alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Anak Kandung Gagal Raih Rekomendasi, Respons Adi Wiryatama Mengejutkan

TABANAN – Paket I Gede Komang Sanjaya dan Made Edi Wirawan punya peluang menang di Pilkada Tabanan 2020.

Namun, kemenangan itu hanya bisa diraih jika semua elemen dan kader partai bekerja serius memenangkan paket Sanjaya – Edi Wirawan.

Ketua Dewan Pertimbangan Daerah (Deperda) DPD PDIP Bali Nyoman Adi Wiryatama menegaskan bahwa kader banteng di Tabanan sudah saatnya balik kandang.

Dia menyikapi soal adanya gejolak di internal PDIP Tabanan sebelum turunya rekomendasi adalah hal yang wajar.

“Kemarin banteng-banteng ini memang mengasah-asah tanduk. Tapi, sekarang saya tegaskan banteng harus kembali ke kandang. Karena kalau terus mengasah tanduk,

nanti musuh di belakang akan menari-nari melihat. Tapi, banteng di Tabanan memang begitu, kalau sudah ada musuh dari luar pasti otomatis akan bersatu padu lagi,” terang Adi.

Politisi gaek PDIP ini juga menanggapi soal mengapa anaknya yakni Dedi Pratama tidak mendapat rekomendasi justru jatuh kepada Sanjaya dan Edi Wirawan.

Dia menyebut keduanya merupakan anak didikanya sejak dulu hingga saat ini. “Rekomendasi yang dikeluarkan Ibu Ketua Umum harus dijaga dan dilaksanakan dan harus menang mutlak.

Baca Juga:  Dukung Paslon Secara Terbuka, Bawaslu Warning ASN dan Perangkat Desa

Bolehlah kemarin ada kubu-kubuan dan itu sah dalam demokrasi. Tapi, kalau sudah menjadi keputusan partai wajib kita hormati. Tanpa partai kalian tidak bisa menjadi apa-apa. Partai yang hebat,” tegas Adi.

Soal kenapa Dedi Pratama tidak mendapat rekomendasi, Adi Wiryatama mengatakan, sah-sah saja.

Dia justru berterimakasih kepada partai PDIP, karena sudah 20 tahun memberikan kepercayaan kepada dirinya dan keluarga untuk berkiprah sebagai pemimpin.

“Ini cukup lama, jarang ada. Dan satu-satunya di Indonesia, bupati serah terima jabatan dengan anaknya sendiri (Eka Wiryastuti).

Itu sudah cukup, kenapa harus ngotot, marah dan sebagainya. Emang PDIP ini milik nenek saya, ini milik kalian semua,” paparnya.

Ketua DPP PDIP Made Urip juga mengungkapakan hal yang sama. Strategi untuk memenangkan pasangan calon yang diusung yakni dengan melakukan konsolidasi di internal terlebih dahulu.

Baca Juga:  Hadapi Pemilu 2024, Golkar Buleleng Panaskan Mesin Partai

Artinya, di internal harus solid. Dengan memiliki tiga kekuatan pilar, yakni eksekutif, legislatif dan struktural. Dari tiga tersebut harus menyatu terlebih dahulu.

Kemudian baru melakukan ekspansi keluar. Untuk itu PDIP melakukan sosialisasi di tingkat ranting dan anak ranting yang merupakan basis kekuatan PDIP.

Pada tingkatan tersebut, kata dia, harus tahu siapa calon yang diusung. Selanjutnya baru melakukan sosialisasi ke masyarakat baik desa adat maupun dinas serta segmen-segmen pemilih lainnya.

“Soal pemetaan, data sudah ada. Baru kemarin kita bentuk tim kampanye dan belum sempat rapat. Nanti akan dibahas pemetaan.

Pemetaan mengacu dari hasil pileg tahun 2019 lalu. Dimana kita kalah, dimana unggul. Dari data itu kita olah dan evaluasi lagi untuk mencapai target.

Kemenangan kita katakalah melihat pileg 2019 di atas 70 persen lebih. Tetapi kalau melihat kekuatan sekarang soliditas di partai saya yakin di atas 80 persen tercapai,” ucap Urip.



TABANAN – Paket I Gede Komang Sanjaya dan Made Edi Wirawan punya peluang menang di Pilkada Tabanan 2020.

Namun, kemenangan itu hanya bisa diraih jika semua elemen dan kader partai bekerja serius memenangkan paket Sanjaya – Edi Wirawan.

Ketua Dewan Pertimbangan Daerah (Deperda) DPD PDIP Bali Nyoman Adi Wiryatama menegaskan bahwa kader banteng di Tabanan sudah saatnya balik kandang.

Dia menyikapi soal adanya gejolak di internal PDIP Tabanan sebelum turunya rekomendasi adalah hal yang wajar.

“Kemarin banteng-banteng ini memang mengasah-asah tanduk. Tapi, sekarang saya tegaskan banteng harus kembali ke kandang. Karena kalau terus mengasah tanduk,

nanti musuh di belakang akan menari-nari melihat. Tapi, banteng di Tabanan memang begitu, kalau sudah ada musuh dari luar pasti otomatis akan bersatu padu lagi,” terang Adi.

Politisi gaek PDIP ini juga menanggapi soal mengapa anaknya yakni Dedi Pratama tidak mendapat rekomendasi justru jatuh kepada Sanjaya dan Edi Wirawan.

Dia menyebut keduanya merupakan anak didikanya sejak dulu hingga saat ini. “Rekomendasi yang dikeluarkan Ibu Ketua Umum harus dijaga dan dilaksanakan dan harus menang mutlak.

Baca Juga:  Lolos Verifikasi AFC, Respons II Capitano Bali United Mengejutkan

Bolehlah kemarin ada kubu-kubuan dan itu sah dalam demokrasi. Tapi, kalau sudah menjadi keputusan partai wajib kita hormati. Tanpa partai kalian tidak bisa menjadi apa-apa. Partai yang hebat,” tegas Adi.

Soal kenapa Dedi Pratama tidak mendapat rekomendasi, Adi Wiryatama mengatakan, sah-sah saja.

Dia justru berterimakasih kepada partai PDIP, karena sudah 20 tahun memberikan kepercayaan kepada dirinya dan keluarga untuk berkiprah sebagai pemimpin.

“Ini cukup lama, jarang ada. Dan satu-satunya di Indonesia, bupati serah terima jabatan dengan anaknya sendiri (Eka Wiryastuti).

Itu sudah cukup, kenapa harus ngotot, marah dan sebagainya. Emang PDIP ini milik nenek saya, ini milik kalian semua,” paparnya.

Ketua DPP PDIP Made Urip juga mengungkapakan hal yang sama. Strategi untuk memenangkan pasangan calon yang diusung yakni dengan melakukan konsolidasi di internal terlebih dahulu.

Baca Juga:  Koalisi Golkar, Demokrat dan Nasdem Optimistis Hasil Pilkada di Bali

Artinya, di internal harus solid. Dengan memiliki tiga kekuatan pilar, yakni eksekutif, legislatif dan struktural. Dari tiga tersebut harus menyatu terlebih dahulu.

Kemudian baru melakukan ekspansi keluar. Untuk itu PDIP melakukan sosialisasi di tingkat ranting dan anak ranting yang merupakan basis kekuatan PDIP.

Pada tingkatan tersebut, kata dia, harus tahu siapa calon yang diusung. Selanjutnya baru melakukan sosialisasi ke masyarakat baik desa adat maupun dinas serta segmen-segmen pemilih lainnya.

“Soal pemetaan, data sudah ada. Baru kemarin kita bentuk tim kampanye dan belum sempat rapat. Nanti akan dibahas pemetaan.

Pemetaan mengacu dari hasil pileg tahun 2019 lalu. Dimana kita kalah, dimana unggul. Dari data itu kita olah dan evaluasi lagi untuk mencapai target.

Kemenangan kita katakalah melihat pileg 2019 di atas 70 persen lebih. Tetapi kalau melihat kekuatan sekarang soliditas di partai saya yakin di atas 80 persen tercapai,” ucap Urip.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/