alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Kalah Lobi Politik, Raka Sandi Gagal Rebut Kursi Komisioner KPU RI

DENPASAR- Harapan I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi lolos fit and proper test calon komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI asal Provinsi Bali kandas.

 

 

Bahkan, terpental Raka Sandi saat fit and proper test calon anggota KPU RI itu merupakan kegagalan kali kedua.

 

Pertama, mantan ketua KPU Bali gagal saat mengikuti seleksi pada 2017 lalu.

 

Namun meski gagal, nasib Raka Sandi masih beruntung menjadi  pengganti antar waktu (PAW)  menggantikan Wahyu Setiawan yang terjerat kasus suap.

 

Terkait tersingkirnya dirinya dalam test fit and proper, Wiarsa Raka Sandi saat dikonfirmasi hanya menyatakan akan melanjutkan sisa tugasnya sampai April 2022 mendatang.

 

“Saat ini masih fokus menyelesaikan masa tugas di KPU sampai April 2022,” jawabnya singkat. 

 

Sementara itu, Mantan Komisioner KPU RI  I Gusti Putu Artha yang dikonfirmasi terpisah menyayangkan kandasnya Kade Wiarsa Raka Sandi untuk jadi Komisioner KPU RI.

 

Menurutnya, kegagalan dua kali ini memang berdasarkan lobi politik. Wiarsa Raka Sandi tidak kuat dukungan politiknya.

 

Lebih lanjut, Artha menambahkan, jika anggota DPR RI dari dapil Bali juga tidak maksimal mendukung mantan ketua KPU Bali itu. 

 

“Memang keempat belas nama itu memang  kualitasnya rata-rata.  Artinya kompetensinya bagus yang mana menjaminlah kualitasnya.

Baca Juga:  HUT ke-74, Kader PDIP Asal Bali Doakan Megawati Selalu Sehat & Sukses

 

Artinya toh Wiarsa tidak terpilih bukan berarti tidak berkualitas  dia incumbent. Ini titik lemah kepada  persoalan lobi politik. Kelemahannya level lobi politik. Lima tahun lalu terpental,” ucapnya. 

 

” Ketika bicara titik lemah lobi politik juga yang mengambil keputusan  itu kan partai-partai, partai-partai punya pertimbangan tertentu ketika  merekomendasikan seseorang,” lanjutnya. 

 

 

Ia mengatakan, kemungkinan pertimbangan untuk dipilih  adalah dari wilayah yang kantong suaranya besar.

Maka dari itu, Jawa Tengah maupun Jawa Timur kata Artha akan selalu masuk.

 

“Nah ini kan satu risiko dari komisioner dipilih oleh DPR tentu di sana. Pertimbangan politik jadi parameter utama. Bukan yang lain-lain.  Kalau soal integritas Wiarsa luar biasa integritasnya.  Bagus.  Itu sangat  teruji,” ujarnya.  

 

 

Selain itu juga, komposisi susunan  KPU dan Bawaslu  disusun ada pertimbangan representasi wilayah,  mewakili keragaman,  suku dan agama.

 

Karena keberhasilan lobi-lobi juga,  imbuh Artha, ada nama-nama sudah beredar sebelum uji kelayakan  dan kepatutan digelar. 

 

“Makanya bahasanya sebelum fit and proper test  ada nama-nama tersebar memang sudah ada lobi-lobi sebelumnya jadi FPT hanya seremonial saja.

Baca Juga:  Kalau Menang Ingin Operasi Matanya yang Tak Bisa Melihat

 

Biasanya satu hari sebelumnya sehari  fraksi-fraksi deal-dealan jadi sat FPT  tinggal mencocokan, kalau cakap jalan. Nah, ketika berbicara  pertimbangan keragaman selain kewilayahan faktor agama. Disukai tidak disukai menjadi pertimbangan. Mengelola pemilu kan aspek culture  ada. Jangan sampai  berbarengan saat hari raya. Walaupun itu tidak terbuka di ruang publik,” paparnya. 

 

Titik lemahnya juga menurut Putu Artha,  Wiarsa sendiri berjuang sendiri. Tidak membentuk tim sukses yang membantu untuk menghadapi lobi-lobi politik yang kuat. Ia membandingkan tak seperti dirinya  dulu yang sudah mempersiapkan tim untuk bertarung merebut kursi komisioner KPU RI periode 2007 -2012.   

 

“Wiarsa mengandalkan dirinya sendiri. Tidak ada tim untuk diajak bergerak sana kesini-kesini,” tandasnya. 

 

Seperti diketahui  Komisi II DPR RI telah ditetapkan sejumlah nama anggota KPU dan Bawaslu RI  periode 2022 sampai 2027 terpilih.

 

Keputusan ini ditetapkan dalam rapat pleno pada Kamis 17  Februari 2022 dini hari. Rapat tersebut digelar setelah selesainya proses fit and proper test kepada para calon anggota. 

Adapun nama komisoner KPU RI terpilih yakni,  Betty Epsilon Idross, Hasyim Asy’ari, Mochamad Afifuddin,  Parsadaan Harahap, Yulianto Sudrajat,  Idham Holik, dan August Mellaz.

Sedangkan komisioner Bawaslu RI yakni, Lolly Suhenty,  Puadi, Rahmat Bagja, Totok Haryono, dan  Herwyn Jefler Malonda.



DENPASAR- Harapan I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi lolos fit and proper test calon komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI asal Provinsi Bali kandas.

 

 

Bahkan, terpental Raka Sandi saat fit and proper test calon anggota KPU RI itu merupakan kegagalan kali kedua.

 

Pertama, mantan ketua KPU Bali gagal saat mengikuti seleksi pada 2017 lalu.

 

Namun meski gagal, nasib Raka Sandi masih beruntung menjadi  pengganti antar waktu (PAW)  menggantikan Wahyu Setiawan yang terjerat kasus suap.

 

Terkait tersingkirnya dirinya dalam test fit and proper, Wiarsa Raka Sandi saat dikonfirmasi hanya menyatakan akan melanjutkan sisa tugasnya sampai April 2022 mendatang.

 

“Saat ini masih fokus menyelesaikan masa tugas di KPU sampai April 2022,” jawabnya singkat. 

 

Sementara itu, Mantan Komisioner KPU RI  I Gusti Putu Artha yang dikonfirmasi terpisah menyayangkan kandasnya Kade Wiarsa Raka Sandi untuk jadi Komisioner KPU RI.

 

Menurutnya, kegagalan dua kali ini memang berdasarkan lobi politik. Wiarsa Raka Sandi tidak kuat dukungan politiknya.

 

Lebih lanjut, Artha menambahkan, jika anggota DPR RI dari dapil Bali juga tidak maksimal mendukung mantan ketua KPU Bali itu. 

 

“Memang keempat belas nama itu memang  kualitasnya rata-rata.  Artinya kompetensinya bagus yang mana menjaminlah kualitasnya.

Baca Juga:  Serempak Copot Enam Ketua Golkar Kabupaten, Demer: Saya Punya Alasan

 

Artinya toh Wiarsa tidak terpilih bukan berarti tidak berkualitas  dia incumbent. Ini titik lemah kepada  persoalan lobi politik. Kelemahannya level lobi politik. Lima tahun lalu terpental,” ucapnya. 

 

” Ketika bicara titik lemah lobi politik juga yang mengambil keputusan  itu kan partai-partai, partai-partai punya pertimbangan tertentu ketika  merekomendasikan seseorang,” lanjutnya. 

 

 

Ia mengatakan, kemungkinan pertimbangan untuk dipilih  adalah dari wilayah yang kantong suaranya besar.

Maka dari itu, Jawa Tengah maupun Jawa Timur kata Artha akan selalu masuk.

 

“Nah ini kan satu risiko dari komisioner dipilih oleh DPR tentu di sana. Pertimbangan politik jadi parameter utama. Bukan yang lain-lain.  Kalau soal integritas Wiarsa luar biasa integritasnya.  Bagus.  Itu sangat  teruji,” ujarnya.  

 

 

Selain itu juga, komposisi susunan  KPU dan Bawaslu  disusun ada pertimbangan representasi wilayah,  mewakili keragaman,  suku dan agama.

 

Karena keberhasilan lobi-lobi juga,  imbuh Artha, ada nama-nama sudah beredar sebelum uji kelayakan  dan kepatutan digelar. 

 

“Makanya bahasanya sebelum fit and proper test  ada nama-nama tersebar memang sudah ada lobi-lobi sebelumnya jadi FPT hanya seremonial saja.

Baca Juga:  PDIP Gencar Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba

 

Biasanya satu hari sebelumnya sehari  fraksi-fraksi deal-dealan jadi sat FPT  tinggal mencocokan, kalau cakap jalan. Nah, ketika berbicara  pertimbangan keragaman selain kewilayahan faktor agama. Disukai tidak disukai menjadi pertimbangan. Mengelola pemilu kan aspek culture  ada. Jangan sampai  berbarengan saat hari raya. Walaupun itu tidak terbuka di ruang publik,” paparnya. 

 

Titik lemahnya juga menurut Putu Artha,  Wiarsa sendiri berjuang sendiri. Tidak membentuk tim sukses yang membantu untuk menghadapi lobi-lobi politik yang kuat. Ia membandingkan tak seperti dirinya  dulu yang sudah mempersiapkan tim untuk bertarung merebut kursi komisioner KPU RI periode 2007 -2012.   

 

“Wiarsa mengandalkan dirinya sendiri. Tidak ada tim untuk diajak bergerak sana kesini-kesini,” tandasnya. 

 

Seperti diketahui  Komisi II DPR RI telah ditetapkan sejumlah nama anggota KPU dan Bawaslu RI  periode 2022 sampai 2027 terpilih.

 

Keputusan ini ditetapkan dalam rapat pleno pada Kamis 17  Februari 2022 dini hari. Rapat tersebut digelar setelah selesainya proses fit and proper test kepada para calon anggota. 

Adapun nama komisoner KPU RI terpilih yakni,  Betty Epsilon Idross, Hasyim Asy’ari, Mochamad Afifuddin,  Parsadaan Harahap, Yulianto Sudrajat,  Idham Holik, dan August Mellaz.

Sedangkan komisioner Bawaslu RI yakni, Lolly Suhenty,  Puadi, Rahmat Bagja, Totok Haryono, dan  Herwyn Jefler Malonda.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/