Senin, 17 Dec 2018
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Lengser Keprabon, Agenda Kesenian Eks Gubernur Pastika Akhirnya Tamat

06 Desember 2018, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

eks gubernur pastika, bali mandara nawanatya, bali mandara mahalango, gubernur koster

WARISAN PASTIKA: Salah satu penampilan kesenian di Bali Mandara Nawanatya beberapa waktu lalu. (dok.radarbali)

DENPASAR - Tidak hanya rencana pergantian nama untuk Tol Bali Mandara yang santer terdengar.

Agenda kesenian yang mewadahi kreativitas seni budaya seperti Bali Mandara Nawanatya dan Bali Mandara Mahalango yang digagas sejak tahun 2016 dipastikan dihapus.

Pementasan Bali Mandara Mahalango yang dihelat usai even Pesta Kesenian Bali (PKB) dan Bali Mandara Nawatya yang berlangsung tiap akhir pekan ini menjadi pertunjukan terakhir yang berlangsung pada pekan ini.

Pengamat kesenian Prof. Dr. I Made Bandem membenarkan rencana penghapusan Bali Mandara Mahalango dan Bali Mandara Nawanatya tahun mendatang.

Untuk mengganti itu, Gubernur Koster akan membuat agenda lain. Prof Bandem membeberkan, untuk even Pentas Kesenian Bali (PKB) nantinya akan dikemas dengan konten kesenian tradisional klasik.

Dalam even tersebut juga akan diisi dengan tarian kreasi dan pengembangan dari seni tradisi yang ada di Bali. “Jadi full seni tradisi klasik yang ditampilkan. Tidak dicampur,” tuturnya.

Pun dengan peserta dari luar daerah yang selama ini mendapat undangan untuk tampil dalam ajang PKB akan ikut menyesuaikan tema yang ditentukan.

Untuk mengganti agenda Bali Mandara Mahalango dan Bali Mandara Nawanatya akan dibuat agenda kesenian masa kini.

Kesenian yang ditampilkan tersebut akan diisi oleh kesenian-kesenian kontemporer, seni yang tidak tampil di agenda sebelumnya bisa tampil di ajang ini.

Disinggung mengenai lamanya agenda, dia belum mengetahui detail terkait rencana ini. “Mungkin akan dibuat lebih pendek. Tidak setahun. Mungkin sekitar tiga mingguan,” terang Bandem.

Disinggung apakah, penghapusan agenda ini bermuatan politis, pria asal Singapadu ini tidak melihat hal tersebut sebagai muatan politis.

Menurutnya, kebijakan yang dilakukan Koster agar agenda kesenian di Bali tidak monoton. “Seniman dalam hal ini, yang penting ada wadah berkreasi. Jadi mereka (para seniman) akan tetap hidup,” jelasnya.

(rb/zul/yor/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia