26.5 C
Denpasar
Thursday, March 23, 2023

Pedagang Acung Pantai Kuta Menjadi Sorotan Warganet, Bakal Diatur Perarem Desa Adat

MANGUPURA,radarbali.id – Perilaku pedagang dan tukang pijat keliling di pesisir Pantai Kuta mendapat sorotan dari warganet. Pasalnya, perilaku mereka terkesan memaksa sehingga membuat wisatawan tidak nyaman.  Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista juga gerah mendengar hal tersebut dan siap untuk mengatur keberadaan pedagang ke dalam Perarem (aturan) Desa Adat Kuta.

Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista menegaskan bahwa menjajakan produk ataupun jasa secara keroyokan adalah perilaku yang kurang pas bagi kenyamanan berwisata. Terlebih jika itu dilakukan secara memaksa. Antisipasi hal tersebut bahwa perilaku para pedagang nantinya juga akan masuk sebagai hal diatur melalui Pararem. Pararem masih berada dalam tahap finalisasi. “Kami akan masukan ke dalam Perarem,” terang Wasista, Selasa (7/3).

Baca Juga:  Goddes Bakery Tidak Hanya Menyuguhkan Roti Saja

Kata dia,  Pararem tersebut nantinya akan menjadi salah satu solusi dalam menyikapi hal-hal semacam itu. Apalagi diduga kuat yang berperilaku demikian mereka yang tidak terdaftar sebagai pedagang pantai. “Pararem itu akan segera digodok lewat Fokus Grup Diskusi (FGD). Kemudian itu akan dibawa ke Paruman Desa Adat. Setelah nanti final dan diputuskan, maka harus diterapkan,” jelasnya.

Selain  perilaku para pedagang pantai, Pararem tersebut katanya juga akan memuat soal sanksi dikenakan. Sanksi tersebut dipastikan akan dijalankan, apabila terbukti melakukan pelanggaran. “Nanti para pedagang terdaftar juga akan memakai kartu identitas dan baju khusus. Kalau sampai terbukti membuat tamu tidak nyaman, jadi akan ada sanksinya. Paling berat, berupa pencabutan kartu pedagang,” pungkasnya. (dwi/rid)

Baca Juga:  Pantai Kuta Dijaga Ketat Satu Unit Baracuda, Ini Penampakannya


MANGUPURA,radarbali.id – Perilaku pedagang dan tukang pijat keliling di pesisir Pantai Kuta mendapat sorotan dari warganet. Pasalnya, perilaku mereka terkesan memaksa sehingga membuat wisatawan tidak nyaman.  Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista juga gerah mendengar hal tersebut dan siap untuk mengatur keberadaan pedagang ke dalam Perarem (aturan) Desa Adat Kuta.

Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista menegaskan bahwa menjajakan produk ataupun jasa secara keroyokan adalah perilaku yang kurang pas bagi kenyamanan berwisata. Terlebih jika itu dilakukan secara memaksa. Antisipasi hal tersebut bahwa perilaku para pedagang nantinya juga akan masuk sebagai hal diatur melalui Pararem. Pararem masih berada dalam tahap finalisasi. “Kami akan masukan ke dalam Perarem,” terang Wasista, Selasa (7/3).

Baca Juga:  Dirancang Jadi Pelabuhan Yacth, Kemenpar Minta Pelabuhan Tua Dibenahi

Kata dia,  Pararem tersebut nantinya akan menjadi salah satu solusi dalam menyikapi hal-hal semacam itu. Apalagi diduga kuat yang berperilaku demikian mereka yang tidak terdaftar sebagai pedagang pantai. “Pararem itu akan segera digodok lewat Fokus Grup Diskusi (FGD). Kemudian itu akan dibawa ke Paruman Desa Adat. Setelah nanti final dan diputuskan, maka harus diterapkan,” jelasnya.

Selain  perilaku para pedagang pantai, Pararem tersebut katanya juga akan memuat soal sanksi dikenakan. Sanksi tersebut dipastikan akan dijalankan, apabila terbukti melakukan pelanggaran. “Nanti para pedagang terdaftar juga akan memakai kartu identitas dan baju khusus. Kalau sampai terbukti membuat tamu tidak nyaman, jadi akan ada sanksinya. Paling berat, berupa pencabutan kartu pedagang,” pungkasnya. (dwi/rid)

Baca Juga:  Ngaku Caci Warga Saat Mabuk, Bagong Akhirnya Menyesal dan Minta Maaf

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru