Jumat, 20 Jul 2018
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Bandara Ngurah Rai Terdampak Erupsi, Waktunya Optimalkan Jalur Laut

Minggu, 10 Dec 2017 20:45 | editor : ali mustofa

gunung agung, aktivitas seismik, pipa magma, pariwisata bali

JALUR LAUT: Selain jalur udara dan darat, jalur laut bisa dimanfaatkan untuk evakuasi, maupun lalu lintas wisatawan (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

DENPASAR – Usulan menarik disampaikan Komisi III DPRD Bali terkait buka tutup Bandara Ngurah Rai akibat erupsi Gunung Agung.

Pariwisata di Bali bisa memanfaatkan jalur laut untuk menambal ancaman menurunnya kunjungan turis asing lewat jalur udara.

Salah satu potensi jalur laut yang bisa digenjot yakni mendatangkan wisatawan menggunakan cruise atau kapal pesiar.  

“Seperti sekarang sudah sempat lumpuh. Tapi kalau seandainya harbour cruise (pelabuhan pesiar) internasional, maka (erupsi Gunung Agung) tidak menjadi persoalan,” ujar Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nengah Tamba, kemarin (9/12).

Ditegaskan Tamba, pemerintah pusat dan daerah perlu memikirkan rencana pemetaan pelabuhan-pelabuhan yang ada.

Dia mencontohkan di Bali ada dua tempat yang cocok untuk pelabuhan cruise. Yakni pelabuhan di Benoa, Denpasar, dan pelabuhan di Celukan Bawang, Buleleng.

Dua pelabuhan tersebut harus bisa dioptimalkan dengan membenahi dan melengkapi infrastruktur pendukung. Termasuk pelayanan, SDM, infrastruktur dan teknologinya.

Pasalnya, pelabuhan cruise internasional harus bisa memberikan kenyamanan, kebersihan, dan keamanan. Apalagi, turis yang menggunakan kapal pesiar didominasi turis berkantong tebal.

Tamba yakin, dengan mengoptimalkan pelabuhan di Celukan Bawang dan Benoa, wisatawan mancanegara tetap bisa datang ke Bali melalui jalur laut dengan kapal pesiar atau cruise.

“Kami sudah sidak 6 bulan lalu di Celukan Bawang. Ternyata di Celukan Bawang juga bisa bersandar cruise dengan panjang 300 meter. Ini tentu bisa dimanfaatkan,” jelas politikus asal Jembrana itu. 

(rb/san/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia