Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bayi Natal Sang Pembuka Tabir Keselamatan!

Donny Tabelak • Rabu, 24 Desember 2025 | 18:03 WIB
Naldi Elfian Saban, Mantan Presbiter GPIB Maranatha Denpasar.
Naldi Elfian Saban, Mantan Presbiter GPIB Maranatha Denpasar.

Oleh: Naldi Elfian Saban.

TIDAK sedikit orang beriman hingga saat ini tidak memaknai arti Natal sesungguhnya dalam kehidupan, baik dalam lingkungan sosial, pergaulan, lingkungan pekerjaan, maupun dimana saja subjek orang beriman itu berada.

Natal bukan sekadar membersihkan lingkungan rumah, melabur rumah dengan warna yang indah, memasang pohon Natal yang kelihatan bonafid sehingga terlihat mahal.

Dalam pandangan orang materialistis masa kini, maupun menghidangkan berbagai macam aneka makanan yang lezat di rumah sebagai arti Natal dalam kehidupan orang beriman; “jawabannya tidak”.

Selaku orang beriman dan senantiasa menggantungkan jiwanya pada sang Penyelamat ajaib, yang hari kelahirannya disebut dengan Natal adalah suatu kewajiban jika memaknai Natal dalam setiap peristiwa penting dan sangat ajaib terjadi beratus-ratus tahun sebelum datangnya Sang Bayi Natal secara nyata dimuka bumi.

Orang beriman senantiasa menaruh harapannya melalui iman tentang arti keselamatan sesungguhnya, dengan demikian maka kasih Allah terhadap umat pilihan-Nya untuk merealisasikan harapan umat pilihan-Nya, tentu bukan dengan sesuatu yang gampang dicerna dengan akal manusia.

Segalanya berjalan secara tidak normal dalam pandangan jasmani manusia, itulah Allah mewujudkan kasih-Nya dengan sesuatu yang terlihat sangat ajaib bahkan bagi orang lalim hal itu terdengar aneh, dan tidak mungkin untuk diimani sebagai bentuk penyelamatan Allah terhadap umat manusia. 

Para Nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama adalah tokoh-tokoh yang diilhami dengan hikmat Allah sendiri menggambarkan Sang Bayi Natal ratusan tahun sebelum kedatangan-Nya.

Maka sebagai pelajaran yang diambil orang yang akal sehatnya ditutupi oleh hasutan iblis, tentu dengan hikmat terbatas tidak akan menerima hal itu sebagai suatu kebenaran, segalanya bisa diterima ketika orang yang sudah dilumuri noda dan dosa merendahkan diri, kemudian meminta pertolongan Roh Kudus menerangi setiap pemikirannya maka tentu gambaran Para Nabi ratusan tahun lalu, diterima sebagai suatu kebenaran dan benar-benar sudah terjadi. 

Gambaran-gambaraan Sang Bayi Natal ratusan tahun sebelum kedatangan-Nya tercatat secara jelas dalam Alkitab Perjanjian Lama melalui tulisan Para Nabi.

Andai saja orang-orang beriman masa kini hidup di zaman Para Nabi tentu mendengar ucapan Para Nabi, lalu melontarkan pendapatnya, “bukankah itu merupakan hal yang janggal dan berpotensi ditolak sebagai sebuah kebenaran”.

Hikmat manusia tentu saja terbatas dan dengan hikmatnya yang terbatas akan menerima informasi tersebut sebagai sebuah lelucon.

Hal ini dilatar belakangi dengan rasa ketidak percayaan akan masa depan yang penuh misteri, tetapi sebagai orang beriman patut menerima informasi itu sebagai bentuk Kemahakuasaan Allah yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.

Betapa ajaibnya Allah itu dan betapa mulianya rancangan-rancangan-Nya, hanya demi umat-Nya yang berdosa agar tidak binasa dimasa yang akan dating.

Yesaya menjalankan masa pelayanannya sekitar Tahun 800 SM, menggambarkan Sang Bayi Natal sebagai seorang anak laki-laki akan lahir dari seorang perempuan muda (perawan) dan akan diberi nama Imanuel artinya Allah beserta kita, (Yesaya 7:14), sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia menamakan Dia Imanuel.

Hal ini sangat jelas orang-orang yang hidup di zaman nabi Yesaya akan menyatakan kalau Yesaya tidak waras.

Mengapa hal itu terjadi karena hikmat orang-orang zaman itu tidak dapat mencapai anugrah dari rancangan Allah tentang kehidupan istimewa dimasa yang akan dating.

Allah telah mendandani Sang Bayi Natal dengan beberapa gelar agar layak menjadi suatu sesembahan yang sempurna bagi orang beriman dihadapan Allah, gelar-gelar-Nya seperti Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Raja Damai (Yesaya 9:5), Allah mengetahui keberadaan manusia sebagai manusia yang tegar tengkuk nalurinya adalah naluri kejahatan dan sulit diatur, dengan demikian maka Allah menyediakan tempat bersandar bagi orang beriman dengan sosok seorang penasehat bukan sekadar penasehat yang selama ini ada dalam pandangan manusia, melainkan penasehat yang disediakan Allah adalah penasehat ajaib.

Sang Bayi Natal juga diberikan gelar sebagai Allah Perkasa, dimana dengan gelar Allah Perkasa maka Sang Bayi Natal dapat menghapus noda dan dosa orang beriman.

Sang Bayi Natal datang bukan dengan gelar Raja yang memimpin suatu kerajaaan yang sifatnya semu, melainkan menyediakan bagi orang beriman kerajaan kekal, kerajaan yang tidak pernah berkesudahan.

Ratusan tahun sebelum datangnya Sang Bayi Natal, Nabi Mika tampil ditengah-tengah bangsa Yehuda dan menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang beriman tentang sosok Sang Bayi Natal itu yang datang dari Kota Betlehem, kota yang merupakan tempat yang dipandang sebelah mata dalam kalangan Yehuda, (Mika 5:1).

Dari situlah Rancangan Allah demi Umat-Nya dijalankan dengan penuh keajaiban. Ratusan tahun sebelum datangnya Sang Bayi Natal, nubuatan seorang Raja yaitu Raja Daud.

Namanya sangat familiar dan tersohor dalam Alkitab menyerukan tentang peranan Sang Bayi Natal dengan sebutan sebagai Raja, Nabi, dan Imam Agung yang akan datang untuk menebus umat manusia. 

(Mazmur 16:10), sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan, manusia yang berdosa menerima konsekuensi kematian kekal, akan tetapi Allah tidak ingin manusia itu binasa melainkan menyiapkan jalan bagi manusia agar tidak tersesat, sehingga kehidupan kekal menjadi rancangan yang sempurna bagi manusia berdosa.

Sang Bayi Natal membuka tabir keselamatan bagi manusia yang menaruh harapan kepada-Nya.

Baca Juga: Dari Drama Ikan Paus Terdampar di Selat Bali: Hebohkan Warga, Menanti Air Laut Pasang untuk Bisa Kembali ke Samudera

Nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, Maleakhi, hidup sekitar 400 tahun sebelum kelahiran Sang Bayi Natal, (Maleakhi 4:2) " tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu yang lepas kandang".

Maleakhi menggambarkan Sang Bayi Natal itu adalah surya kebenaran. Pada hakekatnya manusia itu berada dalam dunia yang gelap, oleh karena dosanya yang sungguh besar dan tidak ada harapan untuk menuju jalan kebenaran.

Ketika Sang Bayi Natal itu datang bagaikan surya yang sangat terang mengarahkan makhluk-makhluk milik Allah memandang pada surya kebenaran tersebut, sehingga selaku milik Allah tidak jatuh melainkan memandang Sang Bayi Natal sebagai terang abadi yang senantiasa menyinari langkah kehidupan orang beriman oleh karena Sang Bayi Natal itu adalah Matahari Kebenaran yang sesungguhnya.

Dengan adanya perayaan Natal, kiranya memberikan suatu refleksi kehidupan baru bagi orang beriman, bukan sebuah pesta yang disambut dengan suka cita secara jasmani belaka, melainkan perlu adanya suatu perenungan secara pribadi bagi masing-masing orang beriman.

Menyambut perayaan Natal dengan suatu refleksi iman yang memberikan gambaran tentang Sang Bayi Natal hadir ditengah-tengah dunia melalui rancangan Allah yang sangat ajaib, yang tidak dapat dicerna dengan akal manusia, hingga pada akhirnya orang beriman patut mengambil suatu kesimpulan bahwa Sang Bayi Natal Pembuka Tabir keselamatan.***

  

Editor : Donny Tabelak
#nabi #Naldi Elfian Saban #GPIB Maranatha Denpasar #natal #Roh Kudus