Senin, 10 Dec 2018
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

VIRAL! Video Ismaya Diborgol di Mako Brimob Bikin Heboh Netizen

15 November 2018, 22: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Keris, Ormas, Mako Brimob, Polda Bali, Video Ismaya, Premanisme, Calon DPD RI Dapil Bali, Pileg 2019, Pemilu 2019,

BIKIN HEBOH : Salah satu cuplikan video Ketut Ismaya di Sel Mako Brimob Tohpati (Marcello Pampure)

DENPASAR-Warga net dan pengguna media social kembali dihebohkan dengan video viral I Ketut Putra Ismaya Jaya,40. Setelah heboh video berdurasi 3 menit 30 detik tentang permintaannya yang meminta bantuan kepada pengacara kondang Hotman Paris.

Belakangan, pentolan salah satu ormas di Bali, ini kembali jadi pusat perhatian pengguna medsos dan netizen.

Heboh warga net ini yakni tentang video calon anggota DPD RI Dapil Bali dalam kondisi tangan dan kaki terborgol di sel maksimum security Mako Brimob Tohpati.

Dalam video yang diduga direkam sendiri oleh pria yang akrab disapa Keris itu, berlatar belakang jeruji besi. Dalam rekaman video, Ismaya yang mengenakan celana pendek dan baju kaos berwarna merah bercorak hitam itu sempat menunjukkan posisi kaki dan tangannya yang terborgol dan dirantai.

Isinya :

"Om swastyastu salam NKRI. Ini hari terakhir saya berada di markas brimob Tohpati dalam kondisi seperti ini (sembari menunjukan tangan dan kakinya yang di borgol)," ujar keris di awal video tersebut.

Dalam video itu, Keris mengatakan bahwa hari itu adalah hari terakhir dirinya berada di Markas Brimob sebelum akhirnya dilimpahkan ke kejaksaan.

Setelah mengucap salam, Keris dengan kaki dan tangan yang diborgol membicarakn banyak hal.

Dia mengatakan bahwa keadaan yang diterimanya itu tidaklah manusiawi.

Dia seperti sedang menyayangkan tindakan aparat kepadanya yang dianggapnya berlebihan.

Dia mengatakan bahwa saat kegiatan IMF berlangsung di Bali, dia tidak pernah angkat bicara.

Itu dilakukannya agar Bali tetap aman dan menjadi tujuan pariwisata.

Keris berujar bahwa jika saat itu dia berteriak menuntut hak asasinya, mungkin delegasi dari semua negara yang hadir akan kecewa mekihat seorang pejabat tinggi yang dianggap suci dan benar memperlakukan seorang nanusia secara tidak manusiawi.

Dalam penjelasannya itu, Keris tidak menyebut siapa pejabat yang dia maksud.

"Saya bukan penjajah, bukan teroris, saya bukan menganiaya orang. Saya bukan mukul orang. Tuhan ada dimana Tuhan, siapa Tuhan. Ketika diperlakukan seperti ini seolah-olah saya ini bukan warga Indonesia," ujar Keris dengan kalimat terbata bata. Dia sepertinya sangat menyayangkan tindakan aparat yang memperlakukannya selama di dalam tahanan yang dianggapnya tidak manusiawi.

Bahkan dia membandingkan perlakuan yang diterima dirinya dengan binatang anjing. Dia berujar bahwa binatang seperti anjing saja saat berada di dalam kerangkeng, maka rantai ikatannya akan dilepas. Tapi yang diterimanya malah sebaliknya.

"Saya begini (menunjukan kaki tangan yang diborgol). Tidak boleh pakai alas apapun (saat tidur). Tidak boleh berbicara pada siapaun. Makan dua kali satu hari dan borgol dua kali dibuka pagi dan sore saat mandi," beber Keris di Video itu.

Meski demikian, dia mengaku iklas menerima itu semua. "Hargailah kami sebagai ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Menciptakan manusia bukan untuk diperlakukan seperti ini. Pengacara pun keluarga atau siapaun tidak boleh ketemu dengan saya," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa cukuplah dia saja menerima perlakuan yang kejam seperti itu.

Dia juga sempat menyanjung-nyanjung kinerja Jokowi di dalam video itu. Dia menyebut jika Jokowi adalah sosok yang memperjuangkan NKRI.

"Saya ingin tidak ada lagi seperti ini. Indonesia haruslah damai. Saya cinta pak Jokowi. Saya ingin pak Jokowi dua periode. Karena dia orang yang memperjuangkan NKRI," imbuh Keris.

Di akhir videonya dia berpesan agar manusia lebih takut kepada Tuhan. Jangan takut kepada penguasa. 

Kontan, dengan adanya video itu, banyak komentar beragam dari netizen. Termasuk salah satunya pertanyaan mengapa di sel seketat Mako Brimob seorang tahanan bisa membawa ponsel dan merekam.

(rb/mar/pra/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia