Kamis, 14 Nov 2019
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Lima Korban Mucikari di Sanur Bali Ingin Segera Dipulangkan Ke Bekasi

12 Januari 2019, 17: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

psk ABG, p2tp2A Denpasar, prostitusi ABG, pria hidung belang, Polda Bali, lokalisasi sanur, kasus mucikari, ABG Bekasi,

ilustrasi (Dok. Jawapos.com)

Share this      

DENPASAR-Cerita miris dan curahan hati (curhat) yang bikin ngelus dada masih keluar dari lima korban eksploitasi seksual di salah satu mesa tau rumah bordir di kawasan lokalisasi di Jalan Sekar Waru 3B Sanur, Denpasar, Bali.

Sejak melarikan diri dari perangkap dua mucikari, yakni Ni Komang Suciwati alias Bu Komang Suci, 49, dan Ni Wayan Kristiani alias Mami Wayan ,51, para korban masing-masing, Bunga  17, Mawar 14, Melati 14, Tulip, 15, dan Anggrek, 16 (bukan nama sebenarnya) hingga kini masih ditampung di rumah aman di Tabanan.

Kelimanya masih mendapat pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar

Meski masih dilakukan pendampingan dan sudah ditampung di rumah aman, para korban ini masih banyak yang mengalami trauma dan gelisah.

Kegelisahan lima korban, ini karena mereka berharap selain bisa segera dipulangkan ke kampung halamannya di Bekasi, Jawa Barat, para korban juga ingin agar mereka bisa kembali hidup secara normal.

Seperti dibenarkan Ketua P2TP2A Denpasar Luh Putu Anggraeni, Sabtu (12/1).

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Anggraeni tak menampik dengan banyaknya harapan para korban agar mereka bisa segera dipulangkan.

“Mereka berharap ingin segera bisa dipulangkan. Hanya saja, kami belum tahu secara pasti kapan mereka akan dipulangkan ke Bekasi,”terang Putu Anggraeni.

Meski begitu, atas keinginan korban, Putu Anggraeni mengatakan jika P2TP2A Denpasar sudah melakukan upaya dengan berkoordinasi ke Dinas Sosial.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial tentang hal itu,”tambahnya.

Menurutnya, meski diakui sangat berat, lanjut Anggraeni, hal terpenting di tengah harapan mereka ingin pulang adalah dengan mempersiapkan diri bagi para korban untuk bisa lebih siap menjalani kehidupan normal ketika mereka kembali ke kampung halamannya.

” Jadi sambil menunggu proses pemulangan, hal penting yang bisa kami lakukan adalah bagaimana mempersiapkan mereka untuk siap menjalani kehidupan normal setelah ini,”tandasnya.

(rb/pra/mar/mus/JPR)

 TOP