alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Polemik Negara Burung Garuda, RK: Terserah Pak Presiden

DENPASAR, radarbali.id- Nama ibu kota negara baru Negara Kesatuan Republik Indonesia, Nusantara semakin akrab di telinga masyarakat. Pemerintah kian serius menggarap rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Terakhir, DPR sudah mengesahkan Undang-Undang Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Nusantara.

 

Berbicara IKN tentu tak lepas dari desain Istana Negara yang dirancang seniman patung asal Bali, I Nyoman Nuarta. Dalam desain itu, Nuarta memvisualisasikan Istana Negara berwujud burung garuda.

 

Banyak pihak angkat bicara menanggapi desain tersebut. Salah satunya datang dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). IAI berpandangan, kriteria bangunan publik tak hanya mengandalkan bentuk dan estetika. Bangunan publik idealnya memenuhi unsur keamanan, dan kesehatan.

Baca Juga:  Soal Nyapres 2024, Kang Emil Ngaku Bidik Parpol Nasionalis

 

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun angkat bicara menanggapi desain Istana Negara berwujud burung garuda.

 

Kang Emil yang sempat mengenyam ilmu arsitektur di Institut Teknologi Bandung dan University of California Berkeley itu menganggap, tidak ada batasan objektif ketika berbicara desain bangunan.

 

“Desain itu subjektif. Selama Pak Presiden suka, terserah Pak Presidennya,” ungkapnya kepada wartawan dalam rangkaian kedinasannya di Bali, Selasa (18/1).

 

Ridwan Kamil yang juga dikenal dengan panggilan RK itu mengatakan, arsitektur adalah peristiwa bersejarah.

 

“Jadi Jakarta hari ini seleranya Bung Karno, kira-kiranya begitu. Tidak perlu dipertanyakan, kenapa Masjid Istiqlal bentuknya begitu, Monas begitu, karena itu selera pemimpin pada zamannya,” ujar mantan Walikota Bandung itu.

Baca Juga:  Survei Indikator Kepemimpinan: Ridwan Kamil Ungguli Anies dan Ganjar

 

RK secara umum tak mempermasalahkan desain Istana Negara Burung Garuda.

 

Secara umum Kang Emil mengatakan, yang terpenting Istana Negara Burung Garuda dapat membanggakan seluruh masyarakat Indonesia.

 

“Karena kita sudah memutuskan secara resmi Ibu kota Indonesia kan pindah. Yang harus dipertanyakan justru, Jakarta setelah ditinggal jadi Ibu kota apa judulnya,” pungkasnya. (arb)

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR, radarbali.id- Nama ibu kota negara baru Negara Kesatuan Republik Indonesia, Nusantara semakin akrab di telinga masyarakat. Pemerintah kian serius menggarap rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Terakhir, DPR sudah mengesahkan Undang-Undang Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Nusantara.

 

Berbicara IKN tentu tak lepas dari desain Istana Negara yang dirancang seniman patung asal Bali, I Nyoman Nuarta. Dalam desain itu, Nuarta memvisualisasikan Istana Negara berwujud burung garuda.


 

Banyak pihak angkat bicara menanggapi desain tersebut. Salah satunya datang dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). IAI berpandangan, kriteria bangunan publik tak hanya mengandalkan bentuk dan estetika. Bangunan publik idealnya memenuhi unsur keamanan, dan kesehatan.

Baca Juga:  Tutup Honda DBL Seri Jabar, Ridwan Kamil Cetak 3 Poin

 

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun angkat bicara menanggapi desain Istana Negara berwujud burung garuda.

 

Kang Emil yang sempat mengenyam ilmu arsitektur di Institut Teknologi Bandung dan University of California Berkeley itu menganggap, tidak ada batasan objektif ketika berbicara desain bangunan.

 

“Desain itu subjektif. Selama Pak Presiden suka, terserah Pak Presidennya,” ungkapnya kepada wartawan dalam rangkaian kedinasannya di Bali, Selasa (18/1).

 

Ridwan Kamil yang juga dikenal dengan panggilan RK itu mengatakan, arsitektur adalah peristiwa bersejarah.

 

“Jadi Jakarta hari ini seleranya Bung Karno, kira-kiranya begitu. Tidak perlu dipertanyakan, kenapa Masjid Istiqlal bentuknya begitu, Monas begitu, karena itu selera pemimpin pada zamannya,” ujar mantan Walikota Bandung itu.

Baca Juga:  Jadi Relawan, Kang Emil Ajak Masyarakat Ikut Uji Klinis Vaksin Covid

 

RK secara umum tak mempermasalahkan desain Istana Negara Burung Garuda.

 

Secara umum Kang Emil mengatakan, yang terpenting Istana Negara Burung Garuda dapat membanggakan seluruh masyarakat Indonesia.

 

“Karena kita sudah memutuskan secara resmi Ibu kota Indonesia kan pindah. Yang harus dipertanyakan justru, Jakarta setelah ditinggal jadi Ibu kota apa judulnya,” pungkasnya. (arb)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/