Oleh : Lewa Karma
MOMENTUM Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember di Indonesia sering dipahami sebagai momentum penghormatan terhadap peran dan jasa ibu dalam kehidupan keluarga dan bangsa. Dalam perspektif Islam, penghormatan kepada ibu bukanlah konsep baru atau sekadar budaya seremonial, melainkan ajaran fundamental yang tertanam kuat dalam syariat. Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat mulia, bahkan menegaskan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, khususnya ibu.
Di tengah tantangan kehidupan rumah tangga modern mulai dari tekanan ekonomi, perubahan peran gender, hingga menurunnya kualitas komunikasi keluarga. Hari Ibu menjadi momen reflektif untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Islam tentang keluarga sakinah. Relevansi Hari Ibu dalam syariat Islam terletak pada penguatan peran ibu sebagai fondasi spiritual, emosional, dan moral dalam membangun bahtera rumah tangga yang bahagia dan sejahtera (sakinah, mawaddah, wa rahmah).
Islam memberikan penghormatan luar biasa kepada ibu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Dalam QS. Luqman ayat 14, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, dengan penekanan khusus pada ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. Hadis terkenal yang menyatakan bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu” menunjukkan betapa strategisnya posisi ibu dalam pandangan Islam.
Kedudukan mulia ini bukan sekadar simbol penghormatan, melainkan pengakuan atas peran ibu sebagai pendidik pertama (madrasatul ula). Ibu menjadi figur utama dalam pembentukan akhlak, keimanan, dan karakter anggota keluarga, khususnya anak. Dari rahim ibu lahir generasi, dan dari asuhan ibu tumbuh nilai-nilai tauhid, kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Dalam konteks Hari Ibu, syariat Islam memberikan landasan teologis bahwa penghormatan kepada ibu merupakan bagian dari ibadah. Menghargai, menyayangi, dan membahagiakan ibu berarti menegakkan perintah agama sekaligus menjaga harmoni rumah tangga.
Rumah tangga yang bahagia dan sejahtera dalam Islam bukan semata diukur dari kecukupan materi, tetapi dari ketenangan jiwa dan kualitas relasi antaranggota keluarga. Ibu memiliki peran sentral dalam menciptakan suasana rumah yang penuh ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu sering menjadi pusat pengelolaan emosi keluarga. Ketika terjadi konflik antara suami dan istri, atau antara orang tua dan anak, ibu kerap tampil sebagai penyejuk yang mengedepankan musyawarah dan kesabaran. Sikap lembut dan empati yang dimiliki ibu menjadi sarana efektif dalam meredam konflik dan menjaga keutuhan rumah tangga.
Syariat Islam mendorong terciptanya relasi keluarga yang saling melengkapi dan menghormati. Peran ibu tidak berdiri sendiri, melainkan bersinergi dengan peran ayah sebagai pemimpin keluarga. Namun, realitas menunjukkan bahwa sentuhan keibuan memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun ikatan batin dan rasa aman dalam keluarga. Di sinilah relevansi Hari Ibu sebagai pengingat akan pentingnya memperkuat peran ibu demi terwujudnya rumah tangga yang harmonis.
Kesejahteraan keluarga dalam Islam mencakup aspek lahir dan batin. Selain memenuhi kebutuhan ekonomi, keluarga juga harus mampu menumbuhkan kesejahteraan spiritual dan moral. Ibu berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah melalui keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Cara ibu berbicara, bersikap, dan menghadapi persoalan hidup akan menjadi cermin bagi anak-anaknya. Nilai kejujuran, kesederhanaan, tawakal, dan rasa syukur lebih mudah tertanam melalui contoh nyata dibandingkan nasihat lisan semata. Oleh karena itu, ibu berperan sebagai penjaga moral keluarga yang menentukan arah masa depan generasi.
Hari Ibu relevan untuk dijadikan momentum evaluasi bersama: sejauh mana peran ibu telah dihargai dan didukung dalam menjalankan amanah besar ini. Syariat Islam menegaskan bahwa kesejahteraan keluarga tidak akan terwujud tanpa penghormatan dan pemuliaan terhadap ibu.
Dalam perspektif Islam, Hari Ibu dapat dimaknai sebagai sarana muhasabah (introspeksi) keluarga. Menghormati ibu bukan hanya dengan ungkapan kasih sayang sesaat, tetapi dengan sikap berbakti yang berkelanjutan. Anak-anak diajak untuk memperbaiki adab kepada ibu, sementara suami didorong untuk memperlakukan istri dengan penuh penghargaan dan tanggung jawab.
Momentum Hari Ibu juga relevan untuk menguatkan spiritualitas keluarga, seperti membangun kebiasaan doa bersama, saling mendoakan, dan mempererat ikatan batin dalam bingkai nilai-nilai Islam. Dengan demikian, Hari Ibu tidak berhenti pada simbol perayaan, melainkan menjadi penggerak nyata dalam membangun keluarga yang diridhai Allah.
Relevansi Hari Ibu dalam syariat Islam terletak pada peneguhan kembali peran mulia ibu sebagai fondasi utama rumah tangga. Islam telah menempatkan ibu pada kedudukan yang agung, sebagai pendidik, penjaga harmoni, dan sumber ketenangan keluarga. Ibu Adalah nakhoda di tengah samudra tantangan kehidupan modern, nilai-nilai Islam tentang penghormatan kepada ibu menjadi kunci dalam membangun bahtera rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.
Hari Ibu seharusnya menjadi momentum spiritual dan sosial untuk memperkuat bakti, kasih sayang, dan kerja sama dalam keluarga. Dengan memuliakan ibu sesuai tuntunan syariat Islam, keluarga tidak hanya meraih kebahagiaan dunia, tetapi juga menapaki jalan keselamatan dan keberkahan menuju akhirat.
Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Kabupaten Buleleng
Editor : M.Ridwan