Jumat, 21 Sep 2018
radarbali
icon featured
Ekonomi

Pemudik Diprediksi Naik, Organda: Lonjakan Penumpang H-3 Lebaran

Kamis, 17 May 2018 13:41 | editor : ali mustofa

organda bali, mudik lebaran, lonjakan penumpang

SEPI: Aktivitas kendaraan dan penumpang di Terminal Ubung (Adrian Suwanto/Radar Bali)

DENPASAR – Lebaran Idul Fitri masih jauh. Masih sebulan lagi. Namun, persiapan sudah dilakukan Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali untuk menyambut momen itu.

Terutama menyiapkan moda transportasi yang layak untuk para calon pemudik. Ketua DPD Organda Bali I Ketut Eddy Dharma Putra mengungkapkan, Organda sudah menyiapkan bus AKAP.

Termasuk bus cadangan untuk para pemudik yang akan pulang kampung. “Tapi, biasanya bus cadangan ini baru akan dioperasikan, setelah semua bus yang biasanya beroperasi tiketnya terjual,” ujar Eddy Dharma Putra.

Terkait peningkatan penumpang, pihaknya memprediksi akan terjadi lonjakan pada H-3 Lebaran.

Namun, karena cuti bersama dimajukan, lonjakan penumpang kemungkinan akan terjadi sebelum itu. “Tapi kebanyakan PNS, kalau karyawan swasta biasanya lonjakan pada H-3 itu,” katanya.

Dari tahun ke tahun, jumlah pemudik yang akan menggunakan jasa bus mengalami peningkatan 5 persen.

Meski, saat ini tidak sedikit pemudik menggunakan kendaraan pribadi dari mobil dan juga sepeda motor. Namun, jumlah pendatang di Bali juga terus mengalami peningkatan.

“Jasa penyewaan mobil biasanya akan naik saat itu,” bebernya. Mengenai tarif, kata dia, untuk bus ekonomi mengacu pada Permenhub Nomor 36 Tahun 2016.

Di mana saat terjadi lonjakan penumpang seperti arus mudik dan balik ditetapkan tarif batas atas Rp 155 rupiah per kilo meter.

“Tinggal dikalikan saja nanti, berapa jauh tempat tujuannya. Nanti ketemu tarif berapa,” paparnya. Sementara untuk non ekonomi masih mengacu pada tahun-tahun sebelumnya.

Kenaikan tarif angkutan AKAP non ekonomi pada arus mudik tahun lalu mencapai 30 persen. Kenaikan tarif angkutan saat arus mudik ini bukan tanpa alasan.

Saat bus mengangkut penumpang dari Denpasar ke Jawa dengan jumlah full seat, maka saat bertolak dari Jawa ke Bali akan mengalami kekosongan penumpang.

Jadi untuk menanggulangi kerugian ini makanya saat arus mudik dinaikkan tarif bus nya. “Ini untuk menutupi biaya operasional bus, saat bertolak dalam kondisi sepi. Jadi perusahaan bus tidak merugi,” pungkasnya. 

(rb/zul/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia