DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Penyakit menular menghantui sektor peternakan di Bali. Terdapat 28 ekor sapi dan kerbau di Kabupaten Jembrana terkonfirmasi positif terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, Wayan Sunada, memastikan penyakit kulit berbenjol ini disebabkan oleh virus LSDV berdasarkan hasil uji laboratorium rujukan nasional.
”Terkonfirmasi penyakit LSD 28 ekor. Dua mati, kami sudah tangani intensif lho kami sudah gerak cepak,” ucapnya saat dihubungi kemarin (15/1).
Temuan ini bermula dari laporan kasus pada 24 Desember 2025 di Jembrana. Saat itu, sejumlah sapi menunjukkan gejala klinis berupa demam, pembengkakan leher, dan munculnya benjolan khas pada kulit.
Serangkaian uji PCR dilakukan hingga laboratorium rujukan nasional di BBVet Wates mengonfirmasi hasil positif pada 29 Desember 2025.
"Ini merupakan kasus introduksi pertama LSD di Bali. Kami langsung bergerak cepat sejak hasil laboratorium keluar," tegas Sunada.
Selanjutnya, investigasi lapangan dilakukan dengan menyisir Desa Baluk, Kaliakah, Banyubiru, Berangbang, dan Manistutu. Tercatat 28 ekor ternak positif LSD, dimana dua ekor diantaranya mati. Sebagai langkah darurat, pemerintah memutuskan untuk melakukan pemotongan bersyarat terhadap sisa ternak yang sakit.
"Pemotongan kami lakukan secara bertahap, dan sudah dimulai sejak Rabu (14/1) kemarin," imbuh Sunada.
Penyebaran virus ini diduga kuat dipicu oleh masuknya ternak ilegal dari luar Bali. Guna memutus rantai penularan, Pemprov Bali resmi memberlakukan kebijakan lockdown khusus di wilayah Jembrana. Selama enam bulan ke depan, seluruh aktivitas lalu lintas hewan dari dan menuju Jembrana dihentikan total.
"Surat (instruksi) sudah turun per hari ini. Jembrana kita lockdown agar tidak melalulintaskan ternak ke mana-mana. Rencananya enam bulan sampai tuntas," katanya.
Selain pembatasan mobilitas, penanganan preventif difokuskan pada penyemprotan desinfektan dan penguatan biosekuriti karena virus ini sangat cepat menular melalui lalat penghisap darah.
Atensi serius juga datang dari pemerintah pusat. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dijadwalkan turun langsung ke Jembrana pada Jumat (16/1) besok untuk menyalurkan bantuan sarana prasarana untuk penuntasan LSD.
Terkait kekhawatiran peternak menjelang Ramadan dan Idul Fitri, Sunada menekankan pentingnya fokus menuntaskan penyakit agar tidak meluas ke kabupaten lain.
"Untuk menjaga Bali aman, Jembrana harus di-lockdown dulu. Jangan sampai ada hewan yang 'nyelonong' masuk ke daerah lain yang bisa memperparah keadaan," pungkasnya.
Pihaknya memastikan seluruh langkah mitigasi dilakukan secara terukur dan berdasarkan data ilmiah. Masyarakat, khususnya para peternak, diimbau tetap tenang namun waspada dengan segera melaporkan jika menemukan gejala mencurigakan pada hewan ternak mereka.***
Editor : M.Ridwan