alexametrics
23.7 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Indeks Pembangunan Manusia Bali, Sebuah Angka dan “Amunisi”

INDEKS Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia di suatu negara maupun daerah. Indikator ini diperkenalkan UNDP pada tahun 1990. Indikator ini disusun oleh tiga dimensi dasar, yaitu Umur Panjang dan Hidup Sehat, Pengetahuan, dan Standar Hidup Layak.

 

Dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat ditunjukkan oleh Umur Harapan Hidup Saat Lahir (UHH), yaitu rata-rata perkiraan usia hidup seseorang sejak lahir. Semakin tinggi UHH menggambarkan tingginya tingkat kesehatan masyarakat.

 

Dimensi Pengetahuan diukur dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). HLS menunjukkan peluang anak usia tujuh tahun ke atas mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. RLS merupakan jumlah tahun belajar pada jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas. Kedua indikator ini menggambarkan tingkat pembangunan pendidikan.

 

Dimensi Standar Hidup Layak diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan. Pengeluaran per kapita menggambarkan kemampuan masyarakat menggunakan pendapatannya untuk konsumsi barang maupun jasa. Semakin tinggi pengeluaran per kapita mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah.

- Advertisement -

 

Pada tahun 2021, IPM Indonesia sebesar 72,29 yang berarti capaian pembangunan manusia di Indonesia berada dalam kategori tinggi. IPM tertinggi di Indonesia masih ditempati oleh Provinsi DKI Jakarta, sedangkan yang terendah adalah Provinsi Papua. Jika dibandingkan dengan tahun 2020, IPM Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0,35 poin. Peningkatan tertinggi dialami oleh Provinsi Kalimantan Timur dan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga:  Bali Mulai Macet, Sepuluh Negara Sudah Terhubung dengan Bali

IPM Bali pada tahun 2021 sebesar 75,69, yang berarti berada pada kategori tinggi dan berada pada posisi 5 secara nasional. Dalam lima tahun terakhir, IPM Provinsi Bali secara rata-rata mengalami peningkatan sebesar 0,41 poin dan peningkatan pada tahun 2019 merupakan yang tertinggi sebesar 0,61 poin.

 

Kota Denpasar merupakan daerah dengan IPM tertinggi di Provinsi Bali dengan nilai IPM sebesar 84,03 pada tahun 2021 dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kabupaten lain dengan IPM sangat tinggi adalah Kabupaten Badung dengan nilai 81,83. Kabupaten Badung masuk ke dalam kategori sangat tinggi sejak tahun 2017.

 

Daerah lain di Bali termasuk dalam kategori tinggi dan sedang. Kabupaten dengan kategori IPM sedang adalah Kabupaten Bangli dan Karangasem. Karangasem merupakan daerah dengan nilai IPM terendah di Provinsi Bali. Meskipun demikian, capaian IPM di seluruh kabupaten/ kota di Provinsi Bali selalu mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.

 

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Bali terus mengalami kenaikan. Peningkatan kualitas SDM tersebut jika dimanfaatkan dengan baik tentunya akan berdampak positif bagi perekonomian di Provinsi Bali.

 

Kondisi pandemi yang terjadi merupakan sebuah pukulan telak bagi perekonomian Bali yang sangat bergantung pada pariwisata. Peningkatan kasus Covid-19 mendorong diterapkannya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang mengakibatkan perekonomian lumpuh.

 

PPKM tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, sektor pendidikan juga mengalami pukulan yang tak kalah berat. Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sangat membebani bagi guru, siswa, dan orang tua. Efektifitas pembelajaran jarak jauh juga belum sebaik pembelajaran dengan tatap muka.

Baca Juga:  Berprotein Tinggi, Dipercaya Bisa Atasi Problem Susah Punya Keturunan

Dilihat dari sudut pandang perekonomian, daya beli masyarakat Provinsi Bali selama dua tahun terakhir sangat dipengaruhi oleh pandemi yang terjadi. Kondisi tersebut dapat dilihat dari penurunan pengeluaran per kapita masyarakat Provinsi Bali.

 

Pengeluaran per kapita masyarakat Provinsi Bali turun sebesar 217 ribu rupiah pada tahun 2020 dan kembali mengalami penurunan sebesar 109 ribu rupiah pada tahun 2021.

 

Penurunan tertinggi pada tahun 2020 terjadi di Kabupaten Buleleng, penurunan pengeluaran per kapita di kabupaten ini adalah sebesar 317 ribu rupiah dan kembali turun sebesar 101 ribu rupiah pada tahun 2021.

 

Pada tahun 2021, penurunan pengeluaran per kapita masyarakat Kabupaten Badung merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 176 ribu rupiah setelah mengalami penurunan sebesar 125 ribu rupiah pada tahun sebelumnya.

 

Pada akhirnya, angka hanyalah sebuah angka jika tidak diikuti dengan aksi. Angka Indeks Pembangunan Manusia di Bali menunjukkan bahwa masyarakat Bali memiliki amunisi yang kuat untuk segera bangkit di era pandemi ini. Hal ini seyogianya dapat menambah optimisme untuk keluar dari keterpurukan akibat pandemi.

 

Di sisi lain, pemerintah hendaknya terus berupaya semaksimal mungkin demi mewujudkan pembangunan manusia yang merata di seluruh kabupaten/ kota di Provinsi Bali.

 

*) Penulis merupakan statistisi di BPS Provinsi Bali.

- Advertisement -

INDEKS Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia di suatu negara maupun daerah. Indikator ini diperkenalkan UNDP pada tahun 1990. Indikator ini disusun oleh tiga dimensi dasar, yaitu Umur Panjang dan Hidup Sehat, Pengetahuan, dan Standar Hidup Layak.

 

Dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat ditunjukkan oleh Umur Harapan Hidup Saat Lahir (UHH), yaitu rata-rata perkiraan usia hidup seseorang sejak lahir. Semakin tinggi UHH menggambarkan tingginya tingkat kesehatan masyarakat.

 

Dimensi Pengetahuan diukur dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). HLS menunjukkan peluang anak usia tujuh tahun ke atas mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. RLS merupakan jumlah tahun belajar pada jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas. Kedua indikator ini menggambarkan tingkat pembangunan pendidikan.

 

Dimensi Standar Hidup Layak diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan. Pengeluaran per kapita menggambarkan kemampuan masyarakat menggunakan pendapatannya untuk konsumsi barang maupun jasa. Semakin tinggi pengeluaran per kapita mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah.

 

Pada tahun 2021, IPM Indonesia sebesar 72,29 yang berarti capaian pembangunan manusia di Indonesia berada dalam kategori tinggi. IPM tertinggi di Indonesia masih ditempati oleh Provinsi DKI Jakarta, sedangkan yang terendah adalah Provinsi Papua. Jika dibandingkan dengan tahun 2020, IPM Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0,35 poin. Peningkatan tertinggi dialami oleh Provinsi Kalimantan Timur dan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga:  Berprotein Tinggi, Dipercaya Bisa Atasi Problem Susah Punya Keturunan

IPM Bali pada tahun 2021 sebesar 75,69, yang berarti berada pada kategori tinggi dan berada pada posisi 5 secara nasional. Dalam lima tahun terakhir, IPM Provinsi Bali secara rata-rata mengalami peningkatan sebesar 0,41 poin dan peningkatan pada tahun 2019 merupakan yang tertinggi sebesar 0,61 poin.

 

Kota Denpasar merupakan daerah dengan IPM tertinggi di Provinsi Bali dengan nilai IPM sebesar 84,03 pada tahun 2021 dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kabupaten lain dengan IPM sangat tinggi adalah Kabupaten Badung dengan nilai 81,83. Kabupaten Badung masuk ke dalam kategori sangat tinggi sejak tahun 2017.

 

Daerah lain di Bali termasuk dalam kategori tinggi dan sedang. Kabupaten dengan kategori IPM sedang adalah Kabupaten Bangli dan Karangasem. Karangasem merupakan daerah dengan nilai IPM terendah di Provinsi Bali. Meskipun demikian, capaian IPM di seluruh kabupaten/ kota di Provinsi Bali selalu mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.

 

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Bali terus mengalami kenaikan. Peningkatan kualitas SDM tersebut jika dimanfaatkan dengan baik tentunya akan berdampak positif bagi perekonomian di Provinsi Bali.

 

Kondisi pandemi yang terjadi merupakan sebuah pukulan telak bagi perekonomian Bali yang sangat bergantung pada pariwisata. Peningkatan kasus Covid-19 mendorong diterapkannya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang mengakibatkan perekonomian lumpuh.

 

PPKM tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, sektor pendidikan juga mengalami pukulan yang tak kalah berat. Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sangat membebani bagi guru, siswa, dan orang tua. Efektifitas pembelajaran jarak jauh juga belum sebaik pembelajaran dengan tatap muka.

Baca Juga:  Olahraga; Obat Stres yang Murah Bagi Mahasiswa

Dilihat dari sudut pandang perekonomian, daya beli masyarakat Provinsi Bali selama dua tahun terakhir sangat dipengaruhi oleh pandemi yang terjadi. Kondisi tersebut dapat dilihat dari penurunan pengeluaran per kapita masyarakat Provinsi Bali.

 

Pengeluaran per kapita masyarakat Provinsi Bali turun sebesar 217 ribu rupiah pada tahun 2020 dan kembali mengalami penurunan sebesar 109 ribu rupiah pada tahun 2021.

 

Penurunan tertinggi pada tahun 2020 terjadi di Kabupaten Buleleng, penurunan pengeluaran per kapita di kabupaten ini adalah sebesar 317 ribu rupiah dan kembali turun sebesar 101 ribu rupiah pada tahun 2021.

 

Pada tahun 2021, penurunan pengeluaran per kapita masyarakat Kabupaten Badung merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 176 ribu rupiah setelah mengalami penurunan sebesar 125 ribu rupiah pada tahun sebelumnya.

 

Pada akhirnya, angka hanyalah sebuah angka jika tidak diikuti dengan aksi. Angka Indeks Pembangunan Manusia di Bali menunjukkan bahwa masyarakat Bali memiliki amunisi yang kuat untuk segera bangkit di era pandemi ini. Hal ini seyogianya dapat menambah optimisme untuk keluar dari keterpurukan akibat pandemi.

 

Di sisi lain, pemerintah hendaknya terus berupaya semaksimal mungkin demi mewujudkan pembangunan manusia yang merata di seluruh kabupaten/ kota di Provinsi Bali.

 

*) Penulis merupakan statistisi di BPS Provinsi Bali.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/