AMLAPURA, Radar Bali.id- Sebanyak ratusan siswa dari jenjang SD hingga SMP di Kaabupaten Karangasem putus sekolah pada tahun ajaran 2023-2024. Sejumlah alasan menjadi faktor mengapa para siswa tersebut putus sekolah.
Data dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karangasem, jumlah total siswa yang putus sekolah dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 117 siswa.
Dari jumlah tersebut terdiri dari 42 siswa dari jenjang SD, dan 75 siswa dari jenjang SMP.
Terkait hal tersebut, Kadis Dikpora Karangasem, I Wayan Karangasem mengatakan, ada sejumlah alasan yang memicu siswa tersebut putus sekolah.
Dua di antaranya karena faktor ekonomi hingga persoalan zonasi sekolah.
Untuk alasan ekonomi misalnya lantaran orang tua siswa tidak mampu membiayai anak saat mengenyam pendidikan, sehingga dengan terpaksa memutuskan untuk berhenti sekolah.
"Terutama paling banyak terjadi di wilayah pedesaan," katanya saat dikonfirmasi Senin (13/5/2024).
Sementara itu untuk alasan zonasi yakni, terkait letak sekolah yang jangkauannya cukup jauh dari rumah siswa. Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Abang.
Misalnya ketika siswa tersebut masuk zonasi SMP 4 Abang, namun lebih siswa tersebut berkeinginan untuk bisa bersekolah di SMP 2 Abang. Begitu juga sebaliknya.
"Dari hasil diskusi kami, akan ada daerah irisan pada peserta didik baru nanti," tuturnya.
Dia menjelaskan, untuk zona irisan ini kata dia, ketika siswa tersebut ingin bersekolah di sekolah yang lebih dekat meski tidak masuk zonasi, nantinya akan dikoordinasikan dengan korwil dan juga kepala sekolah untuk bisa menempuh pendidikan sesuai keinginan yang jaraknya lebih dekat dari rumah siswa tersebut.
"Nanti itu bisa diterima dengan catatan tetap memperhitungkan daya tampung sekolah. Kalau sekolah masih kaku tidak mau menerima, nanti bermasalah. Makanya zona irisan dipakai dasar," jelas Sutrisna.
Sementara untuk pemasalahan ekonomi, pihaknya meminta para Kepala Sekolah agar para siswa yang tidak mampu secara ekonomi untuk diusulkan mendapat bea siswa melalui program kartu Indonesia Pintar. "Itu nanti Kepsek yang berkoordinasi dengan dapodik," ucap Sutrisna.
Tak jarang lantaran terkendala biaya, siswa yang putus sekolah memiliki keinginan bekerja ke luar Karangasem seperti Denpasar dan Badung. Seperti yang terjadi di Wilayah Kecamatan Kubu, siswa yang putus sekolah memutuskan untuk menjadi gepeng.
"Makanya kami minta desa adat juga ikut aktif membuat pararem melarang menggepeng. Selain itu, untuk wilayah di Kubu yang bagian atas kamu buatkan sekolah SMP satu atap. Ini juga sebagai upaya dalam mencegah siswa putus sekolah," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita