Selasa, 26 Mar 2019
radarbali
icon featured
Sportainment

Bali Sold Out, Pembuktian Made Bayak Publik Space di Bali Terjual

11 Januari 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

bali sold out, made bayak, seniman bali, publik space, bali terjual

Made Bayak menunjukkan karyanya berjudul Bali Sold Out di Pantai Double Six, Seminyak (Istimewa)

MANGUPURA - Seniman plasticology Made Bayak kembali membuat gebrakan. Kali ini dia menghadirkan sebuah karya gambar berukuran 2X3 meter.

Isu yang diangkat berkaitan dengan isu sosial. Dia mengambarkan pulau Bali yang sold out, alias terjual oleh kepentingan investasi.

Bayak membuat sebuah gambar tentang bentuk pulau Bali yang dicorat-coret dengan tulisan sold out bertinta hitam. Makna hitam, sebagai simbolis pulau Bali habis terjual. 

“Ini sebuah bentuk protes. Di mana sekarang ini, investasi semakin menjadi-jadi. Semua sudah terjual. Invetasi yang berlebihan namun lupa dengan isu sosial,” jelas Bayak, kemarin.

Dalam peta pulau Bali yang tercoret penuh dengan tulisan sold out warna hitam, dibagian akhir, Bayak menulis kata “It Fuck’n Sold” dengan tinta putih.

“Endingnya memang sarkas. Tinta putih ditulisan akhir tersebut sebagai sebuah titik jenuh, karena semua sudah habis terjual,” ujar pria asal Gianyar tersebut.

Sejatinya, karya tersebut dibuat dalam rangkaian syuting film dokumenter oleh mahasiswa S2. Bayak, mendapatkan bagian bertema Happening Art di ruang publik.

“Sebenarnya, mahasiswa ini mau mengajak saya dalam video dokumenter saat saya di Belanda. Namun, saat itu kameramenya mereka berhalangan,” bebernya.

Nah, kebetulan mereka datang ke Bali. Akhirnya, syuting video dokumenter tersebut berlanjut dan Bayak pun membuat karya dengan mengambil tempat di Pantai Double Six, Legian, Badung, pada Rabu (9/1) siang.

Menariknya, Bayak memang sengaja mengambil area pantai untul membuktikan, apakah masih menjadi ruang publik atau tidak.

“Sekalian saya sambil test, masih ada nggak publik space. Dan ternyata, saat syuting di pantai, kami dicari securty,” ungkapnya.

Pihaknya diminta untuk mengurus izin dan sebagainya di sebuah kantor yang ada di Legian. “Ini kan pantai. Artinya, tidak ada lagi publik space.

Kami juga di usir-usir oleh pemilik tenda untuk rebahan tersebut. Akhirnya kami pindah ke bibir pantai,” herannya.

“Tidak ada lagi publik space. area umum sudah tidak ada. Mereka merasa sebagai pemilik lahan pantai,” pungkasnya.

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP