Sabtu, 21 Jul 2018
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Berbagi di Istana Para Kuli, Novel Perdana Cerpenis Yahya Umar

Rabu, 14 Mar 2018 15:45 | editor : ali mustofa

yahya umar, novel perdana, istana para kuli

NOVEL PERDANA: Novel Istana Para Kuli dan sang penulis Yahya Umar (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

DENPASAR – Cerpenis senior asal Singaraja, Yahya Umar membagikan kisah hidupnya kepada khalayak.

Kisah itu dikemas dalam sebuah novel berjudul: Istana Para Kuli, Sebuah Kisah Nyata. Novel setebal 229 halaman terbagi dalam 30 bab itu memuat kisah inspiratif

perubahan drastis kehidupan di Desa Muara, sebuah desa yang berada di pesisir Kabupaten Bangkalan, Madura.

Gaya penulisan bertutur dan bahasa yang renyah, serta alur cerita yang runut membuat novel ini mudah dicerna.

Bahkan novel ini sempat jadi bahan skripsi seorang mahasiswa sebuah kampus di Jember, Jawa Timur.

“Sebenarnya tidak ada yang spesial dalam novel saya. Novel ini hanya mengisahkan pengalaman hidup saya di desa sampai merantau ke Bali, Jakarta dan balik lagi ke Bali,” ujar Yum – sapaan akrab Yahya Umar.

Yum bersyukur jika novelnya bisa diterima khalayak. Apa isi novel Istana Para Kuli? Dijelaskan, novel yang dirilis Mei 2016 itu menceritakan kehidupan di Desa Muara yang sebagain besar masyarakatnya bermata pencaharian nelayan.

Warga Desa Muara hidup sederhana dan sangat taat beragama. “Namun, kehidupan desa saya mulai berubah sejak Kak Ene, kakak sepupu saya merantau ke Malaysia pada 1980-an,” tutur pria kelahiran 25 September 1968.

Walau di Negeri Jiran hanya bekerja sebagai buruh bangunan alias kuli, Kak Ene berhasil memperbaiki kesejahteraan keluarganya di Desa Muara.

Kak Ene yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) itu bahkan berhasil membuat rumah gedongan besar, megah, mewah dan paling mentereng di kampung.

Rumah itu adalah “istana” pertama yang dibangun di Desa Muara. Keberhasilan Kak Ene itu akhirnya menginspirasi pemuda lainnya di Desa Muara untuk menjadi TKI di Malaysia.

Tak masalah bekerja sebagai kuli bangunan asal bisa memperbakiki taraf hidup serta membangun “istana”. Impian itu terwujud.

Rumah-rumah bedeng dan semi permanen akhirnya berubah menjadi “istana” megah. “Istana” para kuli. Sayangnya, keberhasilan itu bertolak belakang dengan kehidupan agamis di Desa Muara.

Musala-musala yang dulu ramai dengan suara pemuda mengaji kini menjadi sepi. Perahu-perahu nelayan dijual untuk biaya berangkat menjadi TKI ke Malaysia.

“Bisa dikatakan pemuda di desa saya mengalami degenerasi,” tukas pria berkacamata itu. Hanya Yum beserta ibunya dan segelintir keluarganya yang tetap bertahan tidak terseret arus merantau ke Malaysia.

Yum dan keluarganya menilai sekolah tinggi hingga SMA, syukur-syukur bisa kuliah lebih penting daripada menjadi TKI di Malaysia.

Hingga akhirnya warga Desa Muara bangga dengan Yahya Umar yang berhasil kuliah. Warga semakin bangga karena Yahya Umar berhasil mempersunting dosen di salah satu kampus negeri ternama di Bali.

Yahya Umar yang memilih jalan hidup sebagai wartawan juga kerap menjadi buah bibir karena sering muncul di siaran berita televisi pada akhir orde baru.

Yahya Umar mewawancarai langsung sejumlah tokoh penting rezim orde baru. Sekarang ini di Desa Muara, jejak langkah Yum banyak menginspirasi anak muda.

Mereka berlomba sekolah tinggi untuk menggapai cita-cita. “Saya tidak ingin menggurui siapapun, saya hanya ingin berbagi pengalaman melalui tulisan,” tukasnya.

Selanjutnya, Yum tengah menyiapkan sebuah novel yang judulnya masih dirahasiakan. Pria penggemar berat raja dangdut Rhoma Irama itu juga aktif menulis puisi.

Salah satu puisinya yang romantis berjudul: Cinta Tak Pernah Menua.

(rb/san/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia