alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

KPU akan Riset untuk Cari Tahu Penyebab Tingginya Angka Golput

DENPASAR – Partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 di Bali diprediksi tidak sampai menyentuh target yang telah ditetapkan. Jangankan 85 persen target Pemprov Bali,  target nasional 77.5 persen saja tak sampai di enam kabupaten/ kota yang menyelenggarakan pilkada.

Itu artinya, angka golongan putih (golput) atau warga yang tak menggunakan hak pilih masih tinggi.

Sampai dengan kemarin, Senin (14/12), persentase partisipasi pemilih secara umum pada enam kabupaten/ kota  untuk sementara mencapai 74,53 persen.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali Divisi Sosialisasi, Pendidikan, dan Partisipasi Pemilih, I Gede John Darmawan mengatakan, sebetulnya capaian partisipasi pemilih di atas 74 persen di luar dugaan. Padahal Pilkada 2015 hanya 69 persen sedangan Pilgub 2018 mencapai 71 persen. 

“Secara umum di Bali 74,53 persen. Untuk sementara, ya. Di bawah target 85 persen,” kata John.

Meski belum menyentuh target yang ditetapkan, John menyebutkan bahwa tingkat partisipasi pemilih tersebut telah melampaui capaian target pada Pilkada 2015 lalu dan Pemilihan Gubernur 2018. 

“Secara realita, parmas (partisipasi masyarakat pemilih) di pilkada saat ini sudah mengalami kenaikan dari pemilu sebelumnya (Pilkada 2015),” ujarnya. 

Sebagai evaluasi John  menegaskan pihaknya melakukan evaluasi perihal tersebut. Tindak lanjut dari evaluasi itu adalah dengan melakukan pengamatan atau riset berdasarkan sampel yang daerah-daerah yang parmasnya rendah.

“Kami ingin mengetahui kenapa sih tidak hadir ke TPS. Padahal C6 atau surat undangan ke TPS sudah terbagikan dan orangnya (pemilihnya) ada,” jelas John.

Riset yang dia sebutkan itu akan secepatnya dilakukan. Untuk waktunya akan disesuaikan agar tidak mengganggu tahapan pilkada yang sedang berlangsung saat ini.

“Yang namanya tahap evaluasi sampai dengan pertangungjawaban anggaran kan sampai dengan Maret 2021,” pungkasnya.

Sementara itu partisipasi masyarakat  di wilayah Karangasem sekitar 71,71 persen. Kemudian Jembrana sebesar 78,25 persen. Tabanan dan Bangli hampir sama, masing-masing 83,21 persen dan 83,57 persen. Dan yang tertinggi Badung di kisaran 85,07 persen. Sedangkan Denpasar sekitar 54 persen.



DENPASAR – Partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 di Bali diprediksi tidak sampai menyentuh target yang telah ditetapkan. Jangankan 85 persen target Pemprov Bali,  target nasional 77.5 persen saja tak sampai di enam kabupaten/ kota yang menyelenggarakan pilkada.

Itu artinya, angka golongan putih (golput) atau warga yang tak menggunakan hak pilih masih tinggi.

Sampai dengan kemarin, Senin (14/12), persentase partisipasi pemilih secara umum pada enam kabupaten/ kota  untuk sementara mencapai 74,53 persen.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali Divisi Sosialisasi, Pendidikan, dan Partisipasi Pemilih, I Gede John Darmawan mengatakan, sebetulnya capaian partisipasi pemilih di atas 74 persen di luar dugaan. Padahal Pilkada 2015 hanya 69 persen sedangan Pilgub 2018 mencapai 71 persen. 

“Secara umum di Bali 74,53 persen. Untuk sementara, ya. Di bawah target 85 persen,” kata John.

Meski belum menyentuh target yang ditetapkan, John menyebutkan bahwa tingkat partisipasi pemilih tersebut telah melampaui capaian target pada Pilkada 2015 lalu dan Pemilihan Gubernur 2018. 

“Secara realita, parmas (partisipasi masyarakat pemilih) di pilkada saat ini sudah mengalami kenaikan dari pemilu sebelumnya (Pilkada 2015),” ujarnya. 

Sebagai evaluasi John  menegaskan pihaknya melakukan evaluasi perihal tersebut. Tindak lanjut dari evaluasi itu adalah dengan melakukan pengamatan atau riset berdasarkan sampel yang daerah-daerah yang parmasnya rendah.

“Kami ingin mengetahui kenapa sih tidak hadir ke TPS. Padahal C6 atau surat undangan ke TPS sudah terbagikan dan orangnya (pemilihnya) ada,” jelas John.

Riset yang dia sebutkan itu akan secepatnya dilakukan. Untuk waktunya akan disesuaikan agar tidak mengganggu tahapan pilkada yang sedang berlangsung saat ini.

“Yang namanya tahap evaluasi sampai dengan pertangungjawaban anggaran kan sampai dengan Maret 2021,” pungkasnya.

Sementara itu partisipasi masyarakat  di wilayah Karangasem sekitar 71,71 persen. Kemudian Jembrana sebesar 78,25 persen. Tabanan dan Bangli hampir sama, masing-masing 83,21 persen dan 83,57 persen. Dan yang tertinggi Badung di kisaran 85,07 persen. Sedangkan Denpasar sekitar 54 persen.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/