Setelah di evakuasi korban kemudian menjalani perawatan di RS Kasih Ibu, Desa Saba, Gianyar, dan akhirnya meninggal dunia. Mirisnya, keluarga korban harus menanggung biaya Rp 267 Juta. Kini, dua anak korban beserta keluarga sangat berharap kepada pengelola wisata tersebut untuk melunasi sisa tagihan dari Rumah Sakit.
Untuk diketahui, wanita asal Surabaya, Jawa Timur bernama Noer Alifah tour ke Bali bersama teman-teman (rombongan) menggunakan jasa traver. Lelu bersama rombongan mendatangi objek wisawata Warterfall Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatu, Gianyar, Sabtu 15 Oktober 2022. Saat berada di sana, sebuah batu jatuh dari ketinggian tebing balasan meter itu. Dengan adanya peristiwa itu, yang bersangkutan alam pendarahan dan pingsan. Lalu di bawa ke RS.
Yang bersangkutan dirawat di RS Kasih Ibu, Desa Saba, Gianyar. Karena musibah yang dialami sangat serius, yakni tempurung kepala pecah sehingga jalani operasi serius. Dan apa mau dikata, yang bersangkutan akhirnya meninggal dunia 27 Oktober 2022. Dua bulan berlalu, keluarnya masih kebingungan untuk membayar biaya rumah sakit yang totalnya Rp 267 juta. "Utang sebanyak itu hingga kini baru dibayar Rp 108 juta," ungkap sepupu korban I Made Malik Adnyana, 54, di Denpasar, Senin (19/12).
Adnyana diketahui berstatus penanggung jawab di RS, dan mengaku telah diberi kuasa olah anak korban (yatim piatu) mengatakan, Uang Rp 108 juta itu, sebagian di bayar ke RS sebagai lagu untuk memulangkan jenazah ke Surabaya. Sementara sisanya sisa tunggakan masih banyak. Dua anak korban dan keluarga kebingungan untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Sementara sudah jatuh tempo. Rp 108 juta itu gabungan dari uang asuransi, pengelola objek wisata, dan uang dari keluarga.
Made Malik merincikan, uang asuransi sebesar Rp 25 juta, dari desa adat selaku pengelola sebesar Rp 2,5 juta, dari Detukad yang juga sebagai pengelola sebesar Rp 25 juta, totalnya menjadi sebesar Rp 52,5 juta. Ditambah dengan patunga-patunhan dari rumpun keluarga korban Rp 55,5 juta. Selain itu ada keringanan dari RS sebesar Rp 11 juta. Jadi, sisa utang saat ini sebesar Rp 148 juta. "Setahu saya,objek wisata Warterfall Blangsinga itu dikelola oleh Desa Adat setempat, Detukad, dan Krisna Oleh-Oleh Khas Bali. Kami sangat berharap pihak-pihak ini bisa melukiskan sisa hutan," timpalnya
Berjalannya waktu, pihak keluarga meminta agar pengelola bayar semua biaya RS tersebut, karena tidak memiliki uang uang. Dan sempat terjadi perdebatan, Oleh-Oleh Krisna Khas Bali menyiapkan uang Rp 20 juta, dari Desa Adat tambah Rp 7,5 juta, dan dari Detukad tambah Rp 10 juta lagi. Uang puluhan juta itu oleh pihak keluarga korban diminta untuk ditunda (belum diterima), sebab uang sebanyak itu masih tidak cukup menutupi semua utang di RS.
Dikatan, uang yang ditunda alias belum diterima itu, bukan berarti keluarga tolak. Tapi, keluarga berharap agar semua uang biaya RS itu terkumpul lunas, baru terima untuk diserahkan langsung ke RS. "Kami tidak minta lebih, selain sejumlah kuitansi dari RS," ungkap Made Malik Adnyana dan mengatakan adik sepupunya (korban) itu datang dari Surabaya bersama rombongan sebanyak satu bus. Rombongan sebanyak 35 sampai 40 orang itu inap di Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.
Rombongan dipandu oleh guide Ketut Subrata dari Gopala Tour, 15 Oktober 2022. Sesampai di lokasi, korban bersama rombongan turun ke air terjun. Saat juta, secara tiba-tiba batu jatuh dari atas tebing dan menimpa kepala korban hingga pecah. "Sampai saat ini pihak Gopala Tour juga tidak ada mengeluarkan uang untuk biaya RS," tandasnya. Dikonfirmasi terpisah pihak pengelola Warterfall Blangsinga, Made Suanta mengatakan sudah melakukan kewajiban sesuai dengan aturan yang ada.
Yakni uang biaya perawatan Rp 2,5 juta dan uang asuransi Rp 25 juta. Sementara Detukad dan Krisna Oleh-Oleh Khas Bali juga sudah sediakan uang santunan dan uang duka. Dijelaskan, peristiwa itu bukan karena kelalaian dari pengelola, tetapi itu murni kecelakaan alami. "Sesuai dengan aturan kami sudah lekasanakan kewajiban. Kami tak hanya memberikan uang, tetapi juga menjenguk korban," ungkap Made Suanta.
Sementara Ketut Subrata selalu guide yang memandu rombongan, banyak berkeliaran ketika dikonfirmasi via telepon oleh radarbali.id. Dia sebut tidak tahu jumlah rombongan, hingga jaraknya (posisi) antara wanita tersebut (korban) dengan dirinya saat di TKP. Termasuk diberondong neberapa pertanyaan, dia tak berkomentar banyak. Terakhir dia mengaku sibuk dan memutuskan sambungan telepon. "Pak saya lagi sibuk kerja. Maaf ya," pungkas Ketut Subrata. (dre/rid) Editor : M.Ridwan