alexametrics
26.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Kutu Loncat? Tinggalkan Golkar saat Baru Masuk, Ini Kata Artha Dipa

DENPASAR – Kembali terpilih menjadi wakil bupati Karangasem, politisi I Wayan Artha Dipa bisa disebut sebagai kader kutu loncat.

Sebutan itu muncul setelah dirinya mengantongi KTA PDI Perjuangan. Pengumuman Artha Dipa jadi kader PDI Perjuangan diumumkan langsung Ketua Umum PDIP Wayan Koster.

Sebagaimana diketahui, sebelum menjadi kader PDIP, Artha Dipa adalah seorang birokrat di Pemkab Karangasem.

Artha Dipa mulai menjadi kader Golkar pada tahun 1977. Pada tahun 1982-1995, ia menjadi penatar partai Golkar.
Saat maju pada periode pertama, Artha Dipa berstatus kader NasDem. Namun, pada akhir 2019, ia tinggalkan NasDem dan kembali bergabung dengan Golkar.

Jabatan terakhirnya di NasDem adalah Ketua Dewan Penasihat DPW Partai Nasdem Provinsi Bali.

Sempat kembali ke pelukan sang mantan yakni ke Golkar pada 23 November 2019, kini pria berkumis ini sudah menjadi kader PDI Perjuangan

Dikonfirmasi terpisah, Artha Dipa membenarkan pernyataan Koster tersebut. Ia secara resmi menjadi kader PDI Perjuangan sesaat setelah pencoblosan Pilkada pada 9 Desember 2020 lalu.

KTA diberikan oleh DPC PDI perjuangan Karangasem. “Habis pencoblosan, dapat (KTA) dari DPC,” ujar Artha Dipa.
Artha Dipa mengaku sudah mundur dari partai Golkar, begitu dirinya memutuskan mundur dari penjaringan bakal calon kepala daerah di internal Golkar.

Artha Dipa sendiri mundur dari penjaringan bakal calon di partai Golkar pada Januari 2020, kurang lebih dua bulan setelah menyatakan diri bergabung kembali ke partai Golkar.
Lebih lanjut ia  mengaku sampai saat ini belum ditawari untuk masuk struktur ke pengurusan PDI Perjuangan.

Perihal jabatan di struktur partai, dia serahkan keputusannya kepada Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali Wayan Koster.
Untuk diketahui, menyambut perhelatan Pilkada Serentak di Bali tahun 2020 lalu, Artha Dipa berniat maju sebagai calon bupati.

Konsekuensinya, dia pecah kongsi dengan Mas Sumatri. Ia pun memburu rekomendasi di Partai Golkar. Berpaling dari partai sebelumnya untuk memuluskan jalan mendapat rekomendasi .

Sayang di Golkar, Artha Dipa tak mendapatkan sesuai harapan ketika ikut penjaringan bakal calon kepala daerah di internal Golkar.

Dua bulan kemudian, Artha Dipa mengundurkan dari dari penjaringan di internal Golkar itu.  Informasi yang beredar,  Artha Dipa merasa rekomendasi tidak jatuh kepadanya. 

Hal itu terbukti rekomendasi Golkar  jatuh pada kader sendiri yakni Made Sukerana, sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Mas Sumatri.

Artha Dipa pada akhirnya menerima pinangan PDI Perjuangan sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Gede Dana, dan memenangkan tarung Pilkada Karangasem tersebut.



DENPASAR – Kembali terpilih menjadi wakil bupati Karangasem, politisi I Wayan Artha Dipa bisa disebut sebagai kader kutu loncat.

Sebutan itu muncul setelah dirinya mengantongi KTA PDI Perjuangan. Pengumuman Artha Dipa jadi kader PDI Perjuangan diumumkan langsung Ketua Umum PDIP Wayan Koster.

Sebagaimana diketahui, sebelum menjadi kader PDIP, Artha Dipa adalah seorang birokrat di Pemkab Karangasem.

Artha Dipa mulai menjadi kader Golkar pada tahun 1977. Pada tahun 1982-1995, ia menjadi penatar partai Golkar.
Saat maju pada periode pertama, Artha Dipa berstatus kader NasDem. Namun, pada akhir 2019, ia tinggalkan NasDem dan kembali bergabung dengan Golkar.

Jabatan terakhirnya di NasDem adalah Ketua Dewan Penasihat DPW Partai Nasdem Provinsi Bali.

Sempat kembali ke pelukan sang mantan yakni ke Golkar pada 23 November 2019, kini pria berkumis ini sudah menjadi kader PDI Perjuangan

Dikonfirmasi terpisah, Artha Dipa membenarkan pernyataan Koster tersebut. Ia secara resmi menjadi kader PDI Perjuangan sesaat setelah pencoblosan Pilkada pada 9 Desember 2020 lalu.

KTA diberikan oleh DPC PDI perjuangan Karangasem. “Habis pencoblosan, dapat (KTA) dari DPC,” ujar Artha Dipa.
Artha Dipa mengaku sudah mundur dari partai Golkar, begitu dirinya memutuskan mundur dari penjaringan bakal calon kepala daerah di internal Golkar.

Artha Dipa sendiri mundur dari penjaringan bakal calon di partai Golkar pada Januari 2020, kurang lebih dua bulan setelah menyatakan diri bergabung kembali ke partai Golkar.
Lebih lanjut ia  mengaku sampai saat ini belum ditawari untuk masuk struktur ke pengurusan PDI Perjuangan.

Perihal jabatan di struktur partai, dia serahkan keputusannya kepada Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali Wayan Koster.
Untuk diketahui, menyambut perhelatan Pilkada Serentak di Bali tahun 2020 lalu, Artha Dipa berniat maju sebagai calon bupati.

Konsekuensinya, dia pecah kongsi dengan Mas Sumatri. Ia pun memburu rekomendasi di Partai Golkar. Berpaling dari partai sebelumnya untuk memuluskan jalan mendapat rekomendasi .

Sayang di Golkar, Artha Dipa tak mendapatkan sesuai harapan ketika ikut penjaringan bakal calon kepala daerah di internal Golkar.

Dua bulan kemudian, Artha Dipa mengundurkan dari dari penjaringan di internal Golkar itu.  Informasi yang beredar,  Artha Dipa merasa rekomendasi tidak jatuh kepadanya. 

Hal itu terbukti rekomendasi Golkar  jatuh pada kader sendiri yakni Made Sukerana, sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Mas Sumatri.

Artha Dipa pada akhirnya menerima pinangan PDI Perjuangan sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Gede Dana, dan memenangkan tarung Pilkada Karangasem tersebut.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/