alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Koster Masuk Bursa Capres 2024 Pilihan PDIP, Ini Respon Aktivis Bali

DENPASAR- Gubernur Bali Wayan Koster kembali menuai sorotan publik. Kali ini, sorotan terhadap orang nomor satu di lingkungan Pemprov Bali itu bukan karena soal kebijakannya.

 

Melainkan, Koster jadi sorotan usai namanya masuk dalam bursa Calon Presiden (Capres) 2024 mendatang pilihan PDI Perjuangan.

 

Hal tersebut terucap dari bibir Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto.

 

Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 15 Oktober 2021, Hasto Krisiyanto menyebut ada sepuluh nama kader PDIP yang berpotensi jadi Capres 2024.

 

Mereka ialah Prananda Prabowo, Puan Maharani, Olly Dodokambey, Ganjar Pranowo, I Wayan Koster, Tri Rismaharini, Djarot Syaiful Hidayat, Abdullah Azwar Anas, Mardani Maming, dan Sultan Riska.

 

Atas masuknya Koster dalam daftar bursa capres versi partai berlambang banteng, Anggota Fraksi PDIP DPRD Bali, Agung Adhi Ngurah Adi Ardana saat dikonfirmasi membenarkan.

 

 

“Penyampaian pak hasto jelas, bahwa PDI Perjuangan memiliki tidak hanya satu kader yang dipandang mampu membumikan ajaran bapak bangsa Bung Karno dalam menjalankan tugasnya sebagai eksekutif,” ujar AAN Adhi Ardhana yang juga menjabat sebagai ketua Komisi III DPRD Bali saat dikonfirmasi, Selasa (19/10/2021).

Baca Juga:  PDIP Terus Benahi Kaderisasi Partai

 

Lebih lanjut, masuknya nama Wayan Koster di tengah deretan nama-nama tokoh PDIP lainnya dalam bursa capres versi PDIP itu karena, ia menduga karena selaku gubernur, Koster dinilai cukup berpihak pada kesejahteraan rakyat yang merata serta tanpa meninggalkan akar adat budaya termasuk lingkungan.

 

“Bagi kami sebagai kader PDI Perjuangan visi Nangun Sat Kertih Loka Bali sudah sangat menyeluruh dalam menghadapi menyelesaikan permasalahan hingga membawa bergerak Bali menjadi lebih baik.

 

Jadi fakta pengakuan ini adalah juga merupakan pengakuan partai atas kerja ideologis yg dilakukan oleh seorang Wayan Koster,” Gung Adhi.

 

Disisi lain, Aktivis Demokraasi di Bali, I Nyoman Mardika selaku Ketua Prodem (Pro Demokrasi) Bali melihat masuknya Koster ke dalam sepuluh nama yang layak jadi capres 2024 dari PDIP adalah sebuah gimik semata. 

Baca Juga:  Oka Gunastawa Lengser, Nasdem Bali Lanjutkan Koalisi dengan Golkar

 

“Itu sekedar gimik saja, supaya ada faktor luar Bali yang bisa dimunculkan. Tidak ada hal yang luar biasa dari apa yang disampaikan Hasto,” ujarnya saat diwawancara radarbali.id.

 

Begitu juga dengan masuknya nama Koster. Bagi Mardika, tidak ada hal yang luar biasa dilakukan oleh Koster.

 

Pun bila tolak ukurnya adalah masalah pandemi, bagi Mardika itu bukan karena masyarakat Bali yang taat atas aturan pusat.

 

“Soal penanganan pandemi yang baik itu dasarnya memang karena masyarakat Bali taat aturan. Bukan karena pada aturan atau leadership Gubernur Koster,” terangnya.

 

Artinya Koster belum layak jadi Capres 2024? 

 

“Itu masih terlalu jauh, kita lihat saja kondisi nanti. Kalau bicara sekarang, Pak Koster dalam memanejemen pemerintahannya saja perlu dievaluasi kembali,” pungkas Mardika 

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR- Gubernur Bali Wayan Koster kembali menuai sorotan publik. Kali ini, sorotan terhadap orang nomor satu di lingkungan Pemprov Bali itu bukan karena soal kebijakannya.

 

Melainkan, Koster jadi sorotan usai namanya masuk dalam bursa Calon Presiden (Capres) 2024 mendatang pilihan PDI Perjuangan.


 

Hal tersebut terucap dari bibir Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto.

 

Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 15 Oktober 2021, Hasto Krisiyanto menyebut ada sepuluh nama kader PDIP yang berpotensi jadi Capres 2024.

 

Mereka ialah Prananda Prabowo, Puan Maharani, Olly Dodokambey, Ganjar Pranowo, I Wayan Koster, Tri Rismaharini, Djarot Syaiful Hidayat, Abdullah Azwar Anas, Mardani Maming, dan Sultan Riska.

 

Atas masuknya Koster dalam daftar bursa capres versi partai berlambang banteng, Anggota Fraksi PDIP DPRD Bali, Agung Adhi Ngurah Adi Ardana saat dikonfirmasi membenarkan.

 

 

“Penyampaian pak hasto jelas, bahwa PDI Perjuangan memiliki tidak hanya satu kader yang dipandang mampu membumikan ajaran bapak bangsa Bung Karno dalam menjalankan tugasnya sebagai eksekutif,” ujar AAN Adhi Ardhana yang juga menjabat sebagai ketua Komisi III DPRD Bali saat dikonfirmasi, Selasa (19/10/2021).

Baca Juga:  Penguatan Desa Adat di Bali, Sri Mulyani; Kalau Saya Mendukung 1000 %

 

Lebih lanjut, masuknya nama Wayan Koster di tengah deretan nama-nama tokoh PDIP lainnya dalam bursa capres versi PDIP itu karena, ia menduga karena selaku gubernur, Koster dinilai cukup berpihak pada kesejahteraan rakyat yang merata serta tanpa meninggalkan akar adat budaya termasuk lingkungan.

 

“Bagi kami sebagai kader PDI Perjuangan visi Nangun Sat Kertih Loka Bali sudah sangat menyeluruh dalam menghadapi menyelesaikan permasalahan hingga membawa bergerak Bali menjadi lebih baik.

 

Jadi fakta pengakuan ini adalah juga merupakan pengakuan partai atas kerja ideologis yg dilakukan oleh seorang Wayan Koster,” Gung Adhi.

 

Disisi lain, Aktivis Demokraasi di Bali, I Nyoman Mardika selaku Ketua Prodem (Pro Demokrasi) Bali melihat masuknya Koster ke dalam sepuluh nama yang layak jadi capres 2024 dari PDIP adalah sebuah gimik semata. 

Baca Juga:  Rektor Undiksha Teriak Minta Pemilu 2024 Tak Ditunda, Ada Apa?

 

“Itu sekedar gimik saja, supaya ada faktor luar Bali yang bisa dimunculkan. Tidak ada hal yang luar biasa dari apa yang disampaikan Hasto,” ujarnya saat diwawancara radarbali.id.

 

Begitu juga dengan masuknya nama Koster. Bagi Mardika, tidak ada hal yang luar biasa dilakukan oleh Koster.

 

Pun bila tolak ukurnya adalah masalah pandemi, bagi Mardika itu bukan karena masyarakat Bali yang taat atas aturan pusat.

 

“Soal penanganan pandemi yang baik itu dasarnya memang karena masyarakat Bali taat aturan. Bukan karena pada aturan atau leadership Gubernur Koster,” terangnya.

 

Artinya Koster belum layak jadi Capres 2024? 

 

“Itu masih terlalu jauh, kita lihat saja kondisi nanti. Kalau bicara sekarang, Pak Koster dalam memanejemen pemerintahannya saja perlu dievaluasi kembali,” pungkas Mardika 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/