamur dan lumut tercatat ada 22 jenis tanaman.

Dari pendataan itu, Catur Desa menemukan fakta yang menyedihkan. Beberapa vegetasi sudah punah. Diantaranya kayu baradah dan kayu kemiri. Termasuk Anggrek Tri Color Amerta Jati (Vanda tricolor var.suavis), yang notabene anggrek endemis Alas Mertajati.

“Saat ini sudah kami lakukan inventarisasi, dan kami menjadi lebih paham seperti apa kondisi riil yang ada di dalam hutan. Kami juga sudah menyusun rencana aksi melakukan penyelamatan hutan ini,” kata Ardana.

Upaya penyelamatan hutan wajib dilakukan. Sebab Alas Mertajati mengairi sepertiga Pulau Bali. Langkah penyelematan akan dilakukan dari sisi konservasi, ekonomi, pendidikan, informasi dan data, serta kerjasama dan keberlanjutan.

Baca Juga:  Unwar Jamin Mutu Lulusan di Masa Pandemi

“Kami berupaya melakukan manajemen adaptif. Merangkul seluruh pihak yang terkait dan berkepentingan dengan hutan ini. Supaya hutan ini tetap berfungsi secara ekologis. Setidaknya memberikan dampak udara bersih dan air bersih untuk masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ardana mengatakan, pada era kiwari digitalisasi mutlak dilakukan.

Ia menganalogikan data digital serupa prasasti. Apabila dulu prasasti ditulis pada lembaran lontar atau lempeng perunggu, maka kini prasasti dibuat dalam bentuk digital.

“Data ini prasasti juga. Kelak akan dilihat dan dibacara keturunan kita. Hanya saja prasasti ini bentuknya digital. Meski kami masyarakat adat, kami tidak ingin memunculkan kesan primitif dan konservatif. Biarpun kami masyarakat adat, dalam hal iptek kami tidak ketinggalan,” tegasnya.

Sementara itu Dinas Kehutanan Bali menyebut, pendataan digital itu sebagai langkah maju. Sejauh ini belum ada komunitas, apalagi masyarakat adat, yang mencatat kawasan hutan mereka secara detail.

“Selama ini yang terjadi itu adalah digitalisasi dalam bentuk kerjasama pelestarian. Misalnya program adopsi pohon. Itu sudah digital.

Tapi belum ada yang sampai melakukan identifikasi secara rinci seperti Catur Desa Adat Dalem Tamblingan,” ungkap Kepala Bidang Pengembangan, Pemanfaatan, Penggunaan, Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (P4H KSDAE), Hesti Sagiri.

Hesti mengungkapkan, selama ini banyak komunitas yang menggagas ide pohon asuh dan adopsi pohon dengan konsep digital.

“Khusus yang dilakukan catur desa, itu langkah yang luar biasa. Bahkan kalau perlu, ketika ada tanaman endemik yang ditemukan di wilayah desa adat, juga dicatat. Agar dapat dijaga kelestariannya,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/