alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Pengelolaan Sumberdaya Air di Pesisir Berbasis Blue Economy

KONSEP blue economy jadi perhatian pembangunan di Indonesia. Blue economy merupakan model ekonomi strategis yang dapat diimplementasikan pada kawasan wilayah pesisir. Hal ini diindikasikan dengan dirumuskannya sebuah konsep pengembangan blue economy untuk mengidentifikasi penerapan prinsip blue economy pada lokasi sasaran pengembangan dan pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir. Untuk lebih meningkatkan tingkat penerapan prinsip blue economy pada ketiga usaha tersebut, perlu dukungan pemerintah baik berupa sarana maupun prasarana yang lebih baik dengan disertai upaya pendampingan lebih intensif.

Daerah resapan air baku mulai berkurang yang mengakibatkan waduk tidak dapat menghasilkan air untuk mencukupi kebutuhan yang akan dating terutama di musim kemarau. Sedangkan untuk kebutuhan jangka pendek (2018-2020) komoditas pokok berupa air bersih yang diperlukan masyarakat seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci pakaian mencapai 15 lliter per detik. Sedangkan untuk kebutuhan suplai air jangka panjang khusus di Pulau Bali, yakni 20-30 liter per detik. Selain masalah berkurangnya daerah resapan air pemicu penurunan debit air, masalah lain adalah  kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat. Masyarakat di Bali  sering mengeluhkan kualitas air yang mereka peroleh kurang layak untuk dikonsumsi. Kurang baiknya kualitas air dirasakan oleh warga sekitarnya di beberapa tempat di Bali.  Harus dilakukan pengelolaan air yang baik, bukan saja mengelola air baku, tetapi juga mengelola sumber air di pesisir.

Baca Juga:  Coaching Clinic, Unwar Bedah Proposal PKM Secara Daring

 

Kondisi lingkungan yang terus menurun berdampak terhadap keberlangsungan kehidupan umat manusia. Kerusakan di wilayah pesisir akibat pencemaran air, sampah,  dan banjir memicu penurunan kualitas lingkungan untuk daya dukung kehidupan. Perekonomian masyarakat wilayah pesisir terus mengalami tekanan akibat kemiskinan, ketidakmerataan kesejahteraan, minimnya fasilitas dan adanya kriminalitas. Upaya peningkatan kondisi lingkungan dan ekonomi dapat dilakukan secara bersama-sama oleh umat manusia dengan mengubah perilaku kita dalam mengelola dan merespons terhadap kondisi alam. Kemajuan teknologi dapat membantu manusia untuk menyelaraskan pembangunan yang seimbang dengan karakteristik ekosistem lingkungan serta didukung oleh perilaku dalam perencanaan kehidupan yang berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian alam.

Konsep  blue economy berorientasi pada empat prinsip. Pertama, kekuatan dan potensi dari wilayah  pesisir tersebut. Kedua, nilai tambah ekosistem di hilir sungai yang dapat menunjang pembangunan  wilayah pesisir. Kebijakan pemerintah kota di wilayah pesisir harus dipadukan dengan kondisi  wilayah pesisir tersebut. Sehingga industri yang dikembangkan pada kawasan konservasi  hilir sungai berbasis pada perairan di wilayah Provinsi Bali. Ketiga, pemberdayaan berorientasi pada penguatan ekonomi masyarakat secara mikro. Masyarakat  dalam hal ini bertindak sebagai subyek pembangunan. Perlunya penguatan kapasitas,  pengetahuan dan keterampilan rumah tangga masyarakat pesisir dalam penguasaan faktor-faktor produksi dalam lahan perikanan dan kehutanan. Penguatan ekonomi rakyat  harus mampu menyentuh penguatan atas faktor-faktor produksi. Keempat, prinsip berkelanjutan,  konsep pembangunan kawasan wilayah pesisir hilir sungai harus mengintegrasikan komponen ekonomi, ekologi, dan sosial secara adil.

Baca Juga:  Peneliti Unwar: Daun Jeruk Nipis Bagus untuk Usir Lalat Buah

Masyarakat pesisir harus bertindak sebagai subyek  pembangunan wilayah pesisir di Bali sehingga akan memperkuat jaringan dan  daya dukung dalam memelihara kualitas lingkungan pesisir. Salah satu konsep yang dapat dikembangkan yaitu Konsep Ekonomi Biru (blue economy) yang digagas oleh Prof. Gunter Pauli, melalui bukunya “Blue Economy” tahun 2010. Konsep ini didasari atas kondisi ekonomi dunia yang mempunyai kecenderungan eksploitasi melebihi daya dukung alam, sehingga diperlukan perubahan tindakan untuk mengembalikan kembali kemampuan daya dukung alam tersebut. Bahan baku dan proses produksi bersumber dari alam dengan mengikuti cara alam bekerja serta memberdayakan sumber daya dan masyarakat lokal. Proses ini diharapkan dapat menumbuhkan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan tetap menjaga kondisi langit serta laut tetap biru atau juga disebut dengan “Blue Sky – Blue Ocean” (Pauli, 2013).

*) Penulis merupakan dosen Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa.

- Advertisement -
- Advertisement -

KONSEP blue economy jadi perhatian pembangunan di Indonesia. Blue economy merupakan model ekonomi strategis yang dapat diimplementasikan pada kawasan wilayah pesisir. Hal ini diindikasikan dengan dirumuskannya sebuah konsep pengembangan blue economy untuk mengidentifikasi penerapan prinsip blue economy pada lokasi sasaran pengembangan dan pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir. Untuk lebih meningkatkan tingkat penerapan prinsip blue economy pada ketiga usaha tersebut, perlu dukungan pemerintah baik berupa sarana maupun prasarana yang lebih baik dengan disertai upaya pendampingan lebih intensif.

Daerah resapan air baku mulai berkurang yang mengakibatkan waduk tidak dapat menghasilkan air untuk mencukupi kebutuhan yang akan dating terutama di musim kemarau. Sedangkan untuk kebutuhan jangka pendek (2018-2020) komoditas pokok berupa air bersih yang diperlukan masyarakat seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci pakaian mencapai 15 lliter per detik. Sedangkan untuk kebutuhan suplai air jangka panjang khusus di Pulau Bali, yakni 20-30 liter per detik. Selain masalah berkurangnya daerah resapan air pemicu penurunan debit air, masalah lain adalah  kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat. Masyarakat di Bali  sering mengeluhkan kualitas air yang mereka peroleh kurang layak untuk dikonsumsi. Kurang baiknya kualitas air dirasakan oleh warga sekitarnya di beberapa tempat di Bali.  Harus dilakukan pengelolaan air yang baik, bukan saja mengelola air baku, tetapi juga mengelola sumber air di pesisir.

Baca Juga:  Yuk Cegah Obesitas dengan Berolahraga di Rumah

 


Kondisi lingkungan yang terus menurun berdampak terhadap keberlangsungan kehidupan umat manusia. Kerusakan di wilayah pesisir akibat pencemaran air, sampah,  dan banjir memicu penurunan kualitas lingkungan untuk daya dukung kehidupan. Perekonomian masyarakat wilayah pesisir terus mengalami tekanan akibat kemiskinan, ketidakmerataan kesejahteraan, minimnya fasilitas dan adanya kriminalitas. Upaya peningkatan kondisi lingkungan dan ekonomi dapat dilakukan secara bersama-sama oleh umat manusia dengan mengubah perilaku kita dalam mengelola dan merespons terhadap kondisi alam. Kemajuan teknologi dapat membantu manusia untuk menyelaraskan pembangunan yang seimbang dengan karakteristik ekosistem lingkungan serta didukung oleh perilaku dalam perencanaan kehidupan yang berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian alam.

Konsep  blue economy berorientasi pada empat prinsip. Pertama, kekuatan dan potensi dari wilayah  pesisir tersebut. Kedua, nilai tambah ekosistem di hilir sungai yang dapat menunjang pembangunan  wilayah pesisir. Kebijakan pemerintah kota di wilayah pesisir harus dipadukan dengan kondisi  wilayah pesisir tersebut. Sehingga industri yang dikembangkan pada kawasan konservasi  hilir sungai berbasis pada perairan di wilayah Provinsi Bali. Ketiga, pemberdayaan berorientasi pada penguatan ekonomi masyarakat secara mikro. Masyarakat  dalam hal ini bertindak sebagai subyek pembangunan. Perlunya penguatan kapasitas,  pengetahuan dan keterampilan rumah tangga masyarakat pesisir dalam penguasaan faktor-faktor produksi dalam lahan perikanan dan kehutanan. Penguatan ekonomi rakyat  harus mampu menyentuh penguatan atas faktor-faktor produksi. Keempat, prinsip berkelanjutan,  konsep pembangunan kawasan wilayah pesisir hilir sungai harus mengintegrasikan komponen ekonomi, ekologi, dan sosial secara adil.

Baca Juga:  Pindang Tongkol Vakum Menuju Daya Saing Global

Masyarakat pesisir harus bertindak sebagai subyek  pembangunan wilayah pesisir di Bali sehingga akan memperkuat jaringan dan  daya dukung dalam memelihara kualitas lingkungan pesisir. Salah satu konsep yang dapat dikembangkan yaitu Konsep Ekonomi Biru (blue economy) yang digagas oleh Prof. Gunter Pauli, melalui bukunya “Blue Economy” tahun 2010. Konsep ini didasari atas kondisi ekonomi dunia yang mempunyai kecenderungan eksploitasi melebihi daya dukung alam, sehingga diperlukan perubahan tindakan untuk mengembalikan kembali kemampuan daya dukung alam tersebut. Bahan baku dan proses produksi bersumber dari alam dengan mengikuti cara alam bekerja serta memberdayakan sumber daya dan masyarakat lokal. Proses ini diharapkan dapat menumbuhkan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan tetap menjaga kondisi langit serta laut tetap biru atau juga disebut dengan “Blue Sky – Blue Ocean” (Pauli, 2013).

*) Penulis merupakan dosen Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/